Tuesday, November 15, 2011

YOGYAKARTA.... tempat ku pengin pulang dan pulang lagiiiii....


Friday, May 15, 2008……………………………………………. Revision in June 2008

Yogyakarta
 By: Kla Project
                                                                        Cipt: Katon Bagaskara & Andre Manika

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku, bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di Persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera,
orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri ditelan deru kotamu

Walau kini kau t’lah tiada dan kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Biar hati mulai sepi tanpa terobati


Terimakasih Mas Katon n Mas Andre Manika, lagunya bagus bgt. Rasanya beda bgt denger lagu ini setelah jauh dari Jogja. Jadi merinding, jadi inget Jogja, jadi pengin kesana. Jogja, biarpun klo siang panas bgt, tapi suasana malamnya ngangenin banget. Tiap jalan pasti ga kerasa tau2 udah jam 10 mlm, dah waktunya pulang. Klo ga bentar lagi HP pasti bunyi terus, ‘mau pulang ga?’, klo dah kemaleman ayahku suka ga bolehin pulang, mending nginep tempat Ita, sohibku, maklum rumahku lumayan jauh, suka khawatir klo kenapa2 di jalan. Klo jalan ma temen yg rumahnya searah ya harus pulang, dianter mpe rmh.

Semalam apa pun klo laper, pengin cari makan, gampang. Banyak lesehan mpe pagi. Cari makanan apa aja ada n enak2 kecuali 1x pas lg apes, hbs Lebaran pd tutup dpt seadanya… tyt ga enak bgt…. Pengalaman pahit… ga lg2 deh kesana. Tiap pulang pasti pengin makan ini itu, pada akhirnya pasti ada yg kelewat, karena ga bisa semua keturutan. He kasihan ibu, suka masakin makanan kesukaanku, tapi akunya suka ga sempat makan, dah kenyang makan di luar, akhirnya cuma ngicipin aja sesendok dua sendok. Klo ga dah buru2 ngejar kereta dah ga da waktu lg u makan, akhrnya mpe Bdg nyesel, kenapa kmrn ga makan masakan Ibu ya. He, klo sekarang kayanya Ibu ga akan sempet lg masakin makanan kesukaanku, jd super sibuk, kegiatannya seabreg.

Yogyakarta, aku merinding bgt denger lagu itu saat terjadi gempa di Yogya 2 th yg lalu, rasanya jadi pengin nangis, palagi radio ma TV jadi sering muter lagu itu sehabis gempa. Ga nyangka Jogja yang terkenal adem ayem bisa ngalami seperti itu. Yah, kita jadi belajar, harus siap sewaktu-waktu. Kehendak-Nya tidak ada yang tahu.
Pagi itu jam 5.30 sohibku sms, Jogja gempa, pada kaget semua, lumayan kenceng. Habis itu rumahku juga sms ngabarin klo Jogja kena gempa, pada keluar semua. Aku rada khawatir, tapi pikirku gempa biasa, sebelum2nya juga sempet ada gempa kecil dari Gunung Merapi. Emang Gunung Merapi mau meletus lagi pa ya, pikirku. Sampe kantor ga da firasat apa2. Temenku yg orang Klaten kelihatan khawatir bgt, cerita keluarganya blm bs dihubungi. Aku lancar2 aja sms-an ma keluargaku n tmnku. Indosat ga terganggu sinyalnya. TOP deh.

Kebeneran waktu itu di TV nyiarin gempa di Jogja. Dan aku baru ngeh, tyt gempa yang dahsyat. Banyak sekali korban yang meninggal. Banyak gedung dan rumah yang porak-poranda. Separah inikah? Jogjaku!.
Khawatir dengan keluargaku, apalagi Ibuku 1 minggu baru pulang dari RS, habis operasi. Ku telp. Mereka bilang gapapa. Puji Tuhan, semua selamat. Rumah gapapa, cuma dapur belakang ambruk rata tanah, depan retak2 dikit. Tetangga ada beberapa yang rumahnya rata tanah. Dan untunglah pagi itu, nenekku yang biasanya pagi2 sudah sibuk di dapur, hari itu sedang tidak enak badan, jadi tidak memasak seperti biasa. Ibuku, waktu kejadian, katanya sedang di kamar mandi, Si Week ma Nick langsung berlari nyamperin ibu, menuntunnya keluar. Kata Ibu, Ibu pegangan ke tembok, sambil bilang ‘Kukuh bakuh kukuh bakuh.’ Si Nick saking paniknya, buka kunci pintu jadi susah banget, akhirnya bisa keluar juga. Ada yang terlupa, setelah gempa usai, tyt pada lupa, kakekku lupa ga dibangunin, masih di dalam rumah. Untung tidak apa2. Kalau ingat itu, semua tertawa, kakekku kok bisa kelupaan.

Temanku pada susah di telp, cuma bs sms-an. Puji Tuhan, mereka semua selamat, rumahnya sedikit retak2. Kecuali temanku di Klaten, di sana gempanya parah, rumahnya rata tanah, tapi untung semuanya selamat. Katanya,’Rumah ambruk gapapa, yang penting semua selamat, harta bisa dicari.’
Ya, memang waktu itu gempanya bergelombang, rumah yang rata tanah berselang-seling, dan kebanyakan rumah yang sudah tua.

Jaringan listrik mati semua, komunikasi cuma bisa via sms, untuk telp jaringan online terus. Jaringan Telkomsel waktu itu susah banget dihubungi. Temanku ada yg mpe nangis, keluarganya belum bisa dihubungi. Rata2 di kantorku banyak orang Jogja-Klaten. Jadi maklum kalau sudah tahun ke-5 di Bandung, ga bisa bhs Sunda n medhoknya ga ilang2. Sungguh, hari itu suasana di kantor jadi penuh kepanikan dan kekhawatiran. Di rumah untung ada radio dengan tenaga baterai, jadi tetap bisa update berita.

Temanku seruangan kebeneran lagi di Yk, dia ikut merasakan gempa Jogja. Kutelepon dia, katanya gapapa, rumahnya retak dikit. Aku seminggu sebelumnya baru dari Yk, menunggu operasi Ibuku, 2 malam tidur di Rumah Sakit. Dan sungguh, Tuhan sudah mengatur semua. Ibuku bisa pulang dari RS lebih cepat, dan saat gempa terjadi Ibu sedang dalam masa pemulihan. Kalau masih di RS, mungkin ibu tidak akan tertangani dengan baik, karena kepanikan yang luar biasa akibat gempa dan terbatasnya ruang perawatan sehingga halaman RS pun dipakai untuk merawat para korban.

Sempat ada issue, ada Tsunami dari Laut Selatan. Masih trauma dengan tsunami di Aceh, akibatnya tetanggaku pada panik. Mereka pada naik truk, ada 2 truk, menuju ke Utara. Ke arah Gunung Merapi. Padahal Gunung Merapi saat itu statusnya juga dalam masa erupsi. Mau lari ke mana coba, ke Selatan kena Tsunami, ke Utara… Gunung Merapi. Adikku ketawa2. Sudah kita di rumah saja, pasrah. Apa yang terjadi, terjadilah.

Saat sadar tyt tsunami cuma issue belaka, semua akhirnya pulang ke rumah masing2. Semua pada tertawa lega. 2 minggu, semua tidur di teras rumah, tetangga2 juga tidak ada yang berani tidur di dalam. Sesekali masih ada gempa susulan dengan SR yang lebih kecil. Ibuku, ga boleh tidur di luar, takut masuk angin, akhirnya tidur di dekat pintu, dengan posisi pintu dibuka.
Yah, dengan kejadian ini, hubungan dengan tetangga2 jadi lebih dekat. Yang biasanya jarang bertemu karena kesibukan, gempa mendekatkan satu sama lain. Sama2 ngobrol di depan rumah, begadang sampai malam, sambil berjaga bergiliran karena banyak pencuri yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Aku memang waktu itu tidak bisa pulang, membantu melakukan sesuatu untuk warga Jogja. Salut dengan teman2ku. Mereka tiap hari menyiapkan beratus-ratus nasi bungkus untuk dikirim ke Bantul, menggalang dana dari para Donatur.
Selimut sangat diperlukan di sana. Malam begitu dingin, banyak para korban yang kehilangan tempat tinggal terpaksa harus tidur di tenda2 terbuka. Temanku di Bandung, ada yang mendapat bantuan dari seorang dermawan, puluhan roll selimut yang belum dipotong. Akhirnya karena keterbatasan waktu, sedangkan selimut harus segera dikirim, gulungan selimut itu dipotong-potong, kemudian dipacking 1 selimut ke dalam 1 plastik. Aku sempat membantu packing selimut, paling tidak ada sedikit yang bisa kulakukan untuk Jogja. Malam itu dah harus beres, segera dikirim ke Jogja. Ada beratus-ratus potong selimut. Banyak yang membantu packing. Terimakasih atas segala bantuan dan perhatian untuk Jogja. Ternyata begitu banyak mereka yang mencintai Jogja. Teman2ku di sini banyak yg merasa memilki ikatan dengan Jogja. Jogja, bangkitlah.

Yah, sekarang Jogja sudah mulai recovery. Sudah ramai lagi dengan segala aktivitas dan pariwisatanya. Sekaten sudah mulai lagi normal digelar tiap tahun. Tahun ini Sekaten sudah kembali menjadi pesta rakyat. Beberapa tahun yg lalu sempat diambil alih oleh swasta. Waktu aku ke sana, banyak dijual kaos kaki 10rb dapat 3, piring-mangkuk melamine 10rb 3, tas2 dan sepatu… kaya di Bandung aja. Seperti Pasar modern. Mana jajanan tradisionalnya?
Tiap Sekaten, kebeneran berbarengan dengan liburan Paska, jadi tiap tahun aku bisa ke sana. Rame2 ma teman2. Naik aneka permainan, bianglala, ombak banyu, ontang-anting, dan banyak lagi. Banyak dijual aneka jajanan dan itu semua rasanya enak-enak. Kita sebenarnya lebih senang karena bisa pergi rame2. Seru.
Pulangnya mampir makan, kalo ga di angkringan ya di lesehan.
Jogja di waktu malam memang menyenangkan sekali.

Sekaten tahun ini puncaknya tgl 20 Maret, aku tidak bisa pulang karena ada tugas di sini. Sekaten berlangsung 1 bulan penuh. Berakhir pada hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW. Temanku yang biasa pergi denganku ke sana pamer2, dia sudah ke sana. Dia tidak tahu kalau awal Maret aku pulang, jadi bisa pergi ke Sekaten.
Aku cuma 3 hari 2 malam di Yogya. Tadinya pengin ke Sekaten Jumat malam, tapi batal coz adikku bilang, hari puasa kok mau senang2, besok aja, pas malam minggu. Akhirnya kita memutuskan rame2 ke Sekaten sabtu malam. Sayangnya sore itu turun hujan, jadi pastilah arena permainan basah semua. Kebetulan waktu itu di rumah ada acara, pemutaran perdana Film Dokumenter Paroki Sedayu by Mudika Sedayu. He he, aku malah melarikan diri, karena ada janji dengan teman di Yogya.

Kita pergi malam minggu, jadi jalan lumayan rame, malam menjelang Ultahku. Ultahku dirayain di Jogja oi. Setelah 4 tahun, baru kali ini ultahku dirayain di Yogya.
Sehabis ngantar barang titipan temanku di Bdg untuk temannya di Yk, kita sepakat mau cari makan malam.
Adikku pernah pamer baso bakar, katanya enak banget. Akhirnya kita makan di sana. Baso Bakar Arema, di Jl. Godean. Dan aku ambil porsi paling banyak di antara yang lain. Padahal di jalan sudah makan arem2 n lumpia bikinan Ibu, untuk buka puasa di jalan. Laper kali ya, habis juga tuh. Rasanya hampir mirip BMK, cuma lebih neg.

Kita lanjut ke Sekaten. Di sana cuma muter2 doank. Temanku ga mau diajak masuk. Katanya, basah2 gini mau naik apa. Gapapa lihat2 aja kataku.
Akhirnya kita ke Alkid (Alun-alun Kidul). Rada gerimis. Tapi di sana lumayan rame. Kita lesehan makan tempura + wedang ronde. Dingin2 gini minum wedang ronde, enak bgt. Pengin nambah wedang ronde, nawarin ga ada yang mau nambah, akhirnya aku nambah sendiri. Temanku ketawa,’Perutmu tuh dari karet ya. Apa gunanya seharian puasa, malam makannya maruk gitu.’
He he… mumpung lg di Yogya. Terbiasa jajan di Bdg, jajan di Yk, makanan murah2, enak2 lg.

Kita lanjut ke dua beringin kembar. Konon barang siapa dengan mata tertutup bisa berjalan melewati dua beringin kembar itu sambil make a wish, permohonan akan dikabulkan. Ada 3 kesempatan. Aku belum pernah berhasil. ‘Malam ini aku harus berhasil,’ kataku.

Temanku ga mau nyobain, katanya sudah pernah. Aku n Nick, nyobain. Untung bawa slayer untuk tutup mata. Nick gagal pada kesempatan 1, begitu juga aku. Harus ada yang ngikutin kita dari belakang, untuk ngingetin kalau2 mau nabrak pohon.
Lumayan ramai malam itu. Ada yang dengan gampangnya pada kesempatan 1 langsung berhasil. Tapi ada yang tau2 sudah berbelok 90 derajat keluar dari jalur. Malah ada yang sampai berbelok 180 derajat. Sepertinya tidak mungkin ya, jarak antara 2 pohon beringin lumayan lebar, bisa 5 sampai 6 meter. Secara nalar harusnya kita dengan gampang bisa berjalan lurus melewati pohon itu, tapi tiba2 saja seperti ada magnet yang membelokkan arah kita tanpa kita sadari.

Ada cowok yang aku sampai ga tega melihatnya. Temannya tidak ada yang mengikutinya dari belakang. Pada kesempatan 1 dia gagal, berbelok 90 derajat. Kesempatan ke-2 dia berbelok 90 derajat lagi dan hampir menabrak sepeda. Aku jadi ikut berteriak mengingatkan, takut dia nabrak sepeda itu beneran. Untung temannya segera datang. Ga kapok2, pada kesempatan ke-3 lebih parah lagi, dia berbelok hampir 360 derajat, balik ke arah datang dan hampir sampai ke jalan raya. Aduh kalau ketabrak mobil gimana. Untung temannya datang menghampirinya.

Nick gagal pada kesempatan ke-2, akhirnya berhasil pada kesempatan ke-3. Hore……..!!!!
Aku gagal lagi di kesempatan ke-2, hampir menabrak pohon yang sebelah kiri.
Akhirnya pada kesempatan ke-3. Aku merasa sudah jalan dengan arah yang benar, Nick yang mengawasiku, tanpa kata. Tiba2 dia bilang ‘Stop’, dan aku terlanjur melangkah. Akhirnya….. ceprot….. kakiku masuk ke kubangan Lumpur. Basah deh, kotor deh.
‘Aku dah ngingetin lho, kamunya maksa jalan terus,’ kata Nick.
Tapi aku berhasil malam itu. Dan make a wish-ku! Ada deh…..
Ga terasa sudah pk.23.00, harus pulang nih. Ngantar cowoknya Nick dulu, baru kita pulang. Nick tanya, ‘Kamu ditelp atau di-sms Ayah ga?’
Kulihat HP, no miscall no sms. ‘Ga tuh, kamu juga nggak?’tanyaku ke Nick.
‘Gak’, kata Nick.
Tumben. Ayahku biasanya suka khawatir. Apa karena ini malam ultahku ya. Aku masih sempat mampir sebentar ke toko baru temanku, tokonya buka mpe pk.02.00. Dia baru nikah dan aku belum ngucapin selamat. He he, tyt dia tadi ke rumahku, ikut acara pemutaran VCD documenter. Dan cah2 mudika yg lain yg td jg pada ke rumahku ada di sana semua. He he… jadi ga enak…. Ada tamu malah ditinggal pergi.

Sampai rumah sudah pk.00.00. Tyt ayah tidak marah. Kami disuruh makan dulu. Ibu masak opor ayam, buat acara sore tadi. He he sudah lewat jam 12, ultahku….
Waktu Nick mau ngucapin, kata ayah, ‘Belum ultah, kamu lahir jam 5 pagi.’He he … aku baru tahu. ‘Ya sudah aku ngucapin besok aja ya,’ kata temanku.

Paginya, kita berencana ke gereja Kobar jam 08.30, tyt kita bangun kesiangan, ga akan keburu. Ya udah jalan2 saja keliling Yk. Di jalan papasan ma ayah-ibuku, disuruh pulang dulu. Dibeliin sate Bantar, sate kesukaanku. Dah lama bgt pengin sate itu belum kesampaian. He pas ultahku, akhirnya dibeliin. Dulu tiap mau THB pasti dibeliin ‘sate hati sapi Bantar’, kata ayahku, biar nilainya bagus. Akhirnya dulu pernah nilaiku pas2an banget, aku beralasan, karena lupa ga dibeliin sate Bantar. Ayahku Cuma ketawa, ga bisa marah.

Jemput temanku dulu, kita akhirnya muter2 seharian di sekitar Malioboro. Nyari titipan2 n oleh2. Ke Mirota Batik sebentar. Tyt rame banget, dan Yk hari itu panas sekali. Kita pengin makan siang di Amplaz, tapi pasti di sana macet banget. Sudah pk.15.30, ga akan keburu kalau mau ke gereja sore. Akhirnya kita makan di Gale… ke ‘Bees’, masakan Jepang. Di Yk mpe sekarang blm ada Hokben. Jadi bahan untuk ngledekin teman yg di Yk.
Satu2nya kesempatan ke gereja sore, ikut misa pk.05.00 atau pk.06.00. kalau kut misa pk.05.00 langsung ke gereja, berarti pakai baju seadanya, sedangkan waktu itu aku n Nick pake celana tanggung. Di Yogya beda ma di Bdg. Kalau ke gereja bajunya pada formal, jarang yang memakai kaos atau celana pendek.
Gapapalah sesekali ke gereja pake celana tanggung. Di Bdg banyak kok yg pake kaya gini ke gereja, kataku membujuk Nick. Nick tetap keukeuh pengin ganti celana panjang, akhirnya dp jauh ke rumah, mending ambil celana panjang Nick yang masih ketinggal di rumah cowoknya. He he… akhirnya mpe gereja ga telat, 5 menit sebelum misa dimulai.

Mpe rumah cuma punya waktu 1 jam untuk packing, terus cabut ke Stasiun Tugu. He he…. Seperti biasanya gerak cepat, semoga tidak ada yang ketinggalan. Ayah ibu lagi ada pertemuan Lingkungan, mereka pengin ikut nganter ke Stasiun, ‘Klo berangkat jemput di tempat Renungan ya!’ Akhirnya mpe sana, Renungan pas kelar… kita bersama-sama ke Stasiun, mengantar kepulanganku ke Bandung.

No comments:

Post a Comment