Tuesday, July 22, 2008
Bulan kemarin, aku begitu kaget waktu dikabari pelatih koor-ku di Yk meninggal karena serangan jantung. Begitu tiba2. Kenapa ya, orang yang baik selalu dipanggil begitu cepat.
Yah, mungkin saatnya memang sudah tiba, hanya karena begitu tiba2, kita yang ditinggalkan jadi kaget, tanpa persiapan sama sekali, perlu waktu untuk menerima semua ini.
Kemarin, sedang tidak begitu bersemangat. Lg ga enak badan, sedikit demam. Pulang kerja, mandi, langsung tidur. ‘Wake me up at seven!’ pintaku ke kamar depan. Aku baru mpe kost pisan dari latihan, HP-ku bunyi, my father called me at 9.00 p.m. What’s wrong? Kenapa perasaanku ga enak ya. Firasatku mengatakan ‘bad news’.
Dan benar saja, kakak sepupuku meninggal, korban tabrak lari.
Kenapa secepat ini? Kakakku ini orang yang begitu baik. Selalu siap kapan pun keluargaku butuh bantuannya. Royal banget ma aku, adik2ku n sepupu2ku. Ga pernah itungan. Dulu waktu aku kelas 5 SD, pengin belajar naik motor, ma ayahku belum boleh, kakakku ini yang akhirnya mengajarkan teknik2 naik motor ke aku, muter2 kompleks aku yang di depan, kakakku dari belakang ikut mengontrol gas.
Habis itu aku belajar sendiri secara otodidak.
Kakakku satu ini penggemar berat musik dangdut, pada ketawa kalau ingat akhir tahun kemarin waktu jemput adikku dari Solo, sepanjang perjalanan Yogya-Solo PP, pada jadi pendengar musik dangdut, ga ada yang berani protes. Aku tahu waktu telp ke adikku, terdengar alunan musik dangdut. ‘Itu nyetel lagu apa?’ He he… adikku ketawa.
Masih ingat Lebaran tahun kemarin, itu pertemuanku terakhir dengannya. Kubujuk supaya mau ikut nyekar ke makam keluarga, dia ga mau. Katanya nanti saja, aku jaga rumah saja. Habis nyekar, kita rame2 di rumah budeku makan bakso, nyetop mang bakso lewat. Rasanya enak sekali makan rame2 meskipun sebenarnya tidak terlalu special. Yah, sebuah kebersamaan yang menambah cita rasa bakso.
Kakakku mengajak kita rame2 ke Pantai Glagah. Tapi hari itu sudah terlalu sore. ‘Besok saja ya.’ Aku masih punya waktu sehari di Yk. ‘Ya, sudah, besok dikabari.’
Sepulang dari rumah bude, kakakku memberi uang saku lumayan buat aku n sepupu2ku. ‘Ini, nanti buat jajan di jalan.’
‘Terimakasih.’
‘Mau makan di mana? Ke pemancingan aja yuk. Cukup kan?,’ tanyaku.
‘Kalau ga cukup, kan ada yang udah kerja!’ kata sepupuku.
He he…..
Kita memutuskan makan ke ‘Mang Engking’ yang di jalan Godean, sekarang sudah diambil alih oleh ‘Banyu Mili’. Dan tyt kita mpe sana sudah kemalaman, semua menu sudah habis.
Ya sudah, akhirnya kita beralih ke ‘Jambon Resto’ pemancingan yang ga jauh dari situ. Salah satu pemancingan di Yk yang aku suka ke sana selain ‘Sendang Ayu’ di Kalasan. Makanannya enak dan tidak terlalu mahal. Sejak dibuka ‘Jambon Resto’ kita tidak perlu jauh2 ke ‘Sendang Ayu,’ ada yang lebih dekat, dengan rasa yang tidak kalah enak.
Tempatnya nyaman, dengan saung2 di tengah kolam. Semakin malam, semakin exotic dengan lampu2 yang temaram.
Kenyang sekali malam itu, pesan porsi yang kata adikku ga kira2.
Dan keesokan harinya, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Hari terakhirku di Yk, banyak titipan dari temanku di Bdg yg belum kucarikan. Dan aku masih punya janji dengan salah seorang teman SMA-ku yang kerja di Jkt, dia lg ada di Yk. Sejak hari pertama kepulanganku, kita blm sempat ketemu. Akhirnya hari itu aku pergi dengan temanku.
‘Kak, maaf ya, ke Pantai-nya lain kali saja. Hari ini ternyata ga bisa.’
Karena aku ga jadi pergi, adikku dan sepupuku yang lain juga mengurungkan. ‘Ke Glagah-nya Lebaran tahun depan saja.’
Dan tyt, rencana Lebaran tahun depan itu tidak akan pernah bisa direalisasikan. Kalau pun jadi ke Pantai Glagah, itu pun tanpa kakakku. Pasti akan terasa ada yang kurang.
Kenapa ya, Bandung – Yogya begitu jauh. Hari ini misa pemberkatan pk.10.00, Upacara militer pk.11.00, pemakaman pk.13.00. Kalau pun memaksa pulang, tidak akan keburu.
Maaf ya Kang, aku ga bisa ikut menghantar. Doaku dari sini menyertaimu. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu. Dan keikhlasan bagi kami yang ditinggalkan, terutama untuk Bude, mba Dew, n junior2mu yg masih kecil2. Semoga mereka kuat ya.
Bulan depan aku baru bisa nyekar, sekalian nikah temanku dan 2 tahun peringatan Mbok Yem.
Yah, kita memang tidak pernah tahu, kapan waktunya akan tiba. Itu sebuah misteri. Kita harus siap sewaktu-waktu.
No comments:
Post a Comment