Wednesday, November 16, 2011

LEBIH ENAK NAIK KERETA YANG MANA?


Wednesday, August 29 till September 8, 2008
 
Dah lama sebenarnya pengin nulis tentang kereta, sarana transportasi yg paling sering kupilih untuk mudik ke kampung halamanku. Tapi waktu jua yang seolah tak bersahabat denganku. Hingga baru sekarang bisa memulai menulis tentang si tut tut tut tut.
‘Naik kereta api…. Tut tut tut…. Siapa hendak turut. Ke Bandung, Yogyakarta…. Bolehlah naik dengan cuma-cuma…..’ ~_^

Ada 3 pilihan kereta yang ditawarkan oleh PT KAI, kita bisa memilih sesuai dengan keadaan kantong kita. Kalau pengin irit kita bs pilih kelas Ekonomi, jika ada uang lebih dan pengin kereta yang lebih nyaman, bolehlah kelas Bisnis. Tapi jika pengin yg benar2 nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang selama di perjalanan, pilihlah kelas Eksekutif. Aku pernah merasakan naik ketiga kelas kereta ini. Buat yang sering naik kereta bisnis atau eksekutif, sekali2 cobalah naik kereta ekonomi, selain lebih irit, kita bisa tahu sisi kehidupan yang lain. Banyak pengalaman yang bisa kita dapat dari sana.

Aku merasakan naik kereta ekonomi pertama kali th. 2000. Bertiga dengan teman kuliahku, kita pengin liburan ke Bandung. Supaya lebih menghemat ongkos perjalanan, kita memilih Kereta Ekonomi. Perjalanan siang hari, berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sekitar pk.09.00 pagi, coz waktu itu kereta sedikit terlambat, harusnya berangkat pk.08.00 WIB. Membayar tiket Rp.20.000,- per orang. (kalau tdk salah, lupa).

Di awal perjalanan kami begitu menikmati perjalanan kami. Dari rumah sudah menyiapkan satu kantong uang receh. Katanya di perjalanan nanti akan banyak pengamen. Dan benar saja, pengamen, pedagang hilir mudik keluar-masuk gerbong. Dengan sabar, kami masih memberikan uang receh kepada pengamen2. Ada juga para peminta2, tuna netra yg dituntun oleh orang yg sehat.
‘Wah, piye to, yg satu masih sehat gitu, kenapa malah ngajakin yg ga bener. Memanfaatkan ketidaksempurnaan fisik untuk minta2. Kan sebenarnya kerja apa jg bisa!’ Kami sungguh tdk respect melihat ini.
Tak berapa lama, ada juga penyapu gerbong.
‘Nah, klo ini baru bener. Kan mending begini. Gerbong kan jadi bersih.’
Itu pendapat awal kami, lama2 seiring perjalanan kami, pandangan kami jadi berubah. Sampah yang sudah disapu ke arah luar gerbong, disapu lagi ke arah sebaliknya oleh penyapu yg lain. ‘Wah, ga bener ini. Mpe tujuan juga nyapunya ga akan selesai2.’

Dan sepanjang perjalanan kami, para pedagang hiruk pikuk menawarkan dagangannya, pengamen yg rata2 rombongan beberapa orang, peminta-minta, penyapu gerbong, dan sales yg menawarkan produknya, hilir-mudik meramaikan gerbong. Semakin siang, di dalam kereta udara begitu panas, tidak bisa tidur coz terlalu berisik n begitu gerah. Mana persediaan receh kami jadi menipis. So…. Sadar uang receh kami tdk akan mencukupi sampai tujuan, kami pura2 tidur. Tapi sungguh sial, pengamen yg bertampang preman, begitu menyeramkan, dengan kasar membangunkan kami. Terpaksa deh bangun dan memberikan receh yg tersisa.
Perjalanan menjadi terasa begitu lama dan membosankan. Mau bercanda juga sudah tdk mood. Kapan ya nyampe Bandung-nya.

Setelah itu, jd mikir dua kali klo mau naik Kereta Ekonomi lagi, palagi di siang hari. Wah mboten mawon. Akhirnya pulang ke Yogya-nya kami memilih naik kereta Lodaya, kelas bisnis.

Sampai akhirnya aku kerja di Bandung, aku jadi lebih sering naik kereta. Yogya-Bandung pp, aku biasanya naik kereta Lodaya, kadang naik kelas bisnis, kadang naik kelas eksekutif. Aku lebih suka perjalanan malam, coz aku bisa menggunakan waktu tidurku di jalan, so waktuku tdk terbuang percuma. Sayang kan, waktu siang mending buat jalan2 di Yogya.

Pernah punya pengalaman tdk menyenangkan naik kereta ekonomi, aku jadi males mengulangnya lagi. Tapi di tahun ketigaku kerja di Bandung, teman kerjaku, cewek, dia beberapa kali naik kereta ekonomi, perjalanan malam. Dari cerita2nya, sepertinya ga menyeramkan naik kereta ekonomi sendirian, irit lagi.
Temanku yg jg cewek berani, masak aku ga berani. Dia bisa, aku pasti juga bisa.

So, pada akhirnya, aku memutuskan akan mencoba naik kereta ekonomi Bdg-Yk perjalanan malam. Asal ga bawa barang banyak n HP off, everything will be OK.
Waktu itu hari Jumat sore di Th. 2005, dengan membawa 1 tas ransel dan 1 paper bag isi oleh2, dengan yakin, aku berangkat ke Stasiun Kiara Condong. Kereta berangkat pk.19.30, ticket bisa langsung beli di sana. Aku baru berangkat dari kost pk.18.15, naik angkot Cicadas-Elang, langsung turun di dekat Stasiun.
Hari itu jalan lumayan crowded, sempat deg2an, kok ga mpe2 ya.
Hampir sampai stasiun, tinggal dua penumpang. Aku dengan seorang ibu. Ibu itu menanyakan aku turun di mana. Setelah tahu aku mau naik kereta ekonomi ibu itu berpesan supaya aku berhati-hati, banyak copet katanya.
Setelah ibu itu turun, tinggal aku berdua dengan sopir, kita ngobrol, dan terakhir bapak sopir juga berpesan,’Ati2 ya neng ma bawaaannya, banyak copet!’

Waduh…. Kenapa pada pesen begitu. Jadi rada khawatir.

Turun dari angkot, jalan kaki ke stasiun, bareng ma Bapak2 yang mau naik KRD ke Padalarang. Bapak itu juga berpesan yang sama. ‘Ati2 ya neng, banyak copet!’
Jadi ragu2, antara jadi mau naik ekonomi atau pulang lg ke kost.
Tapi gimana, tanggung dah mpe sini, ticket buat pulang ke Bdg lg dah dicariin temanku di Yk. Kubulatkan tekad, ‘Harus berani!’
Di sana sepi sekali. Pikirku was was, ‘Duh klo di kereta cuma beberapa orang gini, serem bgt. Jadi ga ya!’
Dan tyt aku salah antre beli tiket, harusnya di pintu Utara, di pintu selatan just untuk ticket KRD.
Akhirnya menyeberangi rel menuju loket di pintu utara.
Dan tyt di sana ramai sekali, orang berjubel-jubel, mau jalan susah bgt. Tyt hari jumat banyak karyawan pabrik pada pulang, mereka off di hari sabtu.
Antre di loket, tyt ticket dengan tempat duduk dah habis. Banyak calo yg menawarkan tiket dgn tempat duduk. Harga normal ticket Bdg-Yk Rp.26.000,-. Murah bgt ya, dgn membayar segitu sudah bs mpe Yogya.
Beli tiket ke calo, kirain mark-upnya bakal banyak.
‘Berapa ticket ke Yk + tempat duduk?,’ tanyaku ke salah satu calo.
’32 ribu,’ jawab calo itu.
Kirain bakal mpe 40 ribu. Iseng kutawar, rasanya ada kepuasan tersendiri klo berhasil menawar. Mentok2 di harga 30 ribu, ticket + tempat duduk. Lumayan bisa turun 2 ribu. ^_^

Dan aku baru ngeh, tyt aku musti beli ticket dengan harga normal di Loket Rp.26.000,- dgn diantar calo, kemudian membayar sisanya Rp.4.000,- ke calo, dapat sticker no. kursi dari calo yg kemudian ditempel di ticketku.
Oh, begini to caranya. Calo ngeborong sticker2 tempat duduk.
Baru tahu!!!!!

Waktu kereta datang, kereta Kahuripan, jurusan Kediri, masuk berdesak-desakan kaya mau rebutan sembako. Ga ada yang mau ngalah. Ampun deh, didorong sana-sini. Mana musti manjat2 coz kebagian gerbong no 2 dari belakang. Yah, maklum deh, pada rebutan tempat duduk, banyak yang beli tiket tanpa tempat duduk.

Pas sampai tempat dudukku, tyt no kursiku sudah diisi orang. Kutunjukkan tiketku, akhirnya dia mengalah, dia beli tiket tanpa tempat duduk. Duduk berhadap-hadapan masing2 kursi untuk bertiga. Di tengah jalan, ada cewek ndut mau turun di Kroya, dia tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya karena kasihan, kursi yang harusnya untuk 3 orang, diisi untuk 4 orang. Ampun deh!!!!!!!!!! Mana dia ndut lagi.
Tapi bener2 perjalanan yg seru. Sepanjang jalan banyak pedagang menjajakan jajanan, dan cowok di depanku makan terus. Dia baik sekali, menawarkan makanan yang dibelinya meskipun aku dgn halus menolaknya. Bahkan mau membayarkan makanan yg dibeli sebelahku. Orangnya cerewet bgt. Sama sekali ga bisa tidur. Tiap kali mencoba tidur, selalu dibangunkannya, ‘Sudah sampai, bangun hoiiiiiiiiiii!’

Dasar. Tapi benar2 penuh suasana keakraban, tak ada jarak sama sekali. Bercanda sepanjang perjalanan. Kita masih muda semua, rata2 pada kerja di Pabrik textile di Padalarang, sebelumnya kita tidak saling mengenal. Tapi di kereta jadi pada bisa ngobrol banyak. Aku sendiri mengaku, masih pengangguran, lagi cari kerja, habis dari maen ke tempat kakak di Bandung. Belakangan aku tahu, tyt cowok di depanku tuh pengantin baru, istrinya yang duduk di sebelahnya. Pantes, ceweknya rada jealous waktu si cowok minta alamat & no teleponku, tapi ga ta’kasih. Dasar playboy!

Tyt naik kereta ekonomi malam sendirian ga semenakutkan seperti yg kukira, so aku berani lagi mengulangnya.
Kedua kalinya naik kereta ekonomi malam, tidak terlalu crowded, kursiku cuma untuk bertiga tidak berempat lagi. Banyak taruna2 berlalulalang. Belakangan aku tahu, tyt taruna2 dapat fasilitas naik kereta ekonomi gratis. So, lumayanlah, di kereta bisa lebih aman. Dan mereka harus rela berdiri coz tanpa ticket.
Penumpang di depanku orang Yogya jg, dia baru pertama kali naik kereta ekonomi coz kehabisan tiket kereta bisnis. PNS, melanjutkan kuliah S2 dibiayai Instansi. Baru ini deh, ngobrol bisa nyambung n topic sedikit lebih serius. Melihatku makan malam bekalku, nasi goreng ikan asin, tak berapa lama dia memesan nasi goreng ke Restorasi.
‘Pasti pengin lihat saya makan nasi goreng ya!,’ seruku.
‘He he….,’ dia cuma ketawa.

Si Mas turun lebih dulu di Wates, belakangan seorang taruna yang sejak tadi berdiri di dekatku, kemudian duduk di sebelahku yang sudah kosong. Dia tertidur cukup lama, kecapean berdiri sepertinya.
Saat dia terbangun, kita  mulai terlibat pembicaraan.
‘Kirain tentara ga punya capek. Tyt bisa capek juga ya?,’ celetukku.
‘Yah punya capek juga lah Mbak. Tentara kan kaya orang biasa juga,’ jawab si taruna.
Dan aku jadi tahu banyak hal tentang pendidikan militer. Tyt memang berat juga. Mereka terbiasa disiplin dalam segala hal. Bahkan waktu untuk buang air kecil dan BAB juga harus diatur, lama2 tubuh bisa menyesuaikan. Jika melakukan kesalahan pasti dihukum diantaranya diguyur air dingin pagi2 buta tanpa mengenakan baju. Di Lembang, pagi2 buta diguyur air, bayangin…… menggigilnya kaya apa.
Waktu jam kunjungan pacar, klo ada yg tidak dikunjungi pacar, pasti dapat sanksi.
‘Wah kasihan donk yang belum punya pacar!’
‘Iya mbak, makanya yg belum punya pacar suka pada bingung.’
Si mas taruna turun di Jawa Timur, so aku turun duluan, kursiku akhirnya diisi oleh temannya sesama taruna yang tidak kebagian kursi sejak dari Bandung. Kasihan juga.

Pengalaman ke-3 naik kereta ekonomi malam, ini terakhir kali yang pernah kualami. Habis itu mpe sekarang belum lagi pulang naik kereta ekonomi. Kalau kondisi lagi capek, naik KA ekonomi tambah capek. Dan ini naik kereta ekonomi yang paling tidak menyenangkan. Sebelahku pasangan Bapak-Ibu yg cuek. Di depanku seorang bapak, seorang cowok dan seorang ibu.
Aku lebih banyak ngobrol dengan si Bapak yang duduk di depanku persis. Obrolan standar, si Bapak cerita tentang anak2nya dan keluarganya. Sampai akhirnya si Bapak membahas pertemuan pertamanya dgn istrinya, cowok di sebelah si bapak ikut2an nimbrung.
‘Yah, jodoh kan ga ada yg tahu ya Pak. Siapa tahu ketemu di kereta.!’ cowok itu berkata demikian sambil melihat ke arahku.
Bapak di depanku tersenyum penuh arti.
Hi…… apa maksudnya, jadi sebel. Dan memang cowok ini nyebelin bgt. Rese bgt. Akhirnya aku lebih memilih nyuekin dia n lanjut ngobrol dgn si Bapak.
Cowok itu aneh bgt. Gaya tidurnya lebih aneh lg. Berdiri di kursinya, tangan berpegangan ke atas ke rak tempat naruh tas2. Cara tidur yang aneh. Dan terus terang amat sangat mengganggu pemandangan.
Dan sejak saat itu aku belum pernah naik kereta ekonomi lagi.
Semoga suatu saat nanti klo pada akhirnya naik KA Ekonomi lagi, tdk ketemu si cowok itu lagi. Aku masih ingat mpe sekarang orangnya kaya apa.

Yah, akhirnya dari pengalamanku naik berbagai kereta Bandung-Yogya, aku bisa sedikit mengambil kesimpulan:
  1. Naik kereta ekonomi
Sesama penumpang bisa akrab, tidak ada jarak. Rasa kekeluargaan begitu terasa. Obrolan rata2 obrolan ringan dan banyak bercanda. Santai, tidak ada jaim2an. Tapi tentu saja kurang nyaman untuk beristirahat sepanjang jalan, karena begitu ramai oleh hilir mudik pedagang dan udara yang gerah. Dan hati2 aja, jgn kaget klo di sekitar tempat duduk ada kecoa berkeliaran.
  1. Naik kereta bisnis
Kadang2 bisa dapat teman sebelah yang menyenangkan, bisa terlibat pembicaraan akrab dengan obrolan yang lebih bervariasi. Lebih nyaman untuk beristirahat dp KA ekonomi, coz pedagang tidak diizinkan masuk waktu kereta berjalan (Khusus KA Lodaya).
  1. Naik kereta eksekutif
Jarang dapat teman sebelah yang menyenangkan diajak ngobrol. Rata2 di kereta mereka benar2 pengin beristirahat, so ngobrol seperlunya saja. Banyak jaim-nya n rata2 cenderung lebih bersifat individualistis. Sepanjang perjalanan benar2 lebih nyaman untuk beristirahat, lebih tenang, tidak gerah coz ada AC n tentu saja fasilitas yang lebih baik.

Yah, itu kesimpulan secara global, aku dulu pernah naik KA eksekutif, sama sekali ga bisa tidur coz dekatku ada Bapak2 yang tidurnya mendengkur kenceng sepanjang malam. Ampyun dehhhhhhhhh He he he, akhirnya di kantor jadi ngantuk coz tidur yg tidak berkualitas.

Apa salahnya sedikit menengok sisi kehidupan yang lain supaya kita bisa mensyukuri apa yang telah kita terima selama ini.
So…… jangan takut mencoba naik kereta ekonomi….. ga menakutkan seperti yg dibayangkan orang kok.
Dan aku ga pernah bosan2 membujuk teman2ku biar irit klo mau jalan2 ke Yk, naik kereta ekonomi aja rame2, perjalanan malam, baru pulang ke Bandungnya naik yg kelas bisnis. Pasti seru.
Someday ya…… pergi rame2 naik KA ekonomi jalan2 ke Yogya.
‘Hyuukkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!’

No comments:

Post a Comment