Wednesday, November 16, 2011

Kemeriahan Perayaan 17 Agustus , ke mana engkau pergi?????


Tuesday, August 20, 2008
 
Pitulasan….. alias Tujuhbelasan….. Perayaan yang dulu waktu aku kecil begitu kutunggu-tunggu. Begitu meriah….penuh suasana keakraban. Semua warga kampungku, baik besar-kecil, tua-muda ikut turun ke jalan memeriahkan hari jadi RI.
Sejak sebulan sebelumnya, persiapan perayaan 17 Agustus di kampungku biasanya sudah dimulai. Anak-anak kecil latihan tari, nyanyi, gerak & lagu. Pemuda-pemudi berlatih kethoprak (drama tradisional) dan koor lagu2 nasional diiringi gitar & seruling. Ibu2 sibuk dengan kesenian karawitan dan kolintang. Bapak-bapak ada yg berlatih lawak. Semuanya dengan persiapan yang matang. Dibentuk kepanitian khusus mix antara pemuda, bapak dan ibu. Semuanya mau terlibat dalam berbagai acara yang diadakan. Dimulai dari aneka perlombaan pada sore hari menjelang 17 Agustus, malam pentas seni dan diakhiri dengan Panjat Pinang. Dan yang paling kutunggu-tunggu di antara semua acara adalah Panjat Pinang.

Dekorasi dilakukan secara bersama-sama. Sejak seminggu sebelum hari H, semua turun ke jalan, mengecat pagar rumah masing-masing. Bukan dicat, tepatnya di-labur. Sekitar th 1980an s.d. 1990an, rata-rata rumah di daerahku berpagar tanaman Tehtehan dilapis pagar bambu di luarnya. Dan pagar bambu inilah yang dilabur warna putih menggunakan kuas sederhana dari sabut kelapa. Seru….. banget.
Melabur pagar dilakukan sore hari, setelah anak2 pulang sekolah, orangtua pulang kerja. Dengan perlengkapan berupa ember kecil berisi cairan putih campuran labur (gamping putih) dan air serta kuas kecil dari sabut kelapa yg sudah dibersihkan serat2nya, bersama-sama semua warga turun ke jalan melabur pagar rumah mereka masing2, setelah itu lanjut melabur pagar di sepanjang jalan.
Aku ga pernah melewatkan saat-saat seperti ini. Senang sekali melabur pagar  bersama-sama seperti ini, secara gotong royong. Aku dan teman2ku, biarpun kami masih kecil, kami boleh membantu. Tentu saja pagar2 pendek yang masih bisa kami jangkau yang menjadi tanggung jawab kami. Selebihnya diselesaikan oleh kakak2 yg badannya lebih tinggi. Aku ga pernah bisa melabur pagar depan rumahku, karena rumahku dulu tidak berpagar, so ikut2an melabur pagar di sepanjang jalan. Ga peduli baju, kaki, tangan dan muka putih2 penuh labur. Bekerja bersama-sama, rasa capek sama sekali tidak terasa. Baru pulang klo sudah dipanggil Ibu, disuruh pulang, mandi.

Kampungku berhias serba merah-putih. Tak ketinggalan depan rumahku juga dihias bendera plastic kecil2 warna merah-putih, digantung menggunakan benang nylon. Gapura masuk kampung, dihias menggunakan aneka hiasan dari bambu, di cat warna-warni, dengan warna utama merah-putih. Benar2 suasana 17 Agustus terasa sekali.

Aneka perlombaan dikoordinir oleh Kakak2 Pemuda-Pemudi, ada lomba balap karung untuk anak2, bapak2, pemuda2 dan ibu2, lomba membawa kelereng menggunakan sendok untuk anak2, lomba sepak bola pakai sarung oleh bapak2, lomba makan kerupuk untuk tua-muda, dan aneka lomba yang lain. Hadiah untuk pemenang nanti diberikan saat puncak acara ‘Malam Pentas Seni.’

2 hari menjelang hari H, semua sibuk membuat panggung untuk pentas seni. 1 hari sebelum Hari H, Gladi resik, semua yang akan pentas berlatih dulu untuk terakhir kalinya, sambil menyesuaikan susunan acara dengan MC.
Malam Pentas Seni, begitu ramai, semua warga keluar rumah, menonton. Ibu2 sibuk di dapur mempersiapkan snack dan makan malam untuk para panitia dan pemain. Makan malam biasanya gulai ayam.

Hari terakhir perayaan, diadakan lomba tarik tambang di sawah, diikuti oleh Ibu-Ibu, para Pemuda-Pemudi, dan terakhir Bapak-Bapak. Baju berlepotan penuh Lumpur, tapi kita semua begitu terhibur. Puncak Acara Panjat Pinang juga dilakukan di areal persawahan yang sama. Aneka hadiah digantung di atas, mulai dari kaos, alat tulis, pisang, dan banyak lagi hadiah yg lain. Hadiah utama diberikan bagi kelompok yg berhasil meraih bendera merah putih di puncak pohon pinang, berupa sejumlah uang tunai.
Semua peserta berlepotan penuh olie. Dan seringkali ada kejadian lucu saat peserta ada yg celana kolornya melorot ga kuat jadi tumpuan pegangan temannya saat memanjat. Semua berlomba-lomba ga peduli jatuh bangun demi mencapai puncak.

Yah….. kemeriahan itu bisa kulihat bertahun-tahun yg lalu. Sekarang2 ini seakan sudah hilang dari kampungku. Sepertinya tidak lagi ada semangat untuk merayakan 17 Agustus dengan meriah. Ke mana ya semangat itu pergi?

Kemarin 17 Agustus aku pulang ke Yk, berharap bisa menyaksikan Panjat Pinang. Sama sekali tidak ada kemeriahan seperti yg dulu pernah kurasakan. Aku rindu masa2 itu. Hanya ada bendera merah putih besar dikibarkan di tiap2 rumah, termasuk rumahku. Tidak ada gapura berhias, tidak ada pagar bambu berlabur putih, karena sekarang tidak ada lagi rumah yg berpagar bambu, tidak ada aneka perlombaan, tidak ada malam pentas seni, tidak ada panjat pinang. Kesenian Jathilan yang dulu kadang2 juga dimainkan saat 17 Agustus juga tidak ada lagi. Alunan musik kolintang oleh ibu2 yg dulu biasa mengiringi koor lagu2 nasional dan daerah juga sudah tidak ada lagi. Yah, sekarang sepertinya semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing2, anak2 sibuk dengan nonton TV, main PS. Kapan ya….. kemeriahan 17 Agustus seperti yang dulu bisa kurasakan lagi.

Tgl 18 Agustus pagi, aku bersama temanku berangkat ke Purworejo, menghadiri akad nikah sohibku. Lumayan juga, pagi2 sembari menunggu temanku menjemputku, ada ramai2 di luar. Tetanggaku pada keluar rumah semua. Tyt ada lomba gerak jalan dengan aneka kostum yang lucu2. Tyt masih ada juga kemerihan 17 Agustus di sini, sepertinya diadakan oleh pihak Kecamatan. Rombongan gerak jalan yang paling mengundang tawa, rombongan pemuda2 dengan pakaian ala Jojon, berkaos kaki panjang, celana Jojon dan kaos ngejreng + caping. Bodor pisan… Ditutup dengan rombongan jathilan dengan iringan musik khas jathilan. Ayahku yg penasaran, ikut2an keluar menonton, tp sudah terlambat, rombongan jathilan sudah berlalu. ‘Wah… telat, sudah lewat,’ kataku.
Jam 9.15 temanku yang janjian mau menjemput jam 7.30 baru datang. Wah….. ngerjain ya, aku dah siap sejak 2 jam yg lalu.
Katanya,’Biarin, sekali2 biar kamu yg nunggu.’ Kami baru berangkat pk. 09.45 untuk acara akad nikah jam 08.00 dan syukuran pk.11.00. Kita ga keburu menghadiri akadnya, ya kita hadir di syukurannya. 1 jam perjalanan Yogya-Purworejo. Di sepanjang jalan tidak kami jumpai kemeriahan peringatan 17 Agustus. ‘Pitulasan kok sepi ya.’ Kata temanku.
‘Ya ga tau, kayak bukan 17-an ya,’ kataku.
Dan tyt kita keliru. Masih ada kemerihan 17 Agustus yang kami jumpai dalam perjalanan pulang kami dari syukuran pernikahan temanku. Di Kutoarjo, tepatnya di alun2 Kutuarjo, begitu meriah dengan adanya pawai. Orang2 tumpah ruah di jalan. Jalan lumayan macet. Anak2 SD berpawai dengan aneka kostum. Menarik perhatian mereka yg lewat, berhenti sejenak menyaksikan pawai ini.

Tyt masih ada kok yang masih memiliki kesadaran dan semangat merayakan 17 Agustus. Semoga biarpun semangat untuk merayakan 17 Agustus dengan meriah sudah semakin luntur, tetapi semangat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan hal2 yang dapat memajukan bangsa  tetap kita miliki sampai kapan pun. Merdeka!!!!!!!!!!!!!

No comments:

Post a Comment