Tuesday, November 15, 2011

Menyetrika, Menonton Tivi sambil Menerawang kemana-mana... :)


Bandung, May 1, 2008

Tadi malam sambil menyetrika, setelah bosan dimana-mana sinetron yang semakin tidak jelas jalan ceritanya, semakin mbulet, dibuat-buat, biar lebih panjang episodenya karena rating tinggi, hingga pada akhirnya tidak menjaga kualitasnya lagi, yang akibatnya mulai ditinggalkan pemirsanya, termasuk aku (Coba ditamat-in dari dulu2 pasti jatuhnya lebih berkesan bagi pemirsa) akhirnya memilih nonton acara di Metro TV jam 21.30, judulnya apa ya, lupa. Host-nya Ferdy Hasan acara Talk Show yang disponsori BCA. Membahas tentang naiknya harga pangan dunia.
Salah seorang nara sumber mengatakan bahwa naiknya harga pangan ini memang sudah sewajarnya terjadi. Dulu harga pangan murah karena orang cenderung kurang menghargai pangan. Sekarang orang lebih menghargai pangan jadi harganya jadi membumbung. Orang sekarang lebih peka terhadap lingkungan. Akibat eksploitasi alam yang besar2an tanpa memikirkan kelestarian dan efeknya di masa yang akan datang, orang baru merasakan dampaknya sekarang. Pemanasan global. Semakin menipisnya lahan, mengakibatkan stock pangan berkurang. Ditambah lagi membumbungnya harga minyak dunia. Ya, ditambah lagi beralihnya konsumsi daging babi ke daging sapi oleh penduduk Cina, otomatis pasokan pakan ternak untuk sapi juga meningkat.

Topik kemudian beralih ke bahan pangan organic. Di supermarket bahan pangan organic buatan DN harganya termasuk mahal. Yang import lebih mahal lagi, padahal belum jelas kualitasnya, bener2 organik bukan. Orang sekarang cenderung kembali ke alam, biaya hidup lebih mahal, tetapi lebih sehat. Mungkin jika bahan pangan organic dikembangkan secara besar-besaran akan bisa menekan ongkos produksinya hingga harga pasarannya bisa lebih dijangkau, jadi bisa lebih dinikmati masyarakat luas.

Dibahas juga usaha pembuatan pupuk organic, focus ke pembuatan kompos. Dari hasil pembuatan kompos saja, belum ke pertanian organicnya, seorang petani di Depok bisa meraup keuntungan yang besar. Yah semoga suatu saat nanti, pertanian organic ini bisa lebih memasyarakat, bisa lebih menjangkau semua lapisan masyarakat, supaya bangsa ini nantinya lebih sehat, lebih berkualitas.

Harga2 yang serba mahal, yah, berpengaruh banget sama yang namanya anak kost. Harus menghitung ulang pengeluaran. Beli makan tadinya Rp.5.000,- s/d Rp.7.000,- sekarang Rata-rata sekali makan Rp.7.000,- s/d Rp.12.000,-. Rp.7.000,- paling Cuma dapat nasi, sayur 1 macam ma telur 1. Padahal dulunya Rp.5.000,- sudah sama ayam goreng. Makan pake telor, ga peduli telurnya besar atau kecil, 1 telur diitung Rp.2.000,- Masih terhitung murah sih, soalnya di lingkungan kampus. Apalagi pasokan gas LPG susah banget, tiap di-telp, stock kosong. Klo mau datang langsung ke agen, antreeeeeeeeeee. Mungkin lagi ada pembatasan, karena konversi ke tabung 3kg. Dampaknya kita2 anak kost harus rela 1 bulan ga ada gas. Ga ada yang mau antre sih. Kataku sambil bercanda,’Punya cowok badannya gedhe gitu, kenapa ga dimanfaatin.’ Kata temanku yang cowoknya badannya emang gedhe,’Dia mau sih mbak, tapi harus ada temannya.’ Yah masalahnya, yang mau nemeni antre ga ada. Ya udahlah nti kalau terpaksa minta tolong Mang Dede aja. Tapi jadinya malah lebih sehat, jadi jarang bikin mie instant. Tapi jajan mulu. Tapi ya pada kreatif juga sih, ide ada aja, masak mie instant di rice cooker, kalau dah kelewat malam, males mau keluar cari makan.

Akibatnya stock sayuran anak-anak di kulkas pada membusuk. Sayang banget. Bawang merah oleh-oleh dari Cirebon mpe tumbuh 10 cm gara2 ga dipake-pake, dijemur, kelupaan ga diangkat, akhirnya tumbuh subur disiram air hujan.

Duh harga apa2 semakin naik, beras, minyak, telur, gula, bumbu, semuanya naik, yang ga naik paling garam tetap sebungkus Rp.500,-. Pasti jadi semakin berat buat mereka yang memang bener-bener berkekurangan. Kedelai, sumber protein nabati yang paling murah saja sekarang jadi mahal. Ditambah lagi telur sumber protein hewani yang paling murah juga jadi mahal banget. Dulu beli di Supermarket Rp.7.000,-/kg, Sekarang Rp.13.800,-/kg. Dua kali lipat.
Sopir angkot sekarang klo dikasih Rp.1.000,- pasti manyun,  punya senjata ‘tokcer’, yang membuat kita ga akan bisa protes,’Sekarang apa-apa mahal neng.’
Yah, memang kehidupan jadi lebih berat, lebih mahal, semoga saja tingkat kriminalitas tidak semakin meningkat. Klo kepepet orang suka nekad, tidak pakai akal sehat.

Acara berlanjut ke Kick andy, tentang ‘ada ASA dalam NADA’, mengisahkan mereka yang dalam keterbatasan (cacat secara fisik) tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, mereka bisa memainkan musik yang indah, yang belum tentu bisa dilakukan orang yang secara fisik normal.
Kata Dwiki Dharmawan,’Saya jadi ragu dengan pengertian sempurna dan tidak sempurna disini. Sempurna dan tidak sempurna di mata kita dan di mata Tuhan kan tidak sama. Orang yang dikatakan tidak sempurna, malah bisa memainkan alat musik dengan sempurna, yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang sempurna.’
Anton dari Jamaica Cafe yang tangan dan kakinya tidak sempurna, dia memiliki vocal yang sangat bagus dan memiliki kepercayaan diri yang besar sekali; Hee Ah Lee dari Korea yang cuma punya dua jari di masing2 tangannya dan kedua kakinya hanya sebatas lutut tapi dia mahir sekali bermain piano, music classic yang membutuhkan penguasaan tinggi;  sejak kecil oleh orangtua & saudara-saudaranya, mereka diperlakukan sama seperti anggota keluarga yang lain, tidak ada prioritas. Jadi mau ga mau mereka harus bisa melakukan apa-apa sendiri. Dan mereka tidak pernah merasa keterbatasan fisik mereka menjadi beban yang mengurangi rasa percaya diri mereka. Mereka merasa sama seperti orang kebanyakan. Mereka berlatih pantang menyerah sampai akhirnya bisa sukses seperti sekarang.
Sungguh salut dengan mereka ini. Dalam keterbatasannya, mereka berjuang pantang menyerah, hingga akhirnya bisa sukses melebihi orang yang merasa dirinya sempurna. Orang yang boleh dibilang sempurna seringkali gampang meyerah dengan sedikit tekanan. Akhirnya seringkali yang terjadi, kegagalan, dan tidak pernah berusaha untuk bangkit lagi, “Aku pasti bisa  dan harus bisa.”
Memang tidak ada orang yang sempurna, tiap orang pasti memilki kekurangan, tapi jangan sampai kekurangan itu menjadi batu yang menghambat langkah untuk maju. Seseorang bisa jadi cuma punya bakat 1%, tapi dengan kerja keras, keringat, semangat, pantang menyerah (jika diakumulasi mencapai 99%), pasti akan bisa sukses.
Berbeda dengan orang yang punya bakat 50%, yang tidak pernah berusaha mengasah dan mengembangkan bakatnya, tidak pernah berlatih, belum tentu dia bisa sesukses orang dengan bakat 1% yang rajin mengasah bakatnya. Jika tidak diasah bakat itu lama2 akan menipis terkikis oleh waktu.

Yah, bagaimana pun kalau mau sukses, kuncinya kerja keras disertai doa. Kita yang memilih kemana kita akan melangkah, tetapi Dia juga yang pada akhirnya menentukan kemana pada akhirnya langkah kita.

He he Kick Andy-nya sudah selesai, tapi setrikaan kok ga habis-habis ya. Jangan2 karena keseringan melototin TV atau karena saking malesnya mpe strikaan numpuk banyak. Ya udah deh lanjut besok lagi.

No comments:

Post a Comment