Thursday, November 17, 2011

Ketemu Teman Lama

Tuesday, October 14, 2008

Liburanku kemarin aku sempat ketemu teman lamaku. Teman semasa kuliahku, teman satu kostku dulu waktu pertama kali aku merasakan jadi anak kost. Aku kangen dia. Sudah begitu lama tidak ketemu. Sejak lulus kuliah, kami tidak pernah bertemu lagi. Ya, sejak tahun 2001, sudah 7 tahun. Waktu dia menikah, aku juga tidak datang. Waktu itu kami lost contact. Dia cuma punya 1 no HP ayahku, waktu itu katanya ia mencoba menghubungi tapi gagal terus. Sampai saat aku tahu sudah ada si kecil di rumah mereka, aku juga belum ada kesempatan menemuinya. ‘Ra, suatu saat nanti, aku pasti akan menemuimu,’ janjiku waktu pada akhirnya kami bisa berhubungan lagi, via telepon tentunya.

Seorang teman yang amat baik dan perhatian padaku. Yah, dia selalu peduli padaku. Sama2 anak kost dengan uang saku yang pas2an, dulu kita sering masak bareng. Tapi karena seringnya aku tidak di kost, coz padatnya jadwal kuliah and jadwal main tentunya, dia yang lebih sering masak untuk kami. Kadang2 aku sudah makan di luar dengan temanku, tapi dia sudah menyiapkan masakan untukku. ‘Nok, udah kumasakin. Nanti dimakan ya!’
Akhirnya karena tidak tega, kumakan juga. So…. Wajar klo di tahun pertama kuliahku, aku ndut bgt. He he makan mulu.

Kita kuliah di kampus yang sama tapi berbeda kelas, aku group B, dia group A. Aku ga tahu, kenapa pada akhirnya aku memutuskan mengambil jurusan Akuntansi. Padahal backgroundku dari kelas IPA. Dulu waktu SMP aku pernah suka sekali pembukuan, karena gurunya cara mengajarnya menyenangkan sekali. Memasuki SMA, aku jadi kurang suka, coz tidak terlalu suka cara mengajar gurunya. Tyt, cara mengajar guru besar pengaruhnya ya terhadap minat kita terhadap sebuah mata pelajaran, yg pada akhirnya berpengaruh pada nilai2 kita. Guru yang cara mengajarnya enak, memacu kita untuk bisa dapat nilai bagus, suasana belajar jadi begitu menyenangkan. So… pantas saja dulu waktu SMP nilaiku Fisika, Matematika, Bhs. Inggris, Bhs. Indonesia lumayan bagus, coz aku suka dengan gurunya, malu di depan guru klo dapat nilai jelek. Setelah SMA, semua menjadi begitu berbeda, terbiasa sekolah di sekolah swasta yang terbiasa disiplin, dengan jadwal pelajaran ketat, semua harus memenuhi target kurikulum, dengan begitu banyak quis, so mau ga mau tiap hari kita harus siap dengan materi, kemudian melanjutkan sekolah ke sekolah negeri, yang semuanya dituntut untuk lebih mandiri, dengan kadang2 ada pelajaran kosong, dengan materi2 yang lebih sulit, dengan tingkat persaingan yang lebih ketat, dengan aturan2 yang tidak ketat. Jadi seperti lepas dari kerangkeng, bebas lepas. Akhirnya harus pasrah saat mendapati  nilai jelek dan lama2 dapat nilai jelek sudah terbiasa.

Di bangku SMA cita2ku berubah, aku pengin masuk kelas IPA. Di SMA-ku waktu itu penjurusan di kelas 3, 5 kelas IPA dan 1 kelas IPS. Semua berlomba-lomba pengin masuk kelas IPA, coz gengsinya lebih tinggi. Kelas IPS banyak yg menganggapnya sebagai kelas buangan.  Yah, pada akhirnya, saat kelulusan, kelas IPS banyak yg membuktikan, tyt mereka bisa lebih sukses. Nilai kelulusan mereka banyak yang lebih bagus dp anak IPA. Banyak yg diterima di PTN. Akhirnya ada beberapa anak IPA yang bilang, ‘Jangan2 kita salah ambil jurusan ya? Kenapa dulu kita ga ambil IPS saja ya?’ He he he

Dulu aku pengin bisa masuk Arsitektur atau Farmasi UGM. Cita2ku di waktu SMA ingin menjadi seorang arsitek, aku suka mendesain rumah, mendesain interiornya, atau kalau ga bekerja di perusahaan Farmasi, bukan sebagai apoteker tapi lebih di bagian produksi obat2an. Aku dulu suka sekali pelajaran Kimia, yah tentu saja karena cara mengajar gurunya yang begitu menyenangkan dan nilai2ku tidak terlalu jelek. Tapi aku harus mendapati kenyataan, guru Kimia-ku di kelas 3 cara mengajarnya sama sekali tidak enak, aku jauh lebih suka cara penyampaian tentorku di bimbingan belajar.

Tapi yang terjadi kemudian jauh di luar rencanaku. Aku tidak lolos UMPTN, sedangkan aku dulu terlalu idealis, aku mau kuliah jurusan IPA cuma kalau keterima di PTN saja, kalau akhirnya harus kuliah di swasta, aku akan banting stir ke Ekonomi, Akuntansi tentunya, karena aku tidak terlalu suka mata kuliah yang banyak teorinya, aku lebih suka yang banyak hitungannya. Dan pada akhirnya jalanku memang di sini, terjun di bidang Akuntansi.

Tadinya, anak IPA selalu menyepelekan anak IPS. Ah itungannya mah gampang, ga serumit IPA, ada Fisika, Matematika jauh lebih sulit. Dan pada akhirnya aku harus mengakui, tyt tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Aku sudah banyak melupakan pembukuan. Dan tyt begitu banyak hitungan dan kasus2 di dalamnya yang penyelesaiannya bukan hanya berdasar teori dan rumus, tapi juga menggunakan rasio dan tiap hitungan hasil akhir harus balance. Aku cukup kerepotan dibuatnya. ‘Harus balance!’
Di masa2 transisiku beralih ke bidang Ekonomi ini, Era yang banyak membantuku. Tugas2 yang harus dikumpulkan, aku banyak menyalin tugas Era. Ya, dia begitu pintar, nilai2nya selalu bagus. Mau ujian juga, aku belajar dari soal2 kasus yang sudah diselesaikannya. Terimakasih Era, berkat kamu, nilai2 PA I & PA II ku bisa bagus.

Selama 1 tahun yaitu selama kuliah Smt I & II aku satu kost dengan Era. Tahun ke-2 kita memutuskan pindah kost, dan kita memilih kost yang berbeda. Waktu itu sebenarnya Era mengajakku sekost dengan dia, berbagi kamar, coz kamarnya begitu luas, tapi aku tidak mau coz keadaan kost yang menurutku begitu menyeramkan. Rumah tua peninggalan Belanda, dengan kamar besar2 dan suasana yang bikin merinding. Hi……….
Akhirnya di tahun kedua kuliahku, aku berpisah dengan Era.
Berpisah dengan Era, memaksaku untuk lebih mandiri. Tidak ada lagi yang bisa menjadi tempatku bertanya, tidak ada lagi yang bisa mengajariku, tidak ada lagi yang PR-nya bisa kupinjam untuk kusalin. Tapi ini bagus buatku, kalau tidak karena terpaksa seperti ini mungkin selamanya aku akan tergantung terus dengan Era.

Jadwal kuliah yang begitu padat. Di Smt I dan II jadwal kuliah masih jadwal paket, semua mahasiswa baru mengambil mata kuliah yang sama. Mulai di Smt III (Smt pendek) baru memilih mata kuliah berdasarkan IP mahasiswa. Mahasiswa dengan IP di atas 3 dan tidak ada mata kul yg harus diulang,  bisa mengambil mata kuliah baru. Ya, di kampusku materi kuliah yang seharusnya diselesaikan dalam 3 tahun, bisa diselesaikan dalam 2 th, tentu saja syaratnya nilai mata kuliah prasyarat harus bagus terus minim C, tiap semester pendek ambil mata kuliah baru. Sekali saja ngulang mata kuliah prasyarat, berarti harus rela lulus mundur 1 semester. Dan aku berjuang untuk bisa selesai dalam 2 tahun. Lumayan bisa irit biaya kuliah, dan aku pengin cepat kerja, biar bisa bebas membelanjakan uangku sendiri, untuk membeli apapun yang kuinginkan.
Dan konsekuensinya, aku harus rela sebagian besar waktuku kuhabiskan di kampus. Ya tiada hari tanpa ke kampus. Dengan jadwal padat dari pagi mpe sore. Jadwal paling pagi pk.07.00 WIB, paling sore kuliah selesai pk.18.15 WIB. Senin-Jumat jadwal full, Sabtu libur, kecuali ada mata kuliah tambahan atau mata kuliah pengganti.

Pulang kuliah tidak bisa begitu saja bermain, begitu banyak tugas dari berbagai mata kuliah. Banyak soal dari buku literatur dalam bhs. Inggris. Jadi kerja dua kali, memahami soal dulu (translate) kemudian baru mengerjakannya. Belum lagi banyak Praktikum Studi kasus. Kalau untuk mata kuliah Laboratorium ini, buku kerja tidak boleh dibawa pulang, jadi sekali saja tidak datang kuliah Praktikum, bakal ketinggalan banyak. So… untuk mata kuliah praktikum ini jarang ada mahasiswa yang bolos, coz jika harus mengulang, per-sks-nya terbilang mahal. Tapi pada akhirnya semua bisa kulalui dengan baik, tentu saja sekali2 Era masih menjadi tempatku bertanya. Pada akhirnya mata kuliah yang kuambil maju 1 semester lebih dulu dari Era, coz karena sesuatu hal, dia 1 x tidak mengambil semester pendek.

Era, akhirnya kemarin kita bisa ketemu. Setelah 7 tahun. Masih Era-ku yang dulu. Yang selalu peduli padaku, selalu mengkhawatirkan aku. Dan tak pernah bosen2nya bertanya, ‘Mana Undangannya? Kapan?’
He he Era…. Sabar ya. Nanti kalau aku ke sini lagi nganter undangan, kamu jemput aku lagi di Delanggu ya. Rumahmu susah bgt dicari, klo kemarin km ga menjemputku di Delanggu, mpe sore juga kayanya rumahmu belum akan ketemu.

Era yang sekarang, masih secerewet dulu, masih sepintar dulu. Hanya terlihat lebih keibuan. Ya, memang sudah jadi seorang Ibu. Ibu Era.
Gadis kecilmu begitu lucu. ‘Anggun’ namanya. Sudah 5 thn, sudah TK.
‘Tante2….. sini.... difoto ya!’ Dan jepret…. Berkali-kali Anggun memotretku dengan HP ibunya. Si kecil yang manis, amat mirip ibunya.
‘Mirip kamu Ra!’ kataku, ‘Cerewetnya juga kaya kamu.’
‘He he, aku cerewet po piye?’ kata Era.
Anak yang pintar. Cerewetnya tidak manja, tidak merajuk seperti kebanyakan anak kecil. Cerewet yang cerdas. Banyak bertanya hal2 yang ingin diketahuinya. Aku menyukainya. Senangnya jika punya anak sepintar Anggun.

Di belakang rumah Era ada pohon talok, atau di Bandung biasa disebut kersen, atau bolehlah dibilang cerry hutan. Buah di masa kecilku. Dulu begitu senangnya memanjat pohon talok, makan langsung di pohonnya, alangkah enaknya. Akhirnya coz saking seringnya dipanjat dan biarpun dimarahi tetep memanjat, pohon talok di depan rumah ditebang oleh ayahku. Sedihnya….....
Buah talok di tempat Era berbuah banyak, di area kebun belakang yang bertembok tinggi, so aman dari tangan usil anak2 yang main. Pohonnya belum terlalu tinggi, jadi masih bisa kuraih. Dan si kecil Anggun dengan beraninya memanjat memakai tangga yang disandarkan ke pohon talok.
“Anggun ayo turun, nanti jatuh!’ larang ibunya. He he… jadi inget dulu waktu kecil aku juga bandel.
‘Tante2…. Ini ada lagi Tante…. Yg ini sudah merah. Ini kupetikin untuk Tante.’
‘Terimakasih Anggun.’
Anggun memberikan satu genggam buah talok merah untukku.
‘Coba dihitung ada berapa? Sudah bisa berhitung belum?’
dan Anggun sudah pintar berhitung. ‘Satu., dua, tiga,……. Ada empat belas Tante.’
‘Pintar! Kalau Tante ambil lima, masih berapa?’
Dan Anggun mulai berhitung lagi. ‘Satu, dua, tiga…… Tinggal sembilan Tante.’
Ah dasar anak kecil.

Keluarga baru yang bahagia. Mereka kini tengah menanti lahirnya anak ke-2. Semoga semua lancar ya Ra.
‘Anggun, nanti gantian maen ke rumah Tante ya!’
‘Ya…,’ jawab si kecil.
‘Nanti nunggu undangannya dulu,’ seloroh Era.
Ah Era…. Kok dari dulu pertanyaanmu itu2 aja. Yang kreatip dikit napa.
Sampe ketemu lagi Era. Senangnya akhirnya bisa ketemu Era + si kecil anggun yang lucu.

No comments:

Post a Comment