Thursday, November 17, 2011

Berkenalan dengan Mrs Dutch

Saturday, October 25, 2008

Rabu pagi, 22 October 2008, akhirnya aku berada di atas Lodaya lagi, 1 bulan ini 2x aku bolak-balik Bdg-Yk. Lodaya exctf kereta 2 No.7D. Pk.07.55 WIB, akhirnya aku sudah duduk manis di atas kereta. Bawa breakfast 2 Bavarian Donuts-nya Dunkin. Saat ada petugas memberikan segelas teh manis, kutolak, aku tidak biasa minum teh manis. Saat ada pramugari kereta (bener ga ya sebutannya) menawarkan makan, aku pesan mie goreng, bosan nasgor, tadi malam dah makan nasgor, 1 porsi ga habis.
Pk.09.00 mie gorengku datang. Lhadalah, kirain buat makan siang, tyt buat breakfast to, aku ga nanya sih tadi. Makan siang baru free. Lha, aku sudah kenyang makan 1 donuts, mie klo dah dingin ga enak. Akhirnya terpaksa dimakan. Kirain mie goreng biasa, tyt mie goreng instant. Ya sudah, tp habis juga.... He he....

Pagi kuhabiskan dengan sms-an ma teman kantor n teman di Yk. Lanjut baca buku. Bosan akhirnya pengin ngobrol ma sebelah. Di gerbongku banyak bulenya. Mau pada wisata ke Yogya mungkin. Di depanku, sepasang suami istri berambut pirang, di belakangku 2 cewek berbahasa Inggris. Di depanku Guide. Rada belakang lagi ada bule cewek, sendirian. Di deretan kursi persis di sampingku, ada bule cewek, berambut pirang. Masih muda, berumur sekitar 30-an. Aku duduk sendiri, lumayan hari itu tidak terlalu penuh, jadi rada leluasa, 2 kursi bisa buat sendiri.

2 bule cewek yg duduk di belakangku, tadinya mereka duduk di sebelah kanan. Oleh petugas kereta mereka disaranin pindah ke kursi di belakangku. Katanya view di sebelah utara lebih bagus. He he…. Aku baru ngeh. Dan tyt memang benar, view di sebelah Utara lebih bagus dp di sebelah selatan. Area persawahan berlatar pegunungan, cantik sekali. Ada sawah yg menghijau, ada yg sudah menguning, ada yg baru selesai dipanen, sungai2 lebar. Cantiknya…….
Semua ini baru kali itu benar2 kuperhatikan. Besok lagi klo perjalanan siang, memilih duduk di sebelah utara aja ah, biar bisa lihat pemandangan bagus.

2 turis di belakangku begitu terpesona dengan pemandangan ini. ‘so interesting’
Mereka mencoba memotret lewat jendela, tyt hasilnya kurang bagus, akhirnya mereka berjalan ke arah luar gerbong, memotret dari sana. Yah, Indonesia memiliki beraneka panorama yg bagus. Hanya kita kadang kurang menyadarinya, kurang mensyukurinya. Orang asing banyak yg memuji keindahan Indonesia, kita patut berbangga karenanya.

Kulihat seorang petugas kereta berjalan ke depan membawa satu baki penuh bir bintang. Buat apa bir pagi2 gini. Pas kuperhatiin, tyt di gerbong depan ada lebih banyak lagi bule, banyakan cowok. Oh….. bir itu pesanan mereka.

Akhirnya aku ngobrol dengan Mrs di sebelahku. Sebelumnya kudengar dia berbicara bahasa Indonesia, jadi aku menyapanya dalam bahasa Indonesia.
‘Halo!’
‘Halo!’
‘Mau ke Yogya?’
‘Ya, ke Yogya. Anda baca buku apa?’ Dia menanyakan buku yg tengah kubaca.
Kutunjukkan bukuku.’Berani berpikir besar. Mau ikut baca?’
‘Oh tidak. Saya bawa buku bahasa Belanda.’
Kutawarkan Intisari yang kubawa,’Atau mau lihat2 ini?’
‘Tidak, terimakasih. Saya buku2 bahasa Indonesia tidak terlalu mengerti.’
‘Bahasa Indonesianya sudah lancar ya?’
‘Sedikit. Baru belajar.’
‘Tapi itu sudah lancar.’
Dia tertawa.
‘Aslinya dari mana?’
‘Dutch. Belanda.’
‘Bisa berbahasa Inggris?’
‘Ya….. Do you speak English?’
‘A little,’ jawabku.
‘Kalau begitu, kita sama2 belajar. Anda berbicara ke saya pakai bhs Inggris, sy berbicara ke anda pake bhs Indonesia.’
‘He he…. Ga ah, malu..... Bhs Inggris saya kacau.’
‘Malu...? Kalau pengin bisa ga boleh malu. Harus sering praktek!’

Ga PD berbahasa Inggris di depannya, bahasa Indonesianya sudah lancar sekali, aku yg ga pernah berbahasa Inggris jadi grogi berbahasa Inggris di depannya. Vocab pada lupa, mana tenses n grammarku kacau. He he….. ga PD bgt. Mana di belakangku banyak turis, di depanku ada guide. Akhirnya kita ngobrol campur2. Dia pake bahasa Indonesia kadang diselipi bhs Inggris untuk kata2 yg dia tidak bisa meng-Indonesia-kan. Aku juga campur2, untuk kata2 yg dia tdk ngerti, sedikit2 kutranslate ke Inggris. Pokoknya kacau pisan. Mana nginget2 pendidikan tu bhs Inggrisnya apa kok ya lupa, ‘education’ bego…… Pas ngejelasin alun2 aku rada bingung….. akhirnya….. ‘wide playground’……. Dan dia tau, ‘closed your eyes…. Walk between two big trees……’
‘Yeah…’
‘Do you ever try?’
‘Never. Never try. But I know.’

Dia tanya, di Bandung aku tinggal di mana. Kusebutkan nama jalan, dia tidak tahu. Saat aku sebut Atmosfere cafe, dia baru tahu.
‘Sering makan di sana?’ tanyanya.
‘Once,’ jawabku.
‘Kenapa?’
‘So expensive....’
‘Ya.... restoran di Bandung dan Yk mahal2!’ katanya.
‘Pernah makan di angkringan?’
‘Apa itu angkringan?’
‘Lesehan!’
‘Saya tidak mengerti.’
Bingung jg neranginnya…… ‘sit on the……’ tikar bhs Inggrisnya apa ya, ga tau….. ‘sit on the floor’..... duduk di tikar.’
‘Ya... ya.... saya tau. Yah, nanti saya akan coba,’ katanya. ‘Saya supaya bisa berhemat, saya masak sendiri.’
Ngomong campur2, yg penting kita sama2 ngerti lah. Biarin yg di depan atau yg di belakang pada ngetawain. Tapi ga kudengar ada yg ngetawain atau coba meralat pembicaraan kami yg salah, mungkin mereka pada ketawa dalam hati. Ni orang bahasanya payah banget. Malu2in Indonesia aja ya. He he……
Namanya juga baru belajar.

Dia asli Belanda, tinggal di Indonesia untuk 6 bulan dan sudah berjalan 4 bulan. Jadi mau ga mau dia harus belajar bahasa Indonesia. Suaminya orang Indonesia asli, bekerja untuk travel, bekerja di Bandung. Sedang Mrs ini tinggal di Yogya, jadi dia sebulan sekali bolak-balik Yk-Bdg, untuk mengurus visa, katanya.
Dia tinggal di Yogya selatan, masuk Kab. Bantul, jadi penduduk sekitar rumahnya berbahasa Jawa.
‘Bisa bahasa Jawa?’ tanyaku.
‘Tidak. Orang2 di dekat rumah berbahasa Jawa, tapi saya tidak mengerti. Anak2 kecil suka mendatangi saya.......’Halo Mister’....... tapi pas saya dekati, mereka lari. Mereka mau belajar bahasa Inggris, tapi malu. Tidak boleh malu ya!’

Waktu kutanya dia lebih suka tinggal di Yk atau Bandung, dia bilang Yk panas, tp dia lebih suka tinggal di Yk dp di Bdg. Lebih banyak tempat menarik di Yk dp Bandung katanya. Dia suka masakan Indonesia, masakan Jawa, masakan Sunda, masakan Padang, dia suka. Tapi dia tidak suka gudeg. Mungkin karena terlalu manis dan sebenarnya kandungan gizinya aku juga sangsi apakah masih ada coz proses memasak yg terlalu lama. Lencak...., makanan yg mpe saat ini aku belum bisa merasakan nikmatnya, dia begitu menyukainya.
‘Kenapa tidak suka?’ tanyanya.
“Pahit...... Sour......!’jawabku.

Aku juga tanya tentang negaranya. Katanya di sana ada 4 musim. Perbedaan temperature antar musim begitu tinggi, so dia khawatir klo mengajak suaminya tinggal di Belanda, sepertinya tidak akan kerasan. Perbedaan temperature dan budaya. Kita harusnya bersyukur, tinggal di daerah tropis. Perbedaan temperatur antar musim tidak terlalu tinggi. Antara musim hujan dan musim panas, perbedaan temperaturnya tidak akan melebihi 10ºC. Di Eropa, perbedaan antara musim panas dengan musim dingin bisa mencapai 40-50ºC. Suhu terendah bisa sampai minus 4-5ºC. Suhu tertinggi bahkan pernah mencapai 41ºC, akibatnya banyak korban meninggal. Dulu aku pernah membayangkan, andaikan Indonesia sekali2 turun salju, pasti akan menyenangkan sekali. Pengin merasakan kejatuhan salju, bermain salju, membuat boneka2 salju, memakai mantel hangat+syal tebal yg lucu2. He he.... tapi itu dulu, sekarang dah ga pengin lagi. Aku menyukai indonesia yg seperti ini. Negara dgn 2 musim, kemarau dan hujan. Jika sampai Indonesia mengalami musim salju, berarti dunia, alam semesta sudah benar2 kacau. Keseimbangan alam semesta sudah benar2 mengalami pergeseran total, dan ini berarti tanda2 akhir zaman..... he he.... akhir riwayat bumi ini sudah semakin mendekat. He he...... jangan deh.

‘Belanda kota yang indah, saya suka tulip dan kincir anginnya. Juga suka coklatnya, suka dibawain teman,’ kataku.
‘Oh…. Kamu tau tulip, tau kincir angin?’
‘Ya…..’
‘Kalau coklat di Belanda, sy tdk suka. Sy lebih sk coklat Indonesia. Di sana coklat rasa buah tdk enak. Rasa buahnya aneh.’
Yah, mungkin benar rumput tetangga terlihat lebih hijau. Coz aku jarang mkn coklat Belanda, so ak ngrasa lebih enak. Coz jarang makan n dpt gratis lg.
‘Di sini kamu bisa dapat coklat Belanda di Supermarket, ‘Van Houten’. Tapi harganya mahal sekali.’
‘Ya, sy blm pernah beli. Biasanya dikasih.’
‘Tinggal di Belanda berbeda dengan di Indonesia. Di sana kota yg sibuk. Berbeda dgn di Indonesia. Di sana semua sibuk.’
“Klo di Indonesia lebih santai ya?’
‘Ya, di sini lebih santai. Makanya saya suka tinggal di sini. Lebih santai. Orang Indonesia tidak akan suka tinggal di sana’
Aku tanya, apakah musim dingin di sana ada banyak salju. Katanya ada, tapi cuma dikit, dan cuma berlangsung 2 sampe 3 hari. Salju yg banyak ada di Perancis atau Swiss.

Aku juga cerita tentang pantai. Yah, dia pengin ke pantai. Kuceritain tentang pantai di Wonosari, pantai pasir putih, kusarankan untuk ke Pantai Sundak atau Siung, masih alami, belum terlalu ramai.
‘Yah, nanti kapan2 saya ajak suami saya ke sana.’
Mrs ini juga pengin ke Papua. Aku bilang di sana pemandangannya masih alami, bagus. Ada hutan2, banyak air terjun, pantainya masih bersih. He he… aku cuma lihat di TV and dari cerita si Week aja, belum pernah ke sana.

Yah, kami banyak membahas tentang obyek2 wisata. Dia bersama suaminya berencana membuat biro travel sendiri selepas suaminya berhenti kerja nanti. Biro travel bagi turis2 dari Belanda. Kami membicarakan obyek2 wisata yg kemungkinan akan menarik minat2 turis dari Belanda.

Akhirnya saat aku harus bayar breakfast-ku, kutanyakan sekalian menu makan siang. Kata mbaknya, klo ga nasi rames ya nasi goreng. Kata si Mrs, saya ga mau nasi goreng, saya maunya nasi rames.
‘Kenapa ga mau nasi goreng?’
‘Asin.’ Katanya.
‘Pernah coba?’
‘Ya, dan saya tidak mau lagi. Nasi ramesnya bagus tidak?’
‘Saya belum pernah. Biasanya saya nasi goreng.’
Dan waktu makan siang kami datang, pk.12.00. Dia makan duluan.
Setelah selesai kutanya? ‘How about the taste?’
‘Cukup bagus. Kamu musti coba. Kenapa belum dimakan?’
‘Ya habis ini mau saya makan,’ aku masih sibuk contact temanku.
Setelah aku selesai makan, dia tanya,’Bagaimana makannya?’
‘Lumayan…….’ Kataku. Dia ketawa.
‘How about the breakfast?’
‘Asiiiiiiiiinnnnn,’ kataku. Dia ketawa. Untung dia tidak pesan mie goreng, dia tidak akan suka.

Akhirnya sampai juga ke stasiun Tugu. Aku sudah gelisah sejak pk.15.00. Kenapa kereta terlambat......? Aku tidak akan keburu menghadiri pemakaman kakekku.
Akhirnya berpamitan dengan Mrs ini. Namanya berinisial ‘G’.
‘Nice to meet you!’ kataku.
‘Nice to meet you too! Have a good day!’
‘Have a good day too!’

Kusarankan ke dia keluar lewat pintu selatan saja, lebih dekat ke arah rumahnya. Tyt sekeluar dari kereta, kita masih berjalan beriringan. Dia pulang dengan naik taksi. Kusarankan ke dia untuk menawar taksi. Di Stasiun harga taksi nego, argo tdk berlaku.
‘Saya tidak mau tawar. Saya lebih suka pakai argometer!’
‘Tapi di stasiun taksi tidak mau pakai argo. Kalau dia minta nego, ditawar saja!’ kataku.
Akhirnya kita berpisah. Aku dijemput temanku.
‘Bye!’
‘Bye!’

Kulihat dia tidak sepakat dengan taksi di dalam, dia terus berjalan keluar. Mungkin mau mencari taksi di luar stasiun.
Salut dengan Mrs G ini, semangatnya begitu tinggi. Di negeri asing sendiri, dia berani. Dan dia pandai beradaptasi, begitu cepat dia bisa menguasai bahasa Indonesia dan menyesuaikan lidahnya dengan makanan Indonesia.
Sukses ya Mrs G. Semoga rencanamu bersama suami bikin usaha travel atau biro wisata di Yogya untuk turis2 dari Belanda berjalan lancar.
Hoping someday……….  Could meet you again
Perhaps in the same train again
I hope so.

No comments:

Post a Comment