Tuesday, June 10, 2008
Jenggo.
Ini anjing yang kukenal sejak aku masih kecil. Aku tidak ingat sejak kapan dia ada. Anjing yang paling setia di antara anjing2 yang pernah kami miliki. Dulu dibawa oleh Omku. Omku juga yang memberinya nama Jenggo. Anjing yang manis dan penurut. Warnanya putih ada sedikit bercak coklat. Badannya ndut, mukanya ramah. Anjing penjaga yang baik. Tiap malam, jika ada bunyi2 mencurigakan, Jenggo pasti menggonggong. So rumahku aman karena Jenggo begitu pintar menjaga rumah. Anjing yang tidak rewel. Mau makan apa aja. Suka puasa Senin-Kamis. Dulu aku suka heran, tiap Senin ma Kamis tidak pernah mau menyentuh makanannya. Kata nenekku, Jenggo lagi puasa. Wah…. Jadi malu. Aku jarang banget puasa, malah dulu bisa dibilang ga pernah puasa, kalah ma anjingku.
Jenggo, anjing yang setia. Dan selalu ingat sama siapa pun yang baik padanya. Omku yang dulu membawa Jenggo, dia kerja di luar kota. Setiap pulang ke Yogya, Jenggo pasti menyambutnya. Selalu ikut ke mana pun Omku pergi. Kadang diajak hiking ke bukit di samping rumah. Aku kadang juga suka ikut. Berpetualang sambil cari buah duwet. Kita menyeberangi sungai dulu, dan Jenggo tidak takut sungai, dia pintar sekali menyeberangi sungai. Cukup melelahkan, tapi akan sangat menyenangkan saat sudah sampai puncak. Pemandangannya amat bagus. Dan kita baru akan turun pulang kalau senja sudah merayap. Takut ga bisa lihat sekitar karena dulu di bukit itu belum ada listrik.
Jenggo bukan anjing yang suka keluyuran, dia selalu ada di rumah. Pada akhirnya, saat aku kelas IV SD dia mati karena sakit. Dia mati di rumah dan dikubur di dekat rumah. Memang sudah tua umurnya. Mungkin memang sudah waktunya. Jenggo, kami tidak akan pernah melupakan kamu. Adikku yang paling kecil mungkin belum mengenal Jenggo, karena saat Jenggo ada di tengah2 kami, dia belum lahir, kalaupun sudah lahir masih terlalu kecil.
Goggy
Sesudah Jenggo mati, Omku kembali pulang membawa anjing kecil. Kami senang sekali, berharap anjing ini akan setia dan semanis Jenggo. Warnanya hitam sedikit belang coklat. Kami panggil Goggy.
Sebenarnya Goggy nama ayam kecilku, ayam yang kupiara dari kecil. Waktu itu induknya baru menetaskan anak2 ayam baru. Ada 1 anak ayam yang masih kecil yang tersisa dari hasil penetasan sebelumnya jadi diabaikan oleh induknya. Aku kasihan ma dia. Kuminta dia dari nenekku untuk kurawat sendiri, dan nenekku mengijinkan. Pernah waktu itu dia habis dilempari batu oleh tetanggaku, kakinya luka dan jalannya pincang. Karena ga tega, kakinya yang luka kutetesi getah pohon yodium kemudian kubalut dengan sobekan kain. Usahaku berhasil, kakinya membaik, jalannya normal lagi. Tiap pagi aku yang kasih dia makan. Dia jadi dekat ma aku. Warnanya abu2 muda, jarang kulihat ayam yang warnanya bagus kaya Goggy.
Suatu ketika dia sakit (dalam bhs Jawa disebut gering). Aku kasih minum bodrexin, ditumbuk kecil2, dipaksa masuk melaui paruhnya bersama air. Akhirnya dia sehat lagi. Beberapa lama kemudian baru kelihatan, Goggy tuh ternyata ayam jantan. Goggy sudah gedhe.
Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, aku bingung nyari2 Goggy, mau memberi dia makan. Kok tidak ada. Dan aku lihat, ibu lagi masak ayam. Ayam siapa ini. Jangan2. Waduh….. Aku tanya ke ibu, tadinya ibu ga mau ngaku. Akhirnya Ibu bilang, ini Goggy, tadi pagi disembelih ayah, karena dia sakit. Hik hik hik…. Aku nangis, benar2 sedih. Kenapa ga bilang ma aku. Kasihan Goggy. Aku sama sekali ga mau makan dagingnya. Tapi akhirnya, aku mau juga makan ati-ampelanya. Aku memang suka banget ati ampela. Ga rela ati ampela Goggy jatuh ke tangan orang lain.
Lanjut lagi ke anjing kecil, tadinya aku ga rela anjing itu dikasih nama Goggy, nama Goggy cuma boleh untuk ayam kecilku yang sudah mati. Aku ngotot ga boleh. Tapi nenekku tetap keukeuh memanggilnya Goggy. Jadilah nama Goggy jadi panggilannya, karena semua tetangga ikut2an memanggilnya Goggy.
Goggy, mungkin anjing yang paling malang yang pernah kami piara. Dia nakal sekali. Suka nyolong makanan. Sandal-sandal pada rusak digigitnya. Kaos kaki pada ilang sebelah. Suka mengejar-ngejar tetangga dan menyalak seenaknya. Banyak anak kecil pada takut karena dia ga akan segan2 menggigit. Jadinya kami sekeluarga tidak terlalu menyukainya. Setelah agak besar dia jadi suka keluyuran ga jelas. Sudah masa puber kali. Aku suka malas kalau disuruh nyari Goggy. Nanti juga pulang sendiri. Beberapa hari dia ga pulang2, dan ada kabar Goggy sudah mati ketabrak mobil. Memang bandel sih si Goggy.
Untul-Untul
Ini anjing ketiga kami. Dari pertama datang semua langsung jatuh hati. Anjing yang paling kusayang. Dibawa adik sepupuku. Warnanya putih bersih, ndut. Lucu banget, percis boneka panda. Sampai2 temanku waktu lihat fotonya dikira itu boneka panda. Hampir kaya Jenggo, tapi lebih lucu. Kupingnya lebar suka goyang2. Badannya elastis banget, bisa tengkurap dengan posisi kedua kaki menempel di lantai. Menggemaskan sekali. Kalau tidur kaya bayi panda lagi tidur. Saking ndut-nya kalau berjalan untul… untul… untul…. untul… Akhirnya aku memanggilnya Untul-untul. Adikku protes, ga mau nama itu. Dia punya nama sendiri. Aku tetap memanggilnya Untul-untul. Pada awalnya tetangga yang mendengar aku memanggil Untul-untul pada ketawa, nama yang aneh, katanya. Pada akhirnya semua jadi ikut2an memanggil Untul2. Adikku kalah suara, akhirnya ikut memanggil Untul2. Saking lucunya, orang perumahan yang pada lewat suka ada yang mpe berhenti pengin mengelus Untul2, pengin dibeli, dibawa pulang. Kita tentu saja keberatan. Untul2 memang rada bandel, suka menggigit sandal orang, tapi kami semua sayang dia.
Pada akhirnya aku harus meninggalkan Untul2, karena harus mulai kerja di Bandung. 3 bulan kemudian waktu aku pulang, Untul2 masih ingat aku. Dia menyambutku. Alangkah kagetnya aku. Kaya bukan Untul2. Badannya jadi gedhe banget, tapi masih tetap lucu. Secepat itu dia tumbuh. Pada akhirnya kami harus rela kehilangan dia. Untul2 hilang dicolong orang. Adikku yang paling kecil mpe nangis berhari-hari. Kata temanku, si Nick nangisnya kaya orang habis kesripahan (ada keluarga yang meninggal). Aku di sini juga nangis, ga rela kalau Untul2 diapa-apain. Tiap lihat foto Untul2 jadi nangis. Kita pada ga tega, karena ada dugaan, Untul2 dicolong untuk dijadiin sengsu (tongseng), di Yogya laris banget. Untung terakhir pulang, aku sempat memberi makan Untul2, mengelus-elusnya. Ya, anjing yang paling kami sayang, akan selalu kami ingat. Dan anjing kami yang paling sering difoto.
Goggy II
Anjing pengganti Untul2 warnanya juga putih. Tapi tidak selucu Untul2. Nenekku keukeuh memanggilnya Goggy. Akhirnya dipanggil Goggy. Aku lupa dulu dapat dari mana. Anjing yang ga rewel dan baik. Warnanya putih ada sedikit semburat coklat. Badannya tegap tinggi langsing. Gagah kataku, posturnya seperti kuda. Suka ngikut ke mana pun tuannya pergi. Ada tetanggaku yang sayang ma Goggy, Goggy jadi betah main ke sana karena begitu diperhatikan dan suka dikasih makan. Aku yang heran, waktu resepsi pernikahan kakakku (tetangga depan rumah yang karena saking dekatnya sudah seperti kakak sendiri), aku bertugas jadi among tamu. He he mau ga mau dandan Jawa, disanggul, pake kain + kebaya. Goggy ngikutin aku terus. Saat aku bertugas di meja penerima tamu, Goggy ngumpet di bawah meja. Aku khawatir, saat tamu2 pada makan Goggy bakal bikin kacau. Kupulangin Goggy ke rumah, dikunci dari luar. Ternyata dia pintar, bisa keluar dan menyusulku lagi. Syukur apa yang kukhawatirkan tidak terjadi, hari itu Goggy begitu manis, diam di bawah mejaku, menemaniku sampai tugasku selesai. Dan itu kenangan manis terakhirku bersama Goggy II, karena setelah kepulanganku ke Bandung, adikku menelepon, Goggy mati diracun orang. Duh…. Siapa sih yang tega, Goggy II kan tidak nakal.
Boggy
Mungkin cuma dua hari Boggy ada bersama kami. Dibeli dari tetangga beberapa blok dari rumah kami. Dikasih nama Boggy karena dibawa hari Rebo legi. Dari datang sudah langsung disunat, takut setelah puber dia akan pergi mencari pasangannya. Ternyata dia tidak kerasan bersama kami. Malam2 dia pulang kembali ke rumah pemilik lamanya. Ya sut……..
Chocky & Nolly
Sepasang anjing lucu yang tidak akan pernah kami lupakan. Lucu banget. Adikku dapat dari temannya. Aku paling suka ma Nolly. Biarpun nakal, tapi dia lucu banget. Chocky lebih kalem, warnanya coklat gelap. Nolly rada bandel, warnanya putih bercak hitam, di sekitar matanya ada lingkaran hitam, lucu kaya boneka. Kami lebih sayang Nolly. Tapi nenekku lebih sayang Chocky karena tidak nakal. Badannya ndut, posturnya percis Untul2. Sama kaya Untul2, setelah 3 bulan kutinggal ke Bandung, waktu pulang lagi, badannya jadi gedhe banget. Tapi mereka tidak melupakanku. Senangnya hatiku. Aku pulang disambut mereka. Dibuntuti ke mana pun aku pergi. Sampe2 aku akhirnya jadi risi, karena mulutnya ga mau lepas dari ujung celana jeans-ku, terutama si Nolly. Akhirnya aku naik ke kursi, tapi Nolly pintar, dia bisa ikut naik ke kursi.
Pada akhirnya untuk kesekian kali, kami harus rela kehilangan Nolly dan Chocky karena diracun orang juga. Tadinya sudah di-warning, habis kejadian Goggy II, Chocky-Nolly tiap malam harus dimasukkan ke rumah. Tapi yah, siapa yang tahu. Akhirnya terjadi lagi.
Rumah jadi sepi ga ada Chocky n Nolly yang suka lari kejar-kejaran.
Kisso
Anjing kecil seperti pudel, badannya panjang, warnanya coklat. Adikku yang paling bungsu dapat dari temannya. Dia tadinya keukeuh ga mau nama Kisso, yg kata adikku artinya cium (bahasa Jepang ato Itali, aku lupa). Dia mau nama lain. Karena aku keras kepala tetap memanggilnya Kisso, akhirnya dipanggil Kisso. Kisso tidak lama bersama kami. Suatu malam dia ditembak orang. Siapa sih yang tega. Darah berceceran ke mana2. Adikku yang paling kecil, yang selama ini merawatnya sampai menangis, ga tega melihat Kisso begitu lemas banyak kehilangan darah. Akhirnya Kisso tidak tertolong.
Kisso II
Aku ga begitu tau anjing ini. Aku lupa adikku memberi nama apa, tapi aku memanggilnya Kisso juga. Aku Cuma melihatnya sebentar waktu aku pulang tahun kemarin. Warnanya hitam legam sampai ke mata-matanya. Kalau difoto sama sekali ga kelihatan kalau itu anjing karena saking hitamnya. Anjing tetanggaku yang lebih gedhe mpe ketakutan, benar2 ketakutan, sampai menggigil tiap didekati Kisso. Kita jadi sering mengganggunya. Memang menakutkan anjingku ini, anak2 kecil banyak yang pada takut, ga berani ke rumah. Akhirnya mereka lebih memilih beli pulsa ke tempat yang lebih jauh karena takut dengan Kisso (He he adikku jualan pulsa kecil2an di rumah). Tetangga2 yang pada belanja ke warung depan rumah juga suka ketakutan, akhirnya Kisso lebih sering dikurung di rumah. Mang bandel sih, sukanya mengejar-ngejar orang. Beberapa minggu setelah aku kembali ke Bandung, aku dapat sms dari rumah mengabarkan kalau Kisso sakit, dibawa ke dokter hewan. Kata adikku mungkin masuk angin habis kehujanan dan ada kemungkinan ususnya luka. Disuntik ma dokter. Tapi Kisso tidak tertolong, hari berikutnya dia mati, bersamaan dengan matinya anjing depan rumah yang suka takut melihat Kisso.
Dua hari setelah kematian Kisso, 8 Anthurium (Gelombang Cinta) kesayangan ibuku ilang dicolong orang. Dan Ibuku tidak bisa marah, karena beberapa kali sudah kuiingatkan, tetangga dan tamu yang datang juga mengingatkan supaya Anthuriumnya disimpan di dalam rumah, banyak kasus Anthurium ilang. Ibuku Cuma ketawa-ketawa, ‘Anthurium kan titipan Tuhan, ilang juga ga papa’. Akhirnya ilang beneran deh, waktu ditelp, ibu malah ketawa-ketawa, Yah, titipan Tuhan, sudah diambil lagi sama yang punya. Ga bisa marah deh. Tapi kasihan Ibuku, berapa bulan dia telaten merawat Anthurium2nya. Sampe2 urusan rumah jadi nomor dua. He he.
Pada akhirnya kita jadi mengambil kesimpulan, anjingku dan anjing tetangga jangan2 sengaja diracun orang, biar bisa leluasa mengambil Anthurium ibuku. Sepertinya memang iya.
Yah, sejak saat itu tadinya kukira adikku yang bungsu sudah kapok, ga akan miara anjing lagi. Ternyata tidak. Nanti akan nyari lagi, katanya. Tapi sampe sekarang belum ada pengganti anjing2ku di rumah. Sekarang tidak ada yang sempat merawatnya, karena tukang rawatnya jadi anak kost. Suatu saat nanti kalau nemu yang cocok, pasti akan punya anjing lagi. Untuk meramaikan rumah kami.
No comments:
Post a Comment