Tuesday, November 15, 2011

CERITA TENTANG UANG SERIBU


Thursday, May 29, 2008

Hari itu aku mendapat tugas dari kantor mengirim sejumlah surat dinas ke jasa pengiriman kilat. Lebih kurang 40 amplop. Perkiraanku dengan membawa uang Rp.300.000,- sudah lebih dari cukup. Waktu aku minta uang ke temanku yang pegang kas kecil, dia menanyakan apakah uang segitu sudah cukup, kujawab dengan yakin bahwa nanti pasti akan ada sisa.
Akhirnya dengan diantar sopir kantor aku ke jasa pengiriman kilat. Ternyata ada berbagai pilihan paket pengiriman, aku memilih jasa super kilat, karena memang harus segera sampai tujuan. Melihat perincian bea pengiriman, aku jadi sangsi apakah uang yang kubawa mencukupi. Kuhitung uang dari kantor Rp.300.000,- uang cash-ku sendiri Rp.100.000,-, beberapa lembar rupiah, dan sejumlah koin rupiah. Semoga cukup, pikirku.
Aku minta tolong ke mbak petugas di sana untuk mengkalkulasi total biaya dulu sebelum di-print. Dan setelah menunggu agak lama, ternyata total biaya Rp.550.000,-.
Mati aku.  Masak harus balik lagi ke kantor mengambil uang. Di sekitar situ kulihat ga ada ATM lagi. Mau bayar pakai Debit juga ga bisa.
Aku tanya ke petugas di sana beda paket yang aku pilih dengan paket 1 level di bawahnya, aku lupa namanya. Ternyata jangka waktu sampai ke tujuan antara paket yang kupilih dengan paket 1 level di bawahnya sama. Perbedaannya hanya berdasarkan prioritas saja. Akhirnya aku minta ke mbaknya karena budget untuk pengiriman ini dianggarkan sekian maka surat dengan tujuan dalam kota dan luar kota terdekat diubah ke paket 1 level dibawahnya. Mbaknya memilah-milah sambil minta persetujuanku. Lumayan memakan waktu lama.
Kutulis sms ke temenku. “Hik hik hik, uangnya kurang. Pdh pengin beli mangga yg di dpn, kayanya enak bgt.”
Dia membalas. “Udah jangan nangis, nanti dibeliin semangka di sebelah.”
Setelah dihitung ulang total yang harus kubayarkan Rp.443.000,-. Semoga cukup pikirku. “Mbak, bayarnya sebagian pakai uang receh gapapa ya?,” kataku. Mbaknya mengiyakan sambil tertawa. Dengan sedikit cemas takut uangku ga cukup, kukeluarkan semua uangku + receh2nya. Pas Rp.443.000,-. He he kok bisa pas ya. Thanks God.
Akhirnya selesai sudah tugasku. Tinggal sekarang mikir gimana bayar parkirnya, sepeser pun aku sudah tidak pegang uang. Kurogoh kantong bajuku, setiap sudut tasku, ga menemukan yang namanya uang.
Akhirnya dengan menahan malu aku bilang ke Pak sopir.
“Pak, punten pisan, minta tolong parkirnya sama Bapak dulu ya, nanti di kantor saya ganti. Tadi uang saya sudah kepakai semua.”
“Ibu, kalau ga cukup bilang saja, saya masih pegang Rp.50.000,-,” bapak itu menawarkan.
“Makasih Pak, tapi yang tadi sudah cukup kok. Tinggal untuk parkir saja. Seribu rupiah. Makasih ya Pak.”
He he ga mungkin kan maksain beli mangga pinjam uang ke Pak sopir. Pinjam uang Rp.1.000,- saja sudah malu banget.
Di tengah jalan, dengan tidak terlalu berharap kurogoh saku kemejaku. Ha….. ada selembar uang Rp.1.000,-. Ternyata aku masih punya seribu lagi.
“Pak, ini untuk mengganti uang parkir tadi. Ternyata di saku saya ada. Terimakasih ya Pak.”
Aku jadi heran, kenapa uangku bisa pas ya, ga kurang ga lebih. Kok bisa! Aku tidak habis pikir dengan kejadian yang serba kebetulan ini. Yah, terimakasih Tuhan. Engkau yang telah mengaturnya. Dan begitu sering hal-hal yang serba kebetulan seperti ini kualami. Sebuah pertolongan dari Tuhan untukku. Dia tahu apa yang kuperlukan. Tuhan telah menyediakannya untukku.

Ya ampun uang seribu, ternyata berharga banget ya. Nilai kecil yang selama ini mungkin banyak disepelekan orang. Ah, Cuma seribu. Ternyata hari itu, tanpa uang seribu aku jadi begitu kelabakan. Dengan begini jadi lebih bisa menghargai sesuatu. Sekecil apa pun sesuatu itu, pasti punya nilai tersendiri. Uang satu juta kurang seribu juga belum satu juta.
So…. Belajarlah untuk lebih menghargai apa pun yang kita miliki, apa pun yang ada di sekitar kita.

Masih tentang uang seribu, jadi ingat kotbah Pastor waktu misa Paskah pagi. Pastor itu bercerita tentang uang seratus ribu, lima puluh ribu dan seribu rupiah.
Ceritanya seperti ini:
Uang seratus ribu dengan sombongnya berkata : Aku bangga menjadi uang seratus ribu. Aku sering diajak pesiar dengan kapal-kapal mewah, diajak naik pesawat keliling dunia, menginap di hotel-hotel berbintang lima, makan di restoran-restoran mewah.
Uang lima puluh ribu tidak mau kalah : Aku juga bangga jadi uang lima puluh ribu. Aku juga sering diajak naik pesawat, menginap di hotel mewah, makan di restoran mewah, belanja di mall-mall besar.
Uang seribu dengan tenangnya ikut berbicara : Aku juga bangga kok jadi uang seribu. Aku sering diajak ke gereja untuk persembahan / kolekte.

He he he, semua yang menghadiri misa tertawa. He…. Pasti yang suka kolekte uang seribu kerasa……………….. Termasuk aku. ^_^

No comments:

Post a Comment