Bandung, May 1, 2008
Hari Kamis kemarin, saat dah mulai ngantuk, mungkin jenuh ma kerjaan atau kekenyangan hbs makan siang ya, sebentar kubuka Reader’s Digest – April’08, kebetulan kantorku berlangganan, di Bag. Humor.
Kubaca sekali, kok perasaan ga ada lucu2nya sama sekali ya, lucunya di mana. Kubaca lagi, atau jangan2 aku salah mengartikan vocab-nya ya. Tapi kurasa tidak.
Aku bilang ke temanku seruang, ini humor di RD kok ga ada lucu2nya sama sekali ya. Coba ya dengerin, lucunya dimana:
Kubacain beberapa anekdot, kurang lebihnya seperti ini:
- Ada seorang pengusaha pulang dari kantor, sesampainya di rumah dia dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasanya. Didapatinya istrinya tergolek di tempat tidur tanpa busana sehelai pun. Katanya,’Wah kejutan di siang hari. Kenapa kamu tidak berpakaian?’ Jawab istrinya,’Aku tidak punya pakaian.’ ‘Tidak punya pakaian?’ Suaminya lantas membuka lemari dan menemukan, ‘Ini ada gaun warna merah, warna hijau…?’ Kata istrinya,’Maksudku, aku ga punya gaun warna ungu.’
Coba lucunya dimana?, kataku sambil tertawa.
- Ni ada lagi. Seorang pria pergi nonton ke bioskop dengan anjingnya. Anjing ini sangat pintar dan terlatih. Saat adegan lucu, anjing ini tertawa, begitu pun saat adegan sedih, anjing ini menangis. Di keseluruhan film, anjing ini tertawa dan menangis pada adegan yang tepat. Seorang pria yang duduk di belakang mereka begitu terpesona, dan berkata kepada pria itu,’Sungguh luar biasa’. Jawab pemilik anjing itu,’Ya tentu, anjing ini benci buku itu.’
‘Coba ga ada lucunya kan. Ga nyambung gitu!’ kataku juga sambil ketawa.
- Satu lagi ni. Ada seorang pria pergi ke Psikiater. Hasil pemeriksaan dia dinyatakan menderita kleptomania. Kata pasien itu ke Psikiater,’Adakah yang bisa saya ambil?’
‘Lebih ga lucu lagi kan?, kataku sambil tertawa lebih keras.
- Dan ini lebih ga lucu lagi. ‘Temanku berkata kepadaku, aku telah menggali sebuah lubang di kebunmu dan mengisinya dengan air.’ Pikirku,Ia adalah sebuah sumur.
‘Tuh kan lebih ga lucu sama sekali’, kataku sambil ketawa tergelak-gelak.
Kata temenku, ‘Ga lucu, tapi kamu bisa ketawa ngakak gitu.’
‘He he…. Habisnya ga tau lucunya dimana’, kataku
Lumayanlah ngantuknya jadi ilang.
Sampai di kost, aku mencari second opinion dari temanku yang suka baca Reader’s Digest. ‘Res, aku baca humor di Reader’s Digest kok dari dulu ga tau lucunya di mana ya. Ampe tak ulang 2x baca. Pikirku apa emang Inggrisku parah banget, mpe salah ngartiin vocab-nya, yah emang vocab-ku terbatas banget sih,’ kataku. Kuulangi anekdot di atas. ‘Tuh kan, ga ada lucu-lucunya sama sekali.’
‘Ya, mbak, dari dulu aku juga ga pernah nemu lucunya di mana. Mpe dibaca berulang-ulang juga ga nemu lucunya di mana. Pikirku, apa Inggrisku yang parah. Ternyata mbak juga gitu ya. Berarti emang ga lucu ya,’katanya.
‘Padahal klo kita baca anekdot disini, pasti bisa ketawa ya?. Umumnya cerita tentang kehidupan sehari-hari n cenderung saru,’ kataku.
Akhirnya kita mengambil kesimpulan, mungkin standar kelucuan di tiap-tiap Negara beda-beda. Anekdot ini sudah lucu bgt disana, tapi disini garing bgt. Bisa jadi anekdot yang disini sudah bikin kita tertawa gelak-gelak, disana mah garing banget.
Yah… who knows.
Ga penting banget ya? ^_^
No comments:
Post a Comment