Saturday, October 25, 2008
Aku punya seorang kakek, ayah dari ayahku. Sejak kecil aku biasa memanggilnya Pak Uo, ke nenekku aku memanggil Mbok Uo. Pak Uo orangnya sangat sabar, dari kecil sekali pun aku belum pernah dimarahinya. Teman2 mainku cowok saja yg pernah dimarahinya. Waktu mereka pada main basket di halaman rumahku, mereka pada dimarahi, berisik katanya. Habis itu mereka pada ga berani main basket di depan rumahku lagi.
Seorang kakek yg begitu perhatian pada cucunya. Apapun akan dilakukan untuk cucunya. Aku dulu suka minta dibuatkan ayunan, dan kakek dengan senang hati akan membuatkannya untukku. Ayunan dari bambu, dipasang di pohon jambu depan rumah. Yah, kakekku bukanlah tipe orang yang suka mendongeng untuk cucunya. Sekali pun aku belum pernah didongenginnya. Tapi dia suka sekali mendengarkan orang ngobrol, suka ingin ikut mendengarkan.
Semasa SMA aku menjadi tidak begitu dekat dengan Pak Uo. Pak Uo sepertinya menjadi orang yang berbeda. Hal ini terjadi sejak Pak Uo jatuh dari tangga waktu memanjat pohon atau membetulkan genting, aku tidak begitu ingat. Pak Uo mengalami pendarahan otak. Dan ini kata dokter tidak ada obatnya dan tidak mungkin dioperasi karena riskan sekali. Satu2nya jalan setelah akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kakekku berobat jalan, tiap kepalanya pusing, minum obat dari dokter untuk meredakan pusingnya. Kakekku menjadi orang yang berbeda. Tidak banyak senyum dan ketawa seperti dulu, gampang marah2 dan suka ngomel2 sendiri. Tentu saja cucu2nya menjadi takut dan kian hari menjadi semakin jauh meskipun hampir tiap hari bertemu. Seperti bukan kakekku yg dulu.
Sejak muda kakekku ini pekerja keras. Tidak bisa diam. Dalam keadaan sakit pun, dia masih tetap ingin bekerja. Aku pernah sekali dibuat kesal olehnya. Waktu itu kami sekeluarga sedang pergi ke gereja. Pulang dari gereja, kudapati halaman rumahku benar2 bersih... sih.... Rumput2 manila yang berbulan-bulan kutanam hilang sudah. Semuanya disiangi oleh kakek. Kata kakekku sambil tertawa riang,’Sekarang bersih kan!’ Dia terlihat puas dengan hasil kerjanya. Kami semua begitu kaget, aku saking kesalnya langsung masuk rumah tanpa komentar apa2. Takut kata2ku bakal menyakiti hatinya. Ayahku yg tahu aku marah, langsung disembunyikannya cangkul dan sabit, takut semua tanaman di depan rumah benar2 dibabat habis oleh kakek. Aku kesal sekali mengingat bagaimana dulu aku mendapatkan dan menjaga rumput itu berbulan-bulan agar tumbuh subur. Rumput itu kudapatkan dari temanku, aku memintanya satu karung, kubawa sendiri dengan naik motor.
Yah, aku tahu. Kakekku bermaksud baik, dia pengin halaman terlihat bersih. Tapi kadang2 maksud baik seseorang belum tentu bisa diterima dengan baik oleh orang lain. Ini namanya miss communication. Memang antar anggota keluarga harus saling terbuka, belum tentu yg kita mau, yg kita lakukan, yg menurut kita baik, bisa diterima dengan baik oleh anggota keluarga yg lain. Semua hal jika menyangkut orang lain, jika menyangkut kepentingan bersama harus dirundingkan dulu dp nantinya menjadi sumber perselisihan.
Seiring waktu kakekku mulai kembali menjadi kakekku. Kembali menjadi orang yg banyak senyum dan ketawa. Selalu pengin gabung ikut kita2 yg pada ngobrol. Karena pendengaran kakek sudah berkurang, dia selalu meminta kami berbicara lebih keras supaya bisa ikut mendengarkan obrolan kami. Kadang2 saja pusing di kepalanya kembali menyerang, tapi frekuensinya tidak sesering dulu. Tapi mungkin benar juga ya kata orang, saat orang menjadi tua, dia akan kembali menjadi seperti anak kecil. Kadang2 kakekku bertingkah seperti anak kecil, tapi kami semua bisa memakluminya.
Sekali peristiwa, kami sekeluarga dibuat pusing oleh kakek. Ga tau tiba2 saja kakekku ke mana2 selalu memakai kacamata hitam. Kacamata hitam besar, seperti yg biasa dipakai artis2, kacamata gaul. Ga tau nemu di mana. Amat sangat tidak pantas dipakainya. Kacamata itu tidak pernah lepas dari matanya. Tiap main ke tetangga, duduk di depan rumah, selalu dipakainya. Biarpun sudah berkali-kali dilarang, tetap saja dipakainya. Bahkan di acara orang kendurian dan orang meninggal, kacamata itu pun dipakainya. Nenekku dan adikku pernah mencoba menyembunyikan kacamata itu, tapi selalu saja dicari dan ditanyakannya. Akhirnya semua menyerah.
Aku yg belum pernah lihat sendiri cuma dengar ceritanya aja, langsung ketawa. ‘Besok difoto ya, aku dikirimin fotonya!’ Dan waktu akhirnya aku lihat fotonya, aku ga bisa menahan tawa. Ah…. dasar Pak Uo. Ada2 saja.
Bulan Agustus kemarin, waktu aku pulang menghadiri pernikahan temanku, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kakekku memakai kacamata itu. Memang tidak pantas sekali. Waktu aku berpamitan mau menghadiri pernikahan temanku, Pak Uo mengikutiku terus, dikiranya aku sudah mau pulang ke Bandung. ‘Belum mau pulang kok, mau ke nikah teman!’ kataku sambil melepas kacamata yg dipakainya itu lalu kusembunyikan. Dan kakekku tidak protes. ‘Pinjam dulu!’ kataku. Yah, nenekku, ibuku, ayahku, n adikku sudah menyerah semua, tidak ada yg berani mengambil kacamata itu. Kacamata itu kuserahkan ke Ibu, biar Ibu yg menyembunyikannya.
Malamnya aku berangkat ke Bandung, tidak sempat berpamitan dengan kakek coz aku pulang sudah kemalaman dan kakek sudah tidur. Sesampaiku di bandung, aku tanya ke Nick, adikku, ‘Kakek nanyain aku ga?’
Kata Nick,’Ga nanyain kamu, tapi nanyain kacamatanya. Dia nanyain trs. Setelah dijawab Mbok Uo klo kacamatanya mau km pake baru diam, ga nanyain lagi.’
He he… Pak Uo.....,maaf.
Rabu, 22 October 2008. Aku bangun pk.05.30, tapi masih males beranjak. So terus ndengerin MP3 di HP. Pk.06.03 WIB, HP-ku bunyi. Omku yg di Jkt. Tumben pagi2 gini telp.
‘Pak Uo ga ada. Dah tau belum?’
Aku kaget, langsung bangun.’Ga ada gimana?’
‘Lho, blm tau?’
‘Ga ada yg kasih tau aku. Kapan?’
‘Td pg j.5.30. Mungkin lg pada ribet, blm sempat kasih tau.’
‘Ya sudah, ta’coba telp rumah!’
Aku coba telp ibuku, ga diangkat, telp ayah, jg ga diangkat. Telp lg akhirnya diangkat, cuma ngobrol 1 kalimat. ‘Iya tadi pg jam.5.30.’ Habis itu langsung putus. Ku telp lg, ga diangkat.
Akhirnya telp Nick, dia masih di kost, br siap2 mau pulang, nunggu dijemput Ndra.
‘Lho mang ga ada yg kasih tau km? Kirain dah dikasih tau. Ga sakit kok. Td pg j4 masih jalan2. Bentar ya, ni si Week telp.’
Tak berapa lama Week meneleponku. Suaranya ga jelas. Dia menangis. Aku jadi ikut2an pengin nangis. ‘Ga papa kok. Katanya ga sakit. Meninggalnya enak.’ Yah, Week pasti sedih, dia begitu jauh di ujung sana. Tidak bisa pulang. Dalam setahun ini, 2x kehilangan, dan kedua-duanya tdk bs kut menghantar.
Aku bingung belum ada kepastian dimakamkan jam berapa. Akhirnya kuputuskan untuk pulang pagi itu minta izin dulu ke bos tentunya. Mpe stasiun pk.07.45, masih keburu naik Lodaya pk.08.00.
Di perjalanan Nick mengabariku, pemakaman pk.04.00 sore. Semoga masih keburu.
‘Ga bisa diundur lagi. Paling bisa mundur mpe.04.15.’ kata Nick setelah confirm ke ayahku.
Lebaran tahun ini, Lebaran terakhirku dengan kakek. Tadinya aku sempat memutuskan untuk berlebaran di Bandung, tapi untunglah pada akhirnya aku memutuskan mudik. Klo ga, ga akan memiliki foto Lebaran terakhirku dengan Pak Uo. Ga tau kenapa, Lebaran kemarin, aku ngotot pengin foto keluarga. Foto ma kakek, nenek n seluruh keluarga. Nick yg biasanya suka protes,’Narsis!’, kali ini nurut aja. Nick juga semangat, kita foto bertiga ma kakek-nenek, terus foto aku ma kakek aja, Nick ma kakek aja, aku ma nenek aja dan Nick ma nenek aja. Dan kakek disuruh ketawa mau ketawa. Pas lihat di foto, kakekku lagi ketawa, benar2 ketawa, tidak dibuat-buat. Benar2 foto terakhir dengan Pak Uo. Ayahku juga waktu itu ngotot memfoto nenekku sendiri, kakekku sendiri. Untuk pas foto, katanya. Ga tau kenapa, mungkin firasat kali ya, dan semua ini baru terpikir saat sudah kejadian.
Yang kusesalkan kenapa waktu itu tidak sekalian memfoto kakekku lagi berdua dengan nenekku. Dan kenapa juga foto seluruh keluarga tidak jadi. Kemarin cuma sempat berfoto aku, ma Nick n ayah-ibu plus sepupuku, tanpa kakek dan nenek. Hal ini kuungkapkan ke Nick waktu dia telepon dalam perjalananku by train. Tyt dia juga berpikiran sama, kami menyesalkan hal yg sama.
Hari itu, tidak seperti biasanya kereta terlambat mpe Yk. Sebelumnya aku pernah naik Lodaya siang, pk.15.30 sudah sampe Yk. Di perjalanan aku sudah gelisah, sepertinya tidak keburu. Omku yg dari Jkt juga sudah pasti tidak akan keburu, pk.16.00 dia baru mpe Kutoarjo. Dan memang tidak keburu, pk.16.12 aku baru mpe Stasiun Tugu. Buru2 ma Dhex dari Stasiun ngejar pemakaman, semoga masih sempat. Di perjalanan aku tanya ke Nick, pemakaman dah kelar belum, ga dibales2 juga, mungkin dia lagi sibuk, akhirnya sms Ita, dia ada di rumahku. Pk.16.30 Ita sms, katanya yg di makam dah pada mpe rumah lg, Ita, Eka n keluarganya sekalian pamit, maaf ga bisa menungguku.
Akhirnya aku minta Dhex mengantarku langsung ke makam. Pk.16.45 sampai makam Pak Uo. Sudah sepi, sama sekali tidak ada orang. Kulihat gundukan tanah baru penuh taburan bunga, makam kakekku, makam Pak Uo. Baru beberapa bulan kemarin kita nyekar ke makam keluarga sambil bercanda, ‘Ini masih muat untuk 3 orang lg, siapa ya yg nanti bakal duluan nempati?’ Tyt kakekku yg lebih dulu nempati.
‘Pak Uo, aku datang. Maaf aku ga bisa menghantarmu. Doaku menyertaimu. Semoga engkau sudah tenang di sana.’
Sebenarnya aku pengin nangis, mataku sudah berkaca-kaca, tapi malu ma Dhex, akhirnya kutahan.
Dasar Dhex, di makam juga dia masih sempat narsis. ‘Kamu pegang bunganya, ta’poto!’ Memang sama2 narsis, akhirnya nurut juga, kupegang sekuntum mawar merah yg ada di atas makam, Dhex memotretku bersama makam Pak Uo. ‘Nti dikirim ke Week, mesi dia pengin lihat makam Pak Uo.’
Aku ga sempat mampir beli kembang untuk nyekar, so sore itu kubawa 1 kuntum mawar utuh,warna merah, kubawa pulang, untuk kenang2an.
Mampir sebentar ke makam Mbok Yem, berdoa di sana. ‘Mbok Yem, aku ke sini lagi. Pak Uo sekarang sudah menyusulmu. Mbok yem sekarang bisa ketemu Pak Uo. Temani dia ya!’
Mpe rumah, sudah tidak terlalu banyak orang, tapi masih ada beberapa familiku. Kulihat ayah-ibu begitu letih. Ya, hari ini pastinya hari yg amat melelahkan buat mereka. Dalam sehari semua harus beres. Kuhampiri nenekku. Terlihat begitu tabah. Dia kaget aku pulang. Nenek bisa ketawa2, bercanda. Dan ini yg aku takutkan. Nenek memendam kesedihannya sendiri. Nenek terbiasa apa2 ditanggung sendiri. Menanggung beban pikiran sendiri, aku takut nantinya dia jadi sakit. Memang, rasa kehilangan, hampa, baru akan terasa beberapa hari kemudian. Saat sudah sepi, saat sendiri. Mbok Uo yg tabah ya! Kalau pengin menangis, menangislah!
Kata nenekku dan Omku yg masih dalam perjalanan pulang ke Jambi, tidak mungin baginya untuk pulang kembali ke Yk, Pak Uo, hari2 terakhirnya, dia terlihat begitu gembira. Banyak senyum. Keinginan terakhirnya untuk ketemu cucu laki2 satu2nya sudah terpenuhi. Kakekku bisa bersama cucu lelakinya selama 11 hari. Masih 3 th. Meskipun ditendang oleh si kecil, kakekku tidak marah, dia malah ketawa. Dan malam sebelum kematiannya, si kecil bersama Omku pulang ke Jambi. Keesokan paginya, setelah ditinggal pulang cucunya, tyt Pak Uo meninggalkan kami semua. Pak Uo mungkin sudah ikhlas meninggalkan kami semua, keinginan terakhirnya sudah terpenuhi, dia terlihat seperti sedang tidur. Katanya, wajahnya terlihat tersenyum.
‘Dia nanyain Week dan cucunya yg di Jkt,’ kata nenekku, ‘Kapan pulang?’
‘Nti Desember,’ jawab nenekku. Dan kakekku terus menghitung hari. ‘Masih 2 bulan lagi.’
Sebenarnya aku sedikit kecewa. Kenapa tidak menungguku sebentar saja? Kenapa kereta musti telat? Kenapa tidak memberitahuku lebih awal, biar aku bisa ngejar kereta yg jam 7? Aku memang sering datang terlambat, tapi kenapa pada saat seperti ini juga harus terlambat. Dan ini bukan salahku, karena keadaan.
Waktu lagi duduk2 di depan dengan Ibu kutanyakan,’Kenapa tidak menunggu besok? Kan kasihan Om yg masih di jalan tidak bisa kut nungguin?’
‘Udah ditanyain sebelumnya ke om, katanya ga usah nunggu gapapa. Lagian klo nunggu mpe besok, kasihan tetangga2 pasti pada kecapean. Makin cepat makin baik!’ jawab ibuku tanpa semangat.
Aku tidak puas dengan jawaban ibuku.
Ayahku tiba2 saja naik ke motornya,’Mau nengokin bentar?’ pamitnya.
Aku kaget,’Lho mang tadi ga kut ke makam?’
‘Lha yg di rumah siapa? Rumah ga bisa ditinggal, masih banyak tamu,’ jawab ayahku.
Ya ampun. Rasanya rasa kesalku hilang sudah. Berganti rasa terharu, kasihan, ga tega, penyesalan. Aku menyesal kenapa sempat kecewa, padahal ayahku yg anak kandung kakekku, sama sekali tidak menyaksikan pemakaman ayahnya.
Aku langsung lari nyamperin ayah,’Kutemani!’ Akhirnya berdua dengan ayahku, kita ke makam lagi.
Keesokan hari, waktu cerita2 sambil lihat foto2 pemberkatan dan pemakaman, aku diceritain tentang kacamata. Tyt kakekku dipakaiin jas, peci + kacamata. Waktu peti sudah dimasukkan ke liang lahat, seorang Bapak yg kut turun ke liang lahat, tak sengaja kacamatanya jatuh ke atas peti Pak Uo. Kata Bapak pemimpin upacara pemakaman,’Simbah tidak perlu kacamata lagi kok, sudah punya sendiri.’ He he semua yg hadir di sana pada ketawa.
‘Kacamata hitam yg dulu itu, diikutkan ke peti ga?’ tanyaku.
‘Ya itu........ Aku lupa! Kata Nick. ‘Nti klo nganter Om ke makam, dibawa ya. Ditaruh di atas makamnya!’
Dan kacamata itu tidak jadi kubawa ke makam. Nick protes. ‘Kenapa ga jadi dibawa?’
‘Kata Om ga usah, nti malah ilang. Disimpan aja di rumah buat kenang2an.’
Yah, kacamata hitam itu, mpe aku pulang kembali ke Bandung, kulihat masih tergeletak di atas buffet ruang tamu. Yah, buat kenang2an dari Pak Uo.
Selamat jalan Pak Uo, doa kami menyertaimu...............
No comments:
Post a Comment