Saturday, November 08, 2008
2 hari kemarin, aku bener2 cape. Hari yg amat sangat melelahkan. So crowded. Dikejar deadline kerjaan, mana banyak tamu, mana banyak telepon, mana hujan terus + geledek gedhe. Mana ketemu beberapa orang yg rada rese, ga ngerti aku lg dikejar deadline. Wah bt-ku kumat nee. Sabar…. Sabar…….. Yah, aku harus bersabar. Untunglah, 2hari mpe jam 8 mlm, akhirnya kerjaan bs kuselesaikan.
Hari ini, sudah lebih relax. Mo weekend. Dan hari ini aku ketemu beberapa orang yg menyenangkan sekali. Aku jadi terbawa senang. Ketemu beberapa Ibu yg berjuang mencarikan sekolah untuk anaknya. Apa pun akan dilakukan untuk anaknya, demi masa depan anaknya. Melihat bagaimana perjuangan orangtua, demi anaknya bisa memperoleh pendidikan yg terbaik. Mereka rela melakukan apa saja, bahkan sedikit mempertaruhkan harga dirinya. Pantang menyerah, ga peduli biar pun dibilang cerewet. Yah, semua demi anaknya.
Seorang Ibu, yg bermodal nekad. Dia jujur, sekarang ini sama sekali tidak ada uang. Tapi ia bermodal nekad saja mencarikan sekolah untuk anaknya. Mana dalam setahun ini, 2 anaknya menuju jenjang sekolah yg lebih tinggi. Semua perlu biaya yg tidak sedikit. ‘Saya ga punya uang, tapi saya nekad. Gimana nanti saja. Saya yakin Tuhan pasti akan kasih jalan.’
Sungguh membuat terharu. Untunglah si Ibu ini, anak2nya pengertian. Prestasi mereka bisa dibanggakan. Tidak sia2 pengorbanan orangtua mereka.
Pernah kutemui sebelumnya. Seorang Ibu yg dengan gigih, mempertaruhkan harga dirinya. Karena memang keadaan ekonomi yg benar2 kurang mampu, dia rela berkali-kali datang, minta kebijaksanaan, minta keringanan. Sempat kulihat Ibu ini menangis putus asa. Yah, anaknya cukup pintar. Dia tidak ingin anaknya kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yg baik. Dan pada akhirnya perjuangan ibu ini membuahkan hasil.
Sungguh, perjuangan seorang Ibu.
Yah, kadang miris jg. Sang Ibu berjuang habis2an demi bisa menyekolahkan anaknya ke tempat yg baik, sedangkan anaknya, sama sekali tidak menghargai jerih payah ibunya. Tidak mau belajar, sekolah seenaknya.
Melihat kenyataan seperti ini, rasanya pengin kuseret anak itu, biar dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Ibunya berjuang mati2an demi dia, demi dia bisa tetap bersekolah.
Yah, ironis memang.
Ayah-ibuku. Mereka juga orang2 yg mementingkan pendidikan bagi anak2nya. Aku tahu mereka bekerja keras selama ini, berjuang demi bisa menyekolahkan kami anak2nya, demi bisa memberikan kehidupan yg lebih baik bagi anak2nya, demi memberi bekal yg baik untuk masa depan kami nantinya. Apa pun yg kami pilih, mereka ikuti, asal kami sungguh2. Berapa pun biaya yg harus mereka keluarkan, mereka selalu bilang ‘Soal biaya ga usah dipikirkan, itu biar ayah-ibu yg pikirkan, yg penting kalian sekolah yg bener.’
‘Ayah-ibu, Terimakasih. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semuanya.’
Yah, aku tahu, ayah-ibu melakukan semuanya dgn tulus, tdk ada pamrih apa2. Asalkan kita sehat, hidup dengan baik, dan tetap menjaga nama baik dan kepercayaan yg mereka berikan, itu sudah cukup buat mereka.
Ibuku. Memang rada pelit soal jatah uang saku. Tapi aku juga tahu, begitu banyak yg harus dikeluarkannya. Minta uang buat beli baju, sepatu, ……. ‘Nanti dulu, yg lama kan masih bisa dipakai.’ Tapi kalau buat beli buku, asalkan bukan novel atau komix, benar2 buku pelajaran, berapa pun pasti akan dikasih. Meskipun lg ga ada uang, pasti akan diusahakannya.
Dulu waktu SMA, satu hari setelah hari raya Natal atau Paskah, kita2 pasti pada kompakan bolos sehari. 3 tahun selama SMA berjalan seperti itu, janjian ma beberapa teman. Padahal di rumah juga ga ngapa2in. Ibu tidak suka, pasti dimarahi. Tapi sudah terlanjur janjian ma teman, demi sebuah rasa setia kawan, pura2 aja ga lihat Ibu yg manyun. He he…. nakal.
Begitu pun waktu kuliah. Ibuku tidak suka aku bolos kuliah. Kalau ketahuan bolos kul pasti dimarahin bener. ‘Dah disekolahin mahal2, ga berangkat!’
Yah, untuk tiap mata kuliah kan ada toleransi absent 2x, tidak akan menurunkan level nilai dari A ke B, atau dari B ke C. He he….. ini dari hasil itung2an kita sendiri aja. Yah, kadang2 apa salahnya memanfaatkan celah yg ada. Wajar kan klo rasa jenuh itu datang, sekali2 jg butuh refreshing. Kalau belum pernah ngrasain bolos rasanya jg kurang seru.
Tapi aku bolos juga milih2, mata kuliah yg banyak itungan, dengan dosen yg cara mengajarnya enak, kuusahakan presensiku 100%. Mata kuliah yg text book bgt, presensiku jg beberapa 100%, coz sohibku selalu setia mengabsenkan untukku. He he…. bergiliran datang, ambilin hand out and ngabsen doank.
Jadi kangen masa2 kuliah. Kangen ma Eko n Ita. Mereka yg selalu siap sedia mengabsenkan untukku tanpa pernah diminta. Thanks ya. You’re really my true friend….. till now. Hope will be forever friend.
Ayah-ibu, mereka penginnya anak2nya bersekolah setingkat lebih tinggi dari mereka, kalau tidak ya sama lah dengan mereka. Setelah lulus S1, ibu sebenarnya menyuruhku lanjut S2 atau ambil profesi. Membutuhkan biaya yang cukup besar. Adikku masih dua. Kata Ibuku,’Kamu ga usah pikirin biaya, nti dijualin apa.’
He he….. Kata adikku,’Ibu tu kaya kamu. Kalau punya kemauan…..harus.’
Yah, selain mengingat adik2ku juga membutuhkan biaya yg cukup besar untuk melanjutkan sekolah mereka, aku juga sebenarnya sudah malas belajar. Malas bikin paper. Pastinya S2 atau profesi, begitu banyak makalah2 dan kuliah text book banget. He he…. Malesnya…… Aku pengin break dulu, cari pengalaman dulu. Nanti klo pengin lanjut kan bisa sambil kerja. Dan ayahku juga menyarankan itu. Akhirnya Ibu tidak memaksaku untuk lanjut.
He he…. Sudah keenakan kerja kali ya, sekarang dah ga kepikir untuk lanjut sekolah lagi. Temanku pernah mengirimkan aplikasi form beasiswa ke Ausie, he he….. maaf ya, ga ta’ follow up. Perlu mikir panjang dulu.
Belajar, menuntut ilmu, kan bisa dilakukan di mana saja, kapan saja. Tidak harus di lembaga formal. Tuntutlah ilmu setinggi langit. Belajarlah sampai tua.
Kita bisa belajar dari pengalaman kita sehari-hari. Belajar dari teman2 kita, lingkungan kita. Belajar dari novel dan buku2 yg kita baca, belajar dari film yg ditonton, belajar dari TV, belajar dari pengalaman orang2 lain. Yah, setiap hari kita bisa belajar. Belajar untuk lebih dewasa, untuk lebih menghargai hidup, untuk lebih peduli pada sesama dan lingkungan kita. So…… ambillah pelajaran dari apa yang kita temui setiap hari, ambillah hikmah dari masalah2 yang kita hadapi. Karena dari situlah kita bertumbuh. Bertumbuh menjadi dewasa. Supaya hidup kita lebih bermakna.
He he….. kok jadi filosofis gini ya……. ketularan siapa? Ga tau lah……
Fight!!!!!!!!!!
No comments:
Post a Comment