Wednesday, November 16, 2011

SEORANG IBU PENYAPU JALAN

Tuesday, September 16, 2008
 
Ini tentang seorang ibu tua penyapu jalan yang begitu rajin menyapu di gang2 sekitar kostku bahkan sekali waktu aku pernah menjumpainya menyapu di jalan raya.
Si Ibu ini dengan rela menyapu sepanjang gang tanpa dibayar. Yah, katanya dia sekarang tinggal sendirian, dp menganggur dia lebih memilih menyapu.
Kadang2 orang lewat memberikannya sedikit rupiah supaya bisa sedikit membantunya.

Demikian juga, Ibu Kost setiap bulan selalu menitipkan sejumlah uang untuk diberikan ke si Ibu ini, toh dia juga ikut membantu menyapu gang di sekeliling kost. Kalau aku punya uang lebih, kadang2 juga kusisihkan sedikit untuk si Ibu. Yah, Ibu ini tidak punya penghasilan, tidak ada sanak saudara yang merawatnya. Tinggal di sebuah rumah petak kecil di dalam gang. Kadang2 ada tetangga yang memberikan sedikit makanan ke Ibu ini.

Salut dengan Ibu ini, subuh, pagi2 buta sudah mulai menyapu gang. Bahkan waktu itu pk.23.00 waktu aku baru pulang dari Dufan, di gang masuk dekat jalan raya, kulihat Ibu ini masih menyapu. Ya ampun, rajin sekali.

Seiring waktu, setiap berpapasan dengan si Ibu, kucoba untuk menyapa dan tersenyum ke Ibu ini. Ya si Ibu, jarang sekali mau tersenyum. Boleh dibilang rada jutek.
Suatu pagi, waktu aku baru mau berangkat kerja, kulihat si Ibu menyapu di gang belakang kostku. Tidak seperti biasanya, si Ibu berhenti di depanku, kupikir sekedar say hello menyapaku.
‘Ada titipan ga?’ tanya si Ibu.
Aku kaget bgt mendengar pertanyaannya. Baru kemarin titipan dari Ibu Kost kukasihin. Ibu kost kan menitip 1 bulan sekali.
‘Belum Bu,’ jawabku. Si Ibu terus berlalu.
Dan kejadian ini berulang setiap kali aku berpapasan dengan si Ibu.
Kenapa aku jadi ilfil ya. Kenapa si Ibu jadi begitu mengharapkan pemberian sampai2 berani menanyakan. Kadang2 kalo aku malas ditanya-tanya dengan pertanyaan yg sama oleh si Ibu, kutitipkan uang dari Ibu kost ke temanku yg kebetulan melewati si Ibu yang sedang menyapu.

Yah, kadang2 kita memberi karena kita peduli, sedikit berbagi dari apa yang kita miliki. Tapi kita juga tidak mau hal itu membuat seseorang menjadi tergantung dengan kita.
Yah… sampai sekarang hal ini menjadi dilema buatku. Antara sedikit ilfil dan rasa tidak tega dan kadang2 juga merasa bersalah. Apa aku salah merasa ilfil dengan Ibu ini. Aku takut, jika memang kenyataannya si Ibu berani meminta coz didesak kebutuhan, dia sangat memerlukan sejumlah uang untuk menyambung hidup.

Pernah hal ini kuceritakan ke beberapa temanku. Aku salah ga ya, kok jadi merasa ilfil. Dan tanggapan beberapa temanku juga sama. Mereka juga kaget, kenapa si Ibu jadi berani meminta. Rasanya lebih nyaman jika menerima pemberian karena ketulusan, karena keikhlasan, bukan karena kita yang meminta.

Yah, Ibu, bagaimanapun terimakasih. Karena berkat Ibu juga, lingkungan sekitar kost kami jadi bersih. Pernah suatu ketika selama beberapa minggu gang2 di sekitar kost begitu kotor oleh sampah coz si Ibu absent nyapu. Sewaktu aku bertanya ke tetangga, katanya si Ibu sakit, habis jatuh waktu subuh2 lagi nyapu, tidak lihat ada jalan berlubang di depannya. Kasihan sekali si Ibu.
Aku hanya berharap, si Ibu berani meminta karena memang terdesak oleh keadaan. Semoga negatif thinkingku yang salah.
Ibu, tetaplah rajin menyapu di sekitar kost kami.
Semoga Tuhan selalu menjagamu, memeliharamu. Amin.

No comments:

Post a Comment