Tuesday, August 20, 2008
Kemarin pulang Yk….. berharap bisa makan di angkringan, bisa makan mie ayam Bener, berharap bisa main ke Pantai Glagah. Waktu 2 hari, sepertinya bisa. Tapi kadang2 kita hanya bisa berencana, tapi jika Tuhan berkehendak lain, maka yg terjadi…. terjadilah.
Aku nyampe Yogya minggu pagi. Tadinya pengin dari Stasiun langsung misa pagi, biar sore waktu bisa lebih leluasa. Banyak titipan2 dari teman di Bandung. Sandal jamur, daster2 batik dan Bakpia Bu Sri, bakpia kejunya enak, temanku di Bdg dah ngrasain bakpia keju-N Bu Sri, tiap dibawain bakpia lain pasti protes, kok enak yg dulu. He he..... hrg-N jg beda neng.
Aku bilang ke mereka…. Aku ga janji bisa nyariin ya, sepertinya aku tidak sempat ke Malioboro n Pasar Bering Harjo. Waktuku terlalu singkat.
Rencana berubah, ke gereja minggu sore saja, nyekar ke makam pagi2. So dari Stasiun Tugu, masih pk.05.00 WIB, mampir dulu ke Pasar Serangan beli kembang untuk nyekar. Tyt murah sekali….. 1 keranjang kecil, mawar merah & putih utuh, lengkap dengan bunga Kantil, Kenanga dan bunga Telasih (warna ungu tua) dihargai Rp.5.000,-. Aku beli 4 keranjang untuk 2 makam keluargaku.
Kok murah sekali ya…. Lebaran th kemarin, aku beli kembang 1 keranjang sedikit lebih besar, di Pasar Kranggan, tanpa dilengkapi kantil dan kenanga dihargai Rp.20.000,- itu pun sudah berjuang kutawar. Mpe rumah temanku, aku diketawain ayahnya…. ‘Itu kemahalan.’ Mpe rumahku juga diketawain ayah n adikku….. ‘Itu kemahalan.’
Lebih parah lagi…. Siangnya cowok adikku datang… dia juga bilang…. ‘Rp.20.000,- ? kok mahal bgt, biasanya 5 ribu mbak.’
Wah…. Ga taulah… jd sebel… habis itu tiap ada yg nanya berapa harga aku beli kembang, mending ga usah dijawab. Pulang berikutnya…. Beli kembang… mending nitip dibeliin aja ma cowoknya adikku, dia lebih tau.
Tapi memang sepertinya harga Rp.20.000,- di hari Lebaran itu normal, banyak pesanan kembang, Lebaran banyak yg pada nyekar ke makam leluhur, jadi wajar klo harganya melonjak.
Kemarin beli di depan Pasar Serangan . Rp.5.000,- tanpa ditawar, dapat banyak lagi. Besok lagi beli di sini aja deh, dp salah harga. Kata Ibu yang jual, bisa beli jam berapa aja, ‘Ketok pintu aja neng.’
Jam 10 habis pada nonton Detik2 Proklamasi ( aku tidak ikut nonton), kita nyekar ke makam keluarga di dekat rumah, tak lupa ke makam Mbok Yem, simbok yg mengasuhku sejak kecil. ‘Mbok, kami datang menengokmu. Kami ga bawain enthung kok! He he….’
Dari makam keluarga, kami ke tempat Bude, mengunjungi Bude yg masih berduka coz meninggalnya kakak sepupuku. Bude masih terlihat berduka. Dia tidak mau diajak serta ke makam. Yah, akhirnya kami ke makam sendiri. Pk.11.30. Panase ngentang2….. alias panas yg amat sangat menyengat. Yk panas banget.
Kami berjalan kaki ke makam.
Kakak sepupuku. Waktu meninggalnya aku tidak bisa menghadiri pemakamannya. Masih begitu banyak bouquet bunga di atas makamnya, sudah mengering. Sepertinya tidak mungkin kakak sepupuku sudah tidak ada. Rasanya masih seperti biasanya, dia sedang bekerja. Ternyata dia sudah terbaring di depanku. ‘Kang, semoga engkau sudah tenang di sisi-Nya.’
Sepulang dari makam, kami kembali ke rumah Bude, tetap saja narsis. Berfoto dengan apa saja yg menarik bagi kami. Bude tertawa melihat tingkah narsis kami. He….. kita bisa menghibur Bude…. Dia bisa tertawa. Syukurlah!!!!
Bude lagi panen ubi. Tidak tanggung2 kami pulang membawa 1 karung penuh ubi jalar warna merah dan putih. Ya ampun… ga kira2. Aku sudah menolaknya, ‘Kebanyakan… nti buat apa.’ Kata ayahku, itu disimpan 3 bulan juga awet kok, untuk stock. Ya sudah, akhirnya pulang dengan membawa oleh2 1 karung penuh ubi jalar yang kemarin sama sekali belum sempat kucicipi rasanya seperti apa.
Mengantar pulang ayah dulu, kami lanjut ke rumah temanku, menjemputnya, sama2 ke Amplaz (Ambarukmo Plaza) beli gift untuk nikah temanku. Tyt waktu kami begitu terbatas. Mpe rumah temanku sudah pk.15.00, sedangkan dia malamnya ada acara keluarga syukuran 40 hari pernikahannya dengan tetangga2 sekitar.
Kami lapar sekali, belum sempat makan siang. Di tempat Bude ditawari makan siang di sana, tapi aku menolaknya coz pengin makan mie ayam Bener. Tyt kami sudah terlambat. Mie ayam Bener tutup pk.15.00. ‘Mau makan apa nih? Sama sekali ga ada ide. Lebih gampang cari makan malam dp makan siang. ‘Baso bakar Arema mau?,’ tanya temanku.
‘Bakso! Bosen,’ kataku.
Dan kami melewati rumah makan baru ‘Christo Bento’ di Jl. Godean. ‘’Nyoba yukkkk!’
‘Nothing special’.
‘Mendingan Hokben,’ kataku, ‘Harga segini, lebih mahal dp Hokben, mana rasanya jauh.’ Bandrol harga segitu di Jl. Godean, aku ga yakin bakal bertahan lama. Apalagi nothing special.
Waktu yg begitu terbatas. Ternyata memilih…. memakan waktu begitu lama. Kenapa hari itu Amplaz begitu ramai ya. Nyari tempat parkir susah bgt. Akhirnya terpaksa parkir di lantai paling atas gedung.
Dan tyt di counter yg kita tuju juga ramai sekali. Jadi pusing… bingung memilih yg seperti apa. Waktu terus berlalu dan kita belum menemukan pilihan kita, melihat jam sudah pk.18.15. Harus pulang, mengantar temanku, takut acara keluarganya keburu dimulai. Misa sudah lewat…. Misa minggu sore paling malam pk.18.00. Ya sudah, hari ini kita tdk ke gereja. Tidak keburu.
Akhirnya…. karena bingung memilih dan waktu sudah terbatas, kita menjatuhkan pilihan…. ‘Ini aja ya…. Lucu kan?’
‘Makan malam ke Angkringan Selokan Mataram ya, pengin nyobain.’
‘OK….’ Kita ke sana setelah mengantar Ita. Dan tyt rencana hanya tinggal rencana. Something happened…..an accident. Di lampu merah…. Coz depan mengerem mendadak, mencoba berbelok menghindari lampu merah, akhirnya ….. kejadian deh…. Vander depan penyok menabrak pick-up di depan. Pintu depan tidak bisa dibuka.
Batal deh malam itu ke angkringan Selokan Mataram. Rencana besok pagi, rombongan ramai2 ke Purworejo terus pulangnya ke Pantai Glagah juga batal total. Dibagi dua rombongan. Aku ma teman kul-ku ke Purworejo, adikku, cowoknya n satu temanku lagi menyelesaikan accident + sekalian ke bengkel.
‘Ini teguran dr Tuhan karena km tdk ke gereja,’ kata adikku.
Aku terdiam. Memang bener…. Hari ini aku tdk ke gereja.
Malam itu jadi pada tidak bersemangat…. Tidak ada selera makan lagi. Diajak makan sudah pada tidak tertarik. Suer… perutku terasa perih minta diisi, mana tasku yg biasanya ada cemilan, hari itu sama sekali ga bawa. Tapi dalam suasana seperti itu makan juga ga enak. Apalagi sudah malam. Feeling Ibu mungkin kuat ya, pk.21.00, mom called me, ‘Mpe mana?’
‘Sudah di jalan. Mau pulang,’ kataku.
Lebih baik nanti ceritanya di rumah saja, dp bikin khawatir. Aku yakin kok, ayah ibu akan mengerti. Mereka tidak akan marah. Namanya juga halangan.
Dan benar saja, ayah-ibu tidak marah. ‘Yang penting semua selamat. Sudah tidak usah diperpanjang. Ga usah mpe urusan polisi. Ga usah menuntut. Biaya kita yang nanggung jg gapapa.’
Aku jg merasa, sopir pick-up, dia orang yg baik. Aku tdk tega. Dia terlihat bingung sekali. Dan dia menunjukkan itikad baiknya dengan tidak melarikan diri. Menunggu cukup lama, menunggu teman adikku yg sedang mencarikan bengkel. Kulihat sopir itu terlihat bingung, masih harus mengantar barang. Ya sudah, kuminta ID card-nya, + alamat kantor+No HP + No. telepon kantornya. Ga lupa mencatat No plat mobilnya. Aku yakin dia orang yg bisa dipercaya.
Meminta penggantian biaya bengkel, sebenarnya aku juga tidak tega, pasti berat bgt buat dia. Dan ayah-ibu juga tidak mempermasalahkan. Kasihan dia. Dia juga tidak sengaja.
Malam itu tanpa sengaja kita seperti reunian ex-SMA 2 Yogya. Semua yg kumpul alumni Smada, kecuali Ita. He he… suami Ita yg akhirnya dtg menjemputnya jg ex-Smada. Terimaksih semuanya. Malam itu begitu banyak yg peduli dengan kita. Ind, Ben, Ko, Dix, Ben’s Pap, Ta, thanks bgt ya. Sori dah amat sangat ngrepotin. Biaya bengkel kita jg dpt keringanan atas referensi dari temanku. Terimakasih, Tuhan yg akan membalas semuanya. Ita, maaf, kamu n suami jd tdk bs menghadiri banca’an di rumah mertuamu.
Keesokan hari…. Akhirnya rombongan terpisah dua. Aku jadi berangkat ke Purworejo. Jalan tidak macet. Sempat bertanya 3x, coz terakhir ke rumah temanku 7 th yg lalu lewat jalan Yogya-Purworejo, kemarin kita lewat Kutoarjo, memilih jalan yg banyak pemandangannya kata temanku.
He he…. Melihat temanku bersanding di pelaminan. Terlihat begitu lelah. Dia mengeluh pusing, kecapean. Hiasan sanggulnya berat banget. Dah ga kuat, pengin dilepas, katanya.
Temanku yg ngidam Siomay ma bakso keturutan di sana. Tyt ada menu snack ‘Tempura’, makanan kesukaan kita2 yg biasa beli di Graha Sabha.
‘Wah…. Ini kurang es kunir asem ni,’ kataku.
Pulang dari rumah teman, kita kenyang sekali. Tapi temanku keukeuh pengin ‘es dawet’ di Jl. Yogya-Purworejo. Akhirnya kita mampir ke sana. Banyak sekali berjejeran penjual2 dawet item, temanku memilih dawet langganannya. Katanya, dawet perintis di sana, yg pertama kali berjualan di sana. Melihat porsinya yg begitu besar, seukuran mangkuk bakso, aku ga yakin bakal habis. Temanku juga ga yakin bs habis. ‘Tyt mangkuk temanku bocor, kosong tdk bersisa. Mangkukku kututupin pake tangan. Temanku tertawa, ‘Katanya ga habis.’ He he…. Bocor.
‘1 mangkok berapa ya Bu?’
‘Rp.1.500,- Neng’.
Lhadalah…. Murah sekali. Aku mpe kaget. Porsi sebanyak itu. Kirain sekitar 5ribu-6ribu.
Akhirnya kita semua ngebungkus untuk oleh2 yg di rumah + aku bawain untuk temanku di Bandung, dipisah kuahnya biar tidak basi tanpa santan. Dan benar… ‘dawet item Butuh’ di Jl. Yogya-Purworejo memang enak sekali. Someday klo lewat mampir sini lagi.
Kata Ibuku, dawet yg aku bawa kemarin rata untuk keluarga dan tetangga di rumah. Yg kubawa ke Bandung, rata untuk teman kost bisa untuk 2 hari, + kontrakan Kuntil n 2 teman kantorku. He he….. Rp.20.000,- bs untuk orang sebanyak itu. Itulah yg bikin pada betah di Yogya, jajanan murah2.
Dan untunglah hari itu kesampaian kita ke Pantai Glagah. Terakhir ke Pantai sebelum gempa Yogya. Lumayan puas di sana. Memasuki lokasi @Rp.2.000,-…. Kok murah bgt ya. Naik perahu @Rp.3.000,-. Jauh bgt dgn tarif perahu di Danau Situ Patenggang-Ciwidey. Akhirnya kesampaian dah naik perahu.
Pantai tidak terlalu ramai, kita pulang sudah sepi. Toilet tdk ada yg jaga, tukang parkir jg sdh tdk ada. So…. Kt tdk byr toilet n tdk bayar parkir. Lumayan…….
Dari Pantai Glagah masih keburu ke tempat kakak sepupuku di Wates. Mengunjungi istri kakak sepupuku yg kemarin meninggal. Beruntung aku bisa ketemu 2 junior kakakku yg belum pernah kutemui. Mereka begitu lucu2. Begitu ceria. Mba Dew jg terlihat tabah. ‘Sepertinya memang sudah waktunya, begitu banyak firasat sebelum kepergiannya. Kita hanya bs mengikhlaskan. Aku merasa, si Mas belum pergi. Rasanya, seperti ditinggal Mas pergi dinas saja. Toh selama ini apa2 kulakuin sendiri, tdk terlalu tergantung sama Mas,’ kata Mba Dew.
Si kecil Berdus n Rinda…. Tadinya mereka malu2, ga mau kucium. Setelah kuajakin foto2, br mereka nempel trs dgnku. Tyt anak kecil pada narcis2 jg.
Sebenarnya belum pengin beranjak pulang, tapi waktu sudah menunjukkan pk.18.00. Keretaku pk.21.30, dr Wates ke Yogya masih 1 jam lg.
‘He he…. Maaf ya, kita pamit dulu. Takut ketinggalan kereta.’
Pk.18.00 serasa sudah pk.19.00. Gelap sekali. Mungkin karena cuaca yg mendung dan siang sempat hujan sebentar.
Mpe rumah pk.19.00. Kita makan malam sebentar. Temanku pulang pk.20.00. Tadinya mereka mau sekalian mengantarku ke Stasiun, tapi aku menolaknya, mereka terlihat begitu lelah, besok pagi2 musti kerja lagi. Malam itu, baru ini, Ibuku sibuk packing barang2ku. Aku santai2 saja, Ibuku yg ribut takut aku ketinggalan kereta. So…. Ibuku juga yg sibuk ngangkutin barang2ku. Cepetan sana berangkat, di alun2 lg ada pawai, takut macet. Mau pamit dulu ma nenek-kakek, dilarang ma Ibu. ‘Dah malam, mereka dah pada tidur. Sana cepet berangkat. Nti dipamitin.’ He he br berangkat pk.20.55WIB. Untung jalan ga macet.
Kenapa ya, tiap pulang ke Yk waktu rasanya selalu saja kurang. Belum sempat makan mie ayam Bener, belum ngicipin soto P.Slamet or P.Temen. Belum jd ke angkringan. Blm maen ke X-Urang n makan jadah mbah Carik + wedang rondenya. Blm nemu tempura n es kunir asem Graha Sabha. N sama sekali ga sempet nyariin titipan temen2ku. Maaf ya, sama sekali ga sempet, maybe nti Lebaran ya, klo aku jd plg.
Yg pasti…. Aku senang sekali, kmrn kesampaian maen ke Pantai Glagah n naik perahu di sana.
‘Nti…. Pulang lg, maen ke Pantai Wonosari ya’….. baru pada nemu Pantai Baru yg masih alami…. Pantai Siung……katanya bagus bgt……..
Lebaran pulang lumayan lama, 4-5 hari di Yogya, semoga nti sempat jalan2 wherever we wanna go.
Yogya…. I’ll be back soon.
No comments:
Post a Comment