Tuesday, November 15, 2011

TEMAN SEPERJALANAN


Wednesday, July 23, 2008

Aku pengin cerita tentang teman seperjalananku waktu naik kereta dari Yogya ke Bandung kemarin. Aku mencari tiket Bandung-Yk PP sebenarnya boleh dibilang sudah mepet bgt di masa akhir liburan sekolah ini. Ticket untuk Jumat malam dan Minggu pagi, aku baru hunting ke Stasiun hari Rabu sore. Dengan tidak terlalu berharap, semoga masih kebagian ticket. Kata adikku n temanku, ‘Nekad!’, banyak yang sudah kehabisan ticket lho. ‘Yah, untung2an, klo ga dapet, terpaksa berdiri juga gapapa, kan bisa numpang di kereta makan.’

Dan, sepertinya memang sudah diatur, aku harus pulang Jumat malam dan kembali ke Bandung Minggu pagi, demi menghadiri pernikahan temanku. Ticket Lodaya malam untuk hari Jumat tinggal yang kelas bisnis, untuk Minggu pagi, semoga Lodaya executif masih ada, wah bisa kepanasan klo siang2 naik bisnis. Naik Turangga ga akan keburu, mpe Bandung pk.19.00, bisa telat aku. Dan untunglah, masih ada 1 ticket excecutif, tidak bisa milih tempat duduk. No. 12. Gapapalah, bukan yang paling belakang kan, jadi ga terlalu dekat toilet.
‘He he…. Puji Tuhan, aku dapat ticket. Jogja….. waiting for me!’  

Aku mau cerita teman seperjalananku di kereta Lodaya, perjalanan Yogya-Bandung minggu pagi. Perjalanan dari Bandung ke Yogya ga usah diceritain ya, nothing special, aku kecapean, habis Seminar, mpe kost cuma punya waktu 1 jam untuk packing n siap2. Untung masih keburu. Mpe kereta kecapean, akhirnya tidur sepanjang jalan.
Dari Yogya ke Bandung aku naik Lodaya Pagi, berangkat dari Stasiun Tugu pk.09.30, langsung dari nikah temanku. Sempat sandalku jebol, mungkin ga kuat 2 hari kuajak menghadiri beberapa pernikahan, untung jebolnya pas acara sudah selesai, untung bawa sandal serep. He he… kata orang, dasar orang Jawa, biar lagi apes, tetap saja bilang….’Untung…..’
Niatnya aku pengin tidur selama perjalanan. Kemarin 2 hari kurang tidur, sore mpe Bandung masih ada acara, persiapan untuk Tahbisan Uskup. Aku harus memanfaatkan waktuku bener2 untuk beristirahat nih. Intisari edisi Juli yang kubawa sama sekali belum kusentuh.

Teman sebangkuku seorang Ibu paruh baya, memakai kerudung putih. Berpenampilan sederhana, tapi sepertinya dia orang berada. Sekedar say hello, kusapa dia, ‘Ibu, naik dari Solo?’
Dan itulah awal pembicaraan kami. Ternyata Ibu satu ini senang sekali bercerita. Kami saling berbagi cerita di sepanjang perjalanan kami menuju Bandung. Tidak ada nada sombong dalam kata2nya, tapi aku tahu dia begitu bangga dan mencintai keluarganya. Bermula dari hidup prihatin di awal2 pernikahannya. Dari mengontrak rumah kecil di Bandung, dengan sedikit modal dari orangtua, diaturnya uang itu untuk mengontrak rumah kecil dan membeli beberapa perabot rumah tangga second di Jl. Malabar. Second gapapa, yg penting kan bisa dipakai, toh orang rumah ga tahu kan. Tahunya anaknya hidup terjamin di sini. Jangan sampai menambah beban mereka.
Prinsip saya, jangan sampai ngutang. Seberapa pun harus cukup. Kalau pengin beli sesuatu dan belum bisa kebeli, ya ngumpulin uang dulu, sudah cukup baru beli.
Ibu itu cerita, dulu suaminya cuma punya satu sepatu. Suatu hari sepatu itu kehujanan, karena besok pagi harus dipakai kerja lagi, dan tidak ada sepatu yg lain, maka sepatu itu dipanggangnya di atas tungku supaya cepat kering. Dan di luar dugaan keesokan paginya sepatu itu berkerut karena kepanasan. Akhirnya suaminya berangkat kerja dengan memakai sandal.

Hal yang sampai sekarang disesalinya, cincin pernikahannya. Dulu karena terpaksa, untuk menambah ongkos hidup di Bandung, dijualnya cincin pernikahannya. Dulu enteng saja melakukannya. Sekarang baru menyesal. Meskipun bisa kebeli cincin yang lebih bagus, tapi tetap saja berbeda.
‘Ya, cincin itu tidak akan bisa tergantikan oleh cincin mana pun. Yang lebih mahal sekalipun,’ kataku.
‘Ya, meskipun bisa beli cincin yang baru, tapi tidak ada nilai historisnya,’ kata Ibu itu.
Jadi ingat cerita Ibuku, dulu di masa awal pernikahan ayah-ibu, mereka juga dalam kondisi ekonomi yang serba sulit. Untuk menambah biaya kelahiranku, tidak ingin membebani orangtua, dengan terpaksa ayah-ibu menjual cincin pernikahan mereka. ‘Dulu enteng saja menjualnya Ret, sekarang baru menyesal,’ kata Ibuku.

Yah, cincin itu memang tidak akan pernah bisa tergantikan. Pada Pesta Perak Pernikahan ayah-ibu 3 tahun yang lalu, sebenarnya aku ingin sekali menghadiahi sepasang cincin pernikahan bagi mereka, berikut me-repro foto pernikahan mereka. Hanya tersisa 1 foto pernikahan mereka, yang lain sudah pada rusak, karena udara di rumahku begitu lembab. Foto2ku dan adik2ku sejak bayi sampai SD tidak ada yang tersisa. Hal yang begitu kusesalkan. Baru terasa sekarang. Dulu ga peduli, rusak ya sudah dibuang saja. Yah, tidak ada foto yang tersisa dari masa kecilku. Sedihnya…..! Andai ada yang masih menyimpan fotoku di masa kecil, terutama waktu aku masih bayi. Katanya saking tembemnya pipiku, mpe hidungku ga kelihatan. So ma Ibu n nenekku, aku suka dipanggil ‘Pesek’. Dulu aku pernah melihat fotoku. Masih ingat…. Tapi pengin lihat lagi. Hiks…. Hiks….
Sejak itu aku selalu berusaha menyimpan dokumentasi sebaik-baiknya. Waktu zaman belum serba digital, untuk mengawetkan foto, sebelum disimpan, foto dibaluri dengan putih telur, tunggu sampai kering betul, baru diatur di album foto. Tips ini kudapat dari Om-ku. Atau cara yang lebih simple, sebelum disimpan, foto ditaburi bedak talk (Talk powder), biasanya aku pakai bedak baby, dioleskan sampai rata di seluruh permukaan foto. Dan cara ini terbukti manjur menambah usia foto. Sekarang setelah zaman digital, semua lebih mudah. Foto bisa di-back up di hard disk atau pun flash disk.

Niat untuk menghadiahi sepasang cincin pernikahan dan me-repro foto pernikahan orangtuaku, waktu itu belum bisa kurealisasikan, karena keterbasan dana. Yah, semoga suatu saat nanti, aku bisa merealisasikannya, meskipun itu tidak akan bisa menggantikan cincin pernikahan yang sebenarnya. Waktu itu paling tidak, pada pesta perak pernikahan orangtuaku, kami sekeluarga bisa berkumpul bersama, ke gereja bersama-sama. Ya, waktu itu memintakan ujub misa bagi 25 tahun pernikahan orangtuaku, akhirnya selesai misa banyak umat yg tahu, memberi selamat kepadaku dan orangtuaku. Kami sekeluarga bisa berkumpul bersama itu sudah merupakan hadiah yang indah buat orangtuaku, mereka tidak tahu sebelumnya kalau aku bakal pulang. Dari stasiun aku dijemput temanku, diantar ke rumah pagi2, ibu sedang menyapu. ‘Surprise!’
‘Nakal ya!,’ kata Ibu ga menyangka aku bakal pulang, karena sebelumnya aku bilang ga bisa ambil cuti, di kantor lagi sibuk bgt.

Ibu itu cerita, dulu waktu lagi musim ‘Game watch,’ anaknya minta dibelikan, tapi karena keterbatasan dana, tidak dibelikannya. ‘Saya, tidak akan begitu saja menuruti keinginan anak. ‘Nabung dulu ya, nanti kalau uang sudah cukup baru kita beli.’ Biar mereka juga merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Semua perlu perjuangan.

Aku juga cerita ke Ibu itu, dulu waktu kecil, susah bgt minta sesuatu ke orangtuaku. Jika minta sesuatu, tidak akan langsung dibelikan. Sampai kesal, sudah bosan dengan jam tangan lama, minta dibeliin baru, katanya kalau belum rusak belum akan dibelikan. Aku ingat, jam tanganku waktu itu warna hijau pupus. Dulu lagi suka warna hijau pupus. Kaos n topi kesayanganku juga warna hijau pupus. Saking sukanya, kaos cuci kering pake. Ga dipake lagi setelah ketumpahan bayclin berubah warna jadi loreng orange. Saking penginnya dibeliin jam baru, kurendam jam itu ke bak mandi. Dan untungnya bukan water resistant. Akhirnya dibeliin jam baru deh. Nakal ya….
Dan tyt si Ibu juga cerita, waktu kecil saking penginnya sepatu baru, minta ga juga dibeliin, diguntingnya sepatunya, baru deh dibeliin ma orangtuanya. Tyt sama saja ya, sepertinya hampir semua pernah melakukan kenakalan serupa di masa kecilnya. Merusak barang sendiri biar dibeliin yang baru. So kalau suatu saat jadi orangtua, jangan kaget kalau anaknya melakukan kenakalan serupa. Dan katanya, anak bakal lebih bandel dari orangtuanya lho. Siap2 saja kalau suatu saat ngrasain jadi orangtua.

Ibu itu pernah mengalami beberapa bulan mengurus anak2nya sendiri, suaminya kerja di luar kota. Yah, segala perjuangan mereka berbuah manis, sekarang kehidupan mereka jauh lebih baik. ‘Saya, waktu kekurangan hidup biasa2 saja, sekarang setelah ada, juga tetap biasa2 saja. Kalaupun sekarang lagi ada uang, biar saya sendiri yang tahu, orang lain tidak perlu tahu.’

Aku juga cerita pesan Ibuku, ‘Biar bagaimana pun usahakan kamu kerja, punya uang sendiri. Jadi kamu lebih leluasa membelanjakan uang kamu sendiri. Untuk membantu saudara, kamu tidak ada beban, toh uang kamu sendiri. Mau beli apa yang kamu pengin, terserah kamu. Tidak selamanya kamu bisa bergantung terus sama suamimu. Apa yang akan terjadi nanti, tidak ada yang tahu kan. Supaya kamu tidak kaget jika harus dihadapkan pada kenyataan, menghadapi segala sesuatu sendiri.’

Ibu itu membenarkan. Dia cerita, temannya tidak bekerja, pada akhirnya suaminya meninggalkannya karena punya istri muda, dan istri keduanya ini lebih berkuasa. Dan akhirnya sekarang dia tidak bisa berbuat banyak, demi anak2nya dia belajar memasak, usaha catering sendiri, dan itu amat membantu.

Soal rumah, ibu itu berpesan, rumah itu seperti jodoh, kalau memang milik kita, bagaimanapun caranya pasti akan jatuh ke tangan kita, tapi kalau bukan milik kita, bagaimana pun kita berusaha, rumah itu tidak akan pernah bisa kita miliki. Kalau sudah punya budget, mending cepat2 ambil rumah, jauh tidak apa2, untuk investasi, meski belum ditempati, kan bisa dikontrakkan. Nilai tanah kan semakin naik, bisa untuk investasi. ‘Yah, memang kepikir untuk punya rumah sendiri, tapi sepertinya sekarang belum bisa, masih terlalu berat,’ kataku.

Mengenai rumah tangganya, ibu itu berpesan, terbuka satu sama lain dalam hal apa pun termasuk soal keuangan, saling mengerti dan memahami, itu sangat penting.

Ibu itu begitu cermat dan pintar mengatur keuangannya, untuk anak2nya, sejak anaknya lahir, setiap hari ditabungnya uang seribu-dua ribu, setelah terkumpul satu bulan, dimasukkannya ke rekeningnya, tidak akan pernah diambilnya sampai kapan pun. Jika terpaksa sekali karena kebutuhan mendesak, diambilnya uang itu, tapi akan segera digantinya kembali. Uang itu hanya untuk anaknya. Umur tidak ada yang tahu. Jika suatu saat nanti saya harus pergi, dan anak saya belum settle, paling tidak saya tidak terlalu khawatir, ada pegangan untuk pendidikan anak saya. Meskipun anak saya ikut saudara, tidak mungkin biaya pendidikan juga menjadi beban saudara saya, mungkin ikut makan, tapi untuk pendidikan paling tidak sudah saya siapkan.

Yah, sebuah pemikiran yang bijak. Kasih ibu, sampai sedemikian memikirkan masa depan anaknya. Tidak ingin anaknya hidup susah seperti dirinya.
Aku juga pernah kepikiran seperti itu, menabung per rekening untuk tiap anakku nantinya, untuk biaya pendidikan mereka nanti, secara biaya pendidikan semakin tinggi, biar ga kelabakan saat harus mengeluarkan biaya besar, paling tidak sudah ada persiapan. He he…. berkhayal masa depan boleh kan…. Bukankah semua penemuan2 penting juga dimulai dari khayalan penemunya…. Dengan usaha dan kerja keras akhirnya direalisasikannya khayalannya itu.

Soal barang atau uang kita yang dipinjam, tapi tidak kembali, kita juga membahasnya. Kalau memang milik kita pasti kembali, kalau tidak kembali ya sudah ikhlaskan saja. ‘Nanti suatu saat kita pasti akan mendapat gantinya dengan cara yang kita tidak pernah tahu. Yang penting niat kita tulus membantu.’

Soal jodoh, kata Ibu itu, jodoh itu misteri, semua di tangan Tuhan, kalau memang bukan milik kita meskipun sudah berpacaran lama, tidak akan jadi, tapi jika memang jodoh, meskipun baru ketemu seminggu, malah bisa jadi. Jodoh tidak ada yang tahu. Semua akan tiba pada saat yang tepat.

He he… kita ngobrol ke mana2 ya. Mpe2 kita kelaparan, makan siang ga datang2. Padahal 2 kursi di depan kita, makan siang dah datang dari jam 11.00. Jangan2 makanan kita kelupaan ya Bu, gerbong kita kan paling belakang.’
Ga kepikiran ngebekel makan siang, pagi di nikah temanku sudah makan. Kirain bakal kuat mpe dapat jatah makan siang. Tyt makan siangnya ga datang2.
Waktu kereta berhenti sebentar di sebuah stasiun, di luar ada yang menawarkan tahu. Ibu itu keluar sebentar, lewat pintu luar gerbong, dibelinya dua bungkus tahu. Satu untukku. ‘Terimakasih.’ Ibu itu baik sekali.
Makan siang kita baru datang pk.13.30. Telat bgt ya. Akhirnya datang juga!

Kita juga ngobrol soal loyalitas kerja, susahnya memanage karyawan. Zaman sekarang yang apa2 serba uang, semua dinilai dengan uang. Sepertinya tidak ada yang gratis. Tiap meminta sesuatu atau pertolongan pasti ada imbalannya. Dan tidak salah kan, kalau pada akhirnya kita jadi lebih berhati-hati dengan orang lain, tidak mudah percaya dengan orang lain.

Ibu, tidak terasa sudah sampai Bandung, kita berpisah di sini. Meskipun aku tidak bisa mewujudkan niatku untuk tidur selama perjalanan, tapi aku mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga, sebuah petuah dari seorang Ibu.


No comments:

Post a Comment