Sunday, 22 June, 2008
Beberapa hari yang lalu temanku yang di Semarang sms, katanya listrik di kantornya mati dari pagi, lagi giliran pemadaman rupanya. Dia mengeluh kepanasan karena AC di kantornya jadi tidak jalan.
3x dalam 1 bulan ini aku juga ngrasain giliran pemadaman listrik. Rasanya jadi tidak bernyawa. Tanpa computer, jadi bingung mau ngapain. Mana ruangan jadi gelap. Akhirnya nyalain emergency lamp. No music, akhirnya nyalain MP3 di HP. Mau ngapain ya? Beresin arsip aja dech.
Teman kostku yang lg off kerja, juga kirim sms pada hari yang berbeda. Dia bingung musti ngapain. Listrik mati. Rencana seharian mau nonton DVD, gagal dech. ‘Ya udah, bersih2 kost aja’, kataku, ‘kan ga perlu pakai listrik. Nti aku pulang pasti pangling lihat kost jadi berbeda.’ ^_^
Mang pusing kan, terbiasa kerja, libur tanpa kesibukan apapun rasanya ga enak banget. Mendingan kerja. Kecuali hari ini. I really really enjoy my spare time.
Kemarin acara di kantor, gara2 listrik mati, panitia sempat dibikin khawatir. Dalam perjalanan menuju kantor, aku rada bertanya-tanya, kenapa sepanjang jalan yang kulewati lampu pengatur lalu lintas mati semua. Sampai di kantor, teman2ku lagi pada bingung, listrik mati. Gimana nih acara penting gini.
Kemarin2 sudah confirm ke PLN katanya ga akan ada pemadaman listrik untuk hari Sabtu ini. Tyt pada kenyataannya terjadi pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Temanku mencoba berulangkali telp ke PLN Dago tapi tidak diangkat-angkat. Dan akhirnya setelah diangkat, katanya listrik baru akan nyala pk.15.00WIB.
Untung juga listrik mati 15 menit sblm acara dimulai, so masih ada waktu untuk persiapan. Akhirnya pakai genset. Acara berlangsung lancar, tapi AC tidak bisa dinyalakan karena supply listriknya tidak akan mencukupi, lebih diprioritaskan untuk peralatan elektronik yg dirasa lebih diperlukan. Akhirnya harus rela pada kegerahan saat acara berlangsung.
Kenapa kita jadi begitu tergantung dengan listrik ya. Tanpa listrik, kita dibuat kelabakan. Terlalu tergantung pada sesuatu itu tidak baik. Memang harus ada energi alternatif, supaya kalau listrik mati kita ada persiapan.
Sempat baca suatu perusahaan berhasil menciptakan mesin SS (kalau tidak salah kepanjangannya ‘Solar System’) dengan supply energi dari tenaga surya. Efektif sebagai pengganti listrik. Mampu mensuplai kebutuhan listrik untuk sebuah instansi. Sudah dipatenkan dan sekarang sedang dalam tahap perkenalan dan promosi ke sekolah2 dan instansi2. Saat ini sudah ada 6000 pesanan.
Ya, memang tidak baik terlalu tergantung/ terikat pada sesuatu/seseorang. Jangan sampai kita terlalu tergantung pada sesuatu/seseorang, karena tidak selamanya apa yang kita miliki akan kita miliki. Suatu saat kita harus siap untuk kehilangan. Jika kita tidak siap untuk kehilangan, kita akan terpuruk, akan sangat berat dalam menjalani hari2 kita selanjutnya tanpa sesuatu/seseorang itu.
Seperti filosof Sang Budha mengajarkan kita jangan sampai terikat pada sesuatu di dunia ini. Ada sebuah cerita tentang perjalanan Sang Budha bersama seorang muridnya. Suatu ketika mereka harus menyeberangi sebuah sungai yang lebar. Akhirnya sang murid membuat sebuah rakit bagi mereka. Mereka berhasil menyeberangi sungai itu dengan rakit itu. Sesampainya di seberang, si murid berusaha menyimpan rakit itu sebagai sarana bagi mereka nanti untuk kembali ke seberang. Tetapi sang Budha melarangnya, katanya,’Tinggalkanlah rakit itu disini. Jangan sampai kamu terikat dengan rakit itu.’
Ya, tak peduli rakit itu akan terbawa arus. Jangan pikirkan bagaimana nanti akan kembali ke seberang tanpa rakit itu. Soal nanti ya nanti. Pikirkanlah apa yang harus dipikirkan sekarang.
Inti dari ajaran Budha ini adalah jangan sampai kita terikat pada sesuatu di dunia ini. Karena segala sesuatu di dunia ini sifatnya fana. Jangan sampai sesuatu itu menghambatmu untuk mencapai kesempurnaan hidup. Carilah bekal untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Hal ini dirasakan oleh salah seorang temanku yang baru saja kehilangan suaminya. Dia merasa seperti kehilangan pegangan. Terbiasa ke mana-mana bersama suaminya, diantar-jemput ke mana pun pergi. Ternyata berat sekali harus kehilangan. Dia butuh waktu beberapa lama untuk bangkit lagi. Untuk terbiasa ke mana-mana sendiri. Dia tabah sekali. Dan akhirnya dia membuktikan kalau dia bisa. Katanya,’Ya benar, jangan sampai kita terlalu terikat pada seseorang.’
Yah, aku sejak dulu tidak mau terlalu tergantung pada orang lain. Selagi aku bisa mengerjakan sendiri, akan kukerjakan sendiri. Begitupun saat aku mempunyai sahabat di sekolah. Di SD aku mempunyai teman dekat, di SMP beda lagi, di SMA dekat dengan 3 sahabat, waktu kuliah aku 3 bersahabat dengan teman yang berbeda lagi. Dan saat kita harus berpisah karena kita memilih jalan kita masing2, kita siap. Kita tidak pernah tergantung satu sama lain, tanpa yang satu kita masih bisa jalan, meskipun hampir semua waktu kita luangkan bersama. Meski saling berjauhan, kita tetap dekat sampai sekarang. Jauh di mata, dekat di hati.
Sewaktu SD, sampai duduk di kelas IV aku selalu diantar-jemput ke sekolah. Di kelas IV salah satu teman cewekku yang rumahnya lebih jauh dari rumahku, dia yang biasanya diantar-jemput ke sekolah, akhirnya naik sepeda sendiri ke sekolah. Dia bisa pergi sendiri ke sekolah, aku juga harus bisa. Aku akhirnya memutuskan ke sekolah naik sepeda sendiri. Ayahku tidak mengijinkan. Mungkin khawatir takut aku kenapa2 di jalan. Ayah merasa aku masih terlalu kecil, anak pertama lagi.
Pagi itu aku tidak mau diantar ke sekolah, aku mau naik sepeda. Akhirnya aku pergi ke sekolah naik sepeda. Dan alangkah kesalnya aku, ayahku mengikutiku dari belakang pakai motor sampai di dekat sekolahku. Aku merasa kesal sekali, merasa tidak dipercaya kalau aku bisa. Yah, ayah ga bisa disalahkan, dia mengkhawatirkanku.
Begitu pun saat aku SMA. SMA-ku jauh dari rumah, sekitar 25 km. Di awal kelas I aku ke sekolah diantar-jemput oleh ayahku. Temanku suka ngledekin…. ‘Anak Papa, he Retno anak Papa!......’
Aku ga mau dibilang anak papa, akhirnya aku bilang aku ga mau dijemput, aku bisa pulang sendiri. Aku tahu jalannya kok. Saat itu aku belum cukup umur untuk punya SIM C jadi belum boleh ke sekolah naik motor. Siang itu aku sudah janjian dengan temanku untuk pulang sekolah bareng naik angkutan umum. Dan betapa kesalnya aku saat mendapati ayahku ternyata menjemputku, menungguku di depan gerbang sekolah. Aku kesal sekali. Besok lagi aku ga mau dijemput, aku bisa pulang sendiri. Aku paling tidak suka kalau tidak dipercaya kalau aku bisa melakukan sesuatu sendiri. Yah, ada kalanya maksud baik seseorang tidak diterima dengan baik oleh orang lain. Ayah bermaksud baik menjemputku, tidak tega denganku yang harus 2x oper naik angkutan umum, mana berdesak-desakan lagi. Di Yogya angkutan umum tidak sebanyak di Bandung. Harus menunggu lama lagi, dan banyak penumpang yang terpaksa berdiri.
Akhirnya sejak SMA aku dibebaskan melakukan apa2 sendiri, mengurus segala sesuatu sendiri. Ikut UMPTN, mendaftar kuliah, mencari kost, semua kulakukan sendiri.
Saat aku keterima kerja di Bandung, waktu mau berangkat ke Bandung melihat bawaanku yang begitu banyak, ayahku tidak tega. Ayah memaksaku untuk mengantar. By train, mpe Bandung langsung pulang ke Yk lagi. Aku ngotot tidak mau diantar. Kuyakinkan kalau aku bisa pergi sendiri. Kasihan ayah harus bolos kerja. ‘Bawa barang nti gampang, bisa minta tolong kuli,’ kataku. Akhirnya aku diijinkan pergi sendiri.
Sesampai di Bandung, hampir tiap hari aku ditelp ayah-ibu, mereka khawatir. Ampe2 pulsa jebol kena roaming. Ibu berulangkali membujukku untuk pulang ke Yk, kerja di Yk saja katanya. Kalau mau kerja di Yk nanti dicariin rumah untuk aku dan adik2ku biar tidak usah kost.
Kalau aku di Yk terus kapan aku bisa mandiri. Aku pengin cari pengalaman, belajar hidup mandiri.
Tapi itu dulu. Sekarang mungkin Ibu sudah terbiasa tidak ada Retno di rumah. Tiap aku pulang Yk dan malas2an pulang ke Bandung, Ibu suka marah,’Kamu tuh dah dikasih tanggung jawab mbok ya yg bener!’
‘Iya… iya, aku pulang ke Bandung sekarang!’ kataku. Kok jadi beda ya.
Tentang salah satu teman kostku waktu di Yk. Saat itu pada akhirnya aku merasa tidak pernah bisa belajar dengan tenang di kostku yang lama. Saat ujian akhirnya untuk mata kuliah yang kurasa harus belajar ekstra, aku memilih dilaju, berangkat ujian dari rumah langsung ke kampus. Lumayan jauh, daripada di kost aku sama sekali tidak bisa belajar. Anak kostnya kalong semua, baru pada tidur subuh, bangun di siang hari. Dan malam begitu berisiknya, full music, suara TV dan canda tawa mereka. Di hari2 biasa aku suka bergabung dengan mereka, tapi saat ujian, ga dech, nilai2ku nanti jeblok semua.
Akhirnya aku memutuskan untuk pindah kost.
Seorang temanku, dia adik kelasku. Sayang banget ma aku. Sampai sekarang kita masih suka contact2an. Dulu dia begitu tergantung padaku. Apa2 minta pendapatku. Materi kuliah yang dia merasa kesulitan, dia minta aku mengajarinya. Sungguh, dia melarangku pindah kost. Mengancamku akan benar2 marah, mendiamkanku selamanya. Aku bisa apa, toh ini demi masa depanku. Tidak selamanya dia bergantung terus padaku kan. Dia harus belajar menerima. Akhirnya aku minta maaf, aku tetap akan pindah kost.
Dan benar, berbulan-bulan dia mendiamkanku. Tanpa senyum, tanpa kata, tanpa mau memandangku tiap aku main ke sana. Sedihnya aku.
Akhirnya saat ultahnya, aku memaksa masuk ke kamarnya,’Met Ultah ya.’
Dia menangis, memelukku,’Mbak, tyt aku ga bisa marah sama Mbak!’
Adik kecilku, akhirnya kau tidak marah lagi.
Ya, kita jangan sampai terlalu tergantung pada sesuatu /seseorang. Akan berat buat kita jika suatu saat harus kehilangan.
Ibuku pernah berpesan, rada nakal tapi memang benar sih.
‘Kalau kamu menyukai seseorang, jangan sampai kamu menyukainya 100%.
70% atau 50% saja sudah cukup. Sisain untuk dirimu sendiri dan melirik yang lain.
He he…. Kalau tidak, kamu bakal stress bisa2 bunuh diri saat harus menghadapi kenyataan harus kehilangan dia.’
Yah, pada intinya, kita jangan sampai terlalu tergantung pada sesuatu. Berdirilah di atas kakimu sendiri. Buktikan kalau kamu bisa. So…… Fight!!!!
No comments:
Post a Comment