Tuesday, November 15, 2011

BELAJAR MENGENAL WARNA

Thursday, June 19, 2008
 
Waktu kecil aku pertama kali belajar mengenal warna dari lagu ‘Pelangi-pelangi’ dan ‘Balonku Ada Lima’. Pasti sudah tau semua ya lagu ini, lagu yang begitu populer, gampang dihafal dan tak lekang oleh waktu.
Sedikit mengingat lagu itu:

Pelangi-pelangi

Pelangi-pelangi,
alangkah indahmu,
merah, kuning, hijau,
di langit yang biru,
pelukismu agung,
siapa gerangan,
pelangi-pelangi ciptaan Tuhan.

Bicara tentang pelangi, salah satu fenomena alam yang menakjubkan yang sudah bertahun-tahun ini tidak kujumpai. Kemanakah engkau pergi wahai pelangi?
Aku tidak tahu kenapa sekarang pelangi jadi jarang sekali terlihat. Apa karena dunia sudah begitu banyak kena polusi. Air, udara, tanah tidak ada yang terbebas dari polusi. Sedangkan unsur-unsur itu yang saling bahu-membahu membentuk garis setengah lingkaran berwarna-warni dengan bantuan sinar matahari. Mungkin karena udara sudah tidak murni lagi sehingga kandungan air di dalamnya sudah tidak mampu lagi membiaskan warna-warni indah sinar sang surya untuk kita nikmati dari bumi.

Dulu waktu aku masih kecil, setiap kali habis hujan, dan  langit kembali cerah, di sore hari di ufuk timur, seiring terbenamnya mentari, pasti akan terlihat sebentuk pelangi. Membentang dari ujung bukit yang satu ke ujung bukit yang lain. Alangkah indahnya. Aku dan teman2 sebayaku pasti akan berlari-lari senang mengejar pelangi. Heiiii…. Ada pelangi. Yuk lihat yuk!
Kita akan berlarian ke tempat di mana kita akan bisa dengan leluasa memandang pelangi. Lumayan lama, 30-50 menit kita bisa menikmati pelangi dengan aroma khas tanah sehabis hujan, setelah itu pelangi akan lenyap bersama malam yang mulai menjelang.
Adikku yang bungsu di masa kecilnya sudah tidak bisa melihat pelangi lagi, barangkali sampai sekarang belum pernah melihat pelangi yang sebenarnya. Alangkah beruntungnya aku, waktu kecil berulangkali bisa melihat pelangi.

Konon kata, menurut cerita2 di waktu aku masih kecil. Hujan turun itu pertanda bidadari-bidadari di atas sana sedang berduka, mereka menangis. Saking sedihnya, air mata mereka begitu banyak yang keluar hingga sampai ke bumi, kita menyebutnya hujan. Setelah tangis mereka reda, mereka akan merasa lega dan bisa bergembira lagi. Para bidadari akan menari-nari di atas sana. Tampaklah semburat berwarna-warni dari bumi. Kita menyebutnya pelangi. Katanya, itu selendang dari para bidadari2 itu. Karena saking jauhnya, kita dari bumi cuma bisa melihat warna-warni selendangnya.

Dulu waktu masih SD, sekitar kelas II dan III tanpa sengaja kita menciptakan pelangi. Sama sekali belum tahu teori tentang bagaimana terjadinya pelangi. Kita lagi main2 air pake selang, ceritanya lagi mencuci sepeda. Saking senangnya main air, kita akan saling menyemprotkan air sampai basah kuyup, dan kita amat menikmatinya. Dan tanpa sengaja tercipta pelangi di depan mata kita. Heiiii!…. Ada pelangi.
Ternyata dengan menyemprotkan air waktu sinar matahari sedang terik, kita bisa menciptakan pelangi. Meskipun tidak seindah pelangi sebenarnya, sedikit-sedikit kita jadi tahu, pelangi tercipta karena pembiasan sinar matahari oleh air. Jadi kalau mau bikin pelangi harus ada air dan ada sinar matahari. Kita jadi senang, ternyata kita juga bisa membuat pelangi. Dan itu kita lakukan berulang-ulang sampai kita merasa bosan.

Kapan lagi ya bisa melihat pelangi. Semoga suatu saat nanti, kita bisa menikmati udara yang benar2 bersih, sehat, dan murni, supaya mampu menghadirkan pelangi yang akan lebih memberi warna hidup kita.

Balonku Ada Lima

Balonku ada lima,
rupa-rupa warnanya,
hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru.
Meletus balon hijau deeeeer…..
hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat,
kupegang erat-erat.

Beruntunglah aku, dulu sempat masuk TK, 3 tahun malah. So, koleksi lagu anak2ku lumayan banyak. Dan masih banyak yang kuingat. Nanti bisa kuwariskan ke anak cucuku. He he.
Aku dulu duduk di bangku TK selama 3 th,1 th dititipkan di TK dekat rumah, tapi tidak penuh 1 th karena keburu ngambek, ga mau sekolah lagi, trauma waktu sol sepatuku terjepit di jembatan bambu ketika mau menjemput Bu Guru. (Dulu anak2 TK ada tradisi menjemput Ibu Guru yang rumahnya di seberang sungai, satu2nya akses ke sana lewat jembatan bambu). Aku bilang, kakiku ditarik hantu penunggu jembatan. Dasar anak kecil, khayalannya terlalu tinggi atau jangan2 dulu mengumbar cerita seperti itu biar kedengeran lebih seru ya. Emang iya…….suka hiperbol……..mpe sekarang. ^_^

Dulu ibuku gaya, aku yang masih TK suka didandani aneh2, pakai sepatu warna-warni berhak tinggi. Rambut bagian atas diikat sedikit , pakai pita warna-warni, dimatching-in dengan warna baju dan sepatuku. Giliran adikku dah ga lagi, dah ga sempat, atau mungkin karena aku anak pertama kali ya, buat eksperimen.
Kalau ingat itu, suka ketawa sendiri. Anak kecil dipakaiin sepatu berhak tinggi. Mana bisa lari-lari. Anak kecil kan hobinya lari. Mungkin maksud ibu biar aku ga sering lari-lari kali ya.
Tahun ajaran baru berikutnya baru masuk TK beneran, rada jauh dari rumah, jadi diantar jemput. TK O kecil 1 th, lanjut TK O besar 1 th.

Malangnya adikku yang no 2 dia tidak pernah masuk TK, so koleksi lagunya sedikit sekali, dan dia tidak terlalu suka menyanyi. Yah, tanpa TK pun dia sudah cukup pintar untuk bisa langsung masuk SD.
Benar ya, memory seorang anak kecil itu lebih cemerlang dari memory orang dewasa. Apa pun yang diajarkan di waktu kecil, baik atau buruk, akan selalu membekas di pikiran mereka. So berhati-hatilah kalau mengajarkan atau menjanjikan sesuatu pada anak kecil. Mereka akan ingat terus, meskipun kadang tidak sampai terbersit menanyakan kenapa kita melupakan janji kita.

Kembali tentang balon. Kenapa ya, anak kecil suka sekali dengan balon. Mungkin karena warna-warnanya yang menarik ya. Apalagi balon jika dipencet suka ada bunyinya thiet…. thiet….. Meski berisik, tapi secara ajaib anak kecil yang nangis akan berhenti menangis dengan sendirinya. Itulah hebatnya balon.
Dulu aku juga suka dibeliin balon. Paling suka warna merah.
Paling sedih kalo pada akhirnya balonku jadi kempis atau meletus.
Tiap jajan permen, milih permen yang berhadiah balon. Aku dan teman2 akan berlomba-lomba siapa yang berhasil meniup balon paling gedhe, dan aku selalu kalah. Teman2ku banyakan cowok sih, tenaga mereka untuk meniup lebih gedhe. Pada akhirnya akan ada yang membantu melanjutkan meniup balonku biar bisa lebih mengembang. Sesudah jadi semua, balon itu kita mainin, dilempar rame2 ke udara. Siapa yang bisa melempar paling tinggi, itulah pemenangnya.

Aku masih ingat sekali, waktu itu aku masih TK. Dibeliin balon oleh budeku dari acara Sekatenan di Yogya. Warnanya merah. Balon yang berisi gas hydrogen. Jadi ringan sekali, mudah terbawa angin, so diganjal pakai kayu kecil di ujung benang sekaligus sebagai tempat pegangan. Dasar anak kecil suka pamer ( mpe sekarang masih kayaknya ^_^), kupamerin ke tetangga depan rumah, anak cowok. Dia hobi bereksperimen. Dilepasnya kayu pengganjal balon kemudian diganti dengan kayu lain yang katanya lebih bagus. Tapi ternyata kayu yang menurutnya lebih bagus itu tidak cukup kuat untuk menahan balon. Akhirnya terbanglah balonku nyangkut di atap dapur rumahnya.
Balon dipaksa turun pakai bambu panjang, perlu perjuangan ekstra, dan akhirnya……………. Dorrr……………… balonku meletus kegencet bambu.
Sedihnya…………..
Itulah kali terakhir aku dibeliin balon.


                                                                                                  Now 2008

No comments:

Post a Comment