Tuesday, November 15, 2011

BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA KITA BERDOA?


Tuesday, May 27, 2008

Hari ini aku akan belajar menulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, jadi kalau belum baik dan benar maklum saja, namanya juga baru belajar. ^_^

Bagaimanakah seharusnya kita berdoa, meminta sesuatu kepada Tuhan, berdoa dengan benar sehingga doa kita akan dikabulkan.
Kemarin aku sempat berbeda pendapat dengan seorang temanku. Sebelumnya dia berziarah ke goa Maria di Ambarawa dan aku lupa untuk menitip sebuah doa ke dia. Aku minta kepadanya kalau suatu saat berziarah lagi, aku menitip sebuah doa. Dia menanyakan aku ingin menitip doa apa. Aku bilang aku cuma ingin bisa menjalani hari-hariku dengan baik, dengan penuh syukur.
Dia mengatakan kalau itu adalah doa orang dewasa, tidak jelas apa sebenarnya yang diinginkan. Berdoalah seperti anak kecil, kalau pengin baju, bilang minta baju, kalau pengin sepatu, bilang minta sepatu. Jadi Tuhan tidak bingung. Apa sebenarnya yang kamu inginkan.
Aku bilang, aku tidak tahu apa yang kuinginkan saat ini. Aku cuma ingin bisa lebih bersyukur agar bisa menjalani hari-hariku dengan baik dengan ikhlas.

Aku tidak tahu berdoa yang benar itu seperti apakah. Sedari kecil setiap berdoa pasti langsung mengatakan kepada Tuhan, aku ingin ini, aku ingin itu. Tapi doa-doaku lebih sering tidak terkabul daripada terkabulnya. Mungkin apa yang aku minta bagi Tuhan itu bukan hakku, bukan yang terbaik untukku. Aku terlalu menuntut menginginkan sesuatu yang sebenarnya bukan untukku. Dia punya rencana lain yang lebih baik untukku. Dan aku percaya itu.

Pernah waktu berbincang dengan teman, saat itu aku benar-benar sedang bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Berada diantara dua pilihan. Mungkin bukan dua pilihan, tapi dua kenyataan yang harus kuhadapi, karena aku memang tidak bisa memilih.
Kata temanku,”Mungkin buat Tuhan satu pilihan itu terlalu mudah buat kita ya, maka Tuhan memberi kita dua pilihan supaya kita mau berpikir.”
Kataku, “Ya, dua pilihan, supaya kita mau berpikir, untuk menguji kita, apa kita bisa melewatinya dengan baik. Apapun pilihan kita, hasilnya baik atau tidak baik, itu pilihan kita sendiri. Jadi konsekuensinya kita harus ikhlas menjalaninya. Tapi sekarang ini, aku tidak dihadapkan pada dua pilihan, karena aku memang tidak bisa memilih. Tapi dua kenyataan yang memang harus kuhadapi.”
Dan aku tahu, aku harus berjuang untuk menghadapinya. Aku harus bisa meskipun pada awalnya terasa begitu sulit. Tapi sungguh dengan berbagi cerita dengannya malam itu, bebanku sedikit berkurang. Ya, aku tahu aku perlu teman untuk berbagi. Dan aku bukan orang yang bisa dengan mudah percaya dengan orang lain. Aku bukan orang yang gampang berbagi masalahku dengan orang lain, meskipun aku sudah begitu dekat dengannya. Tapi begitu aku percaya dengan seseorang dan merasa lebih rileks dengan berbagi cerita dengannya, apapun masalahku bisa ku-sharing-kan dengannya. Meskipun kadangkala dia tidak bisa membantuku memberikan solusi, dengan mendengarkan ceritaku, itu sudah cukup buatku, sudah amat membantu meringankan bebanku.

Aku bersyukur sekali waktu itu Minggu sore 4 Mei 2008, aku mengikuti misa Novena di Gereja Paulus. Sungguh kotbah yang membuka mata hatiku. Menyadarkanku akan banyak hal. Aku yang biasanya tidak terlalu mendengarkan kotbah waktu misa, sore itu aku benar-benar menyimak dari awal sampai akhir. Sebuah kotbah yang indah. Tentang sebuah doa. Bagaimana seharusnya kita berdoa.
Pastor itu bercerita. Ibunya sedang sakit, dirawat di sebuah Rumah Sakit. Malam sebelumnya Pastor itu punya kesempatan untuk menjaga ibunya, menemaninya di samping tempat tidurnya. Sebuah kesempatan yang langka bagi Pastor itu untuk bisa menemani Ibunya.
Ibunya yang kesadarannya sudah berkurang, yang mulai tidak mengenali sekelilingnya, malam itu tidak bisa tidur dengan tenang, gelisah di tempat tidurnya. Pastor tidak tega, akhirnya berdoa Rosario bagi Ibunya. Doa pertama selesai, Ibunya tidak juga kunjung tenang, semakin gelisah tidurnya. Pastor berpikir, apa aku kurang serius berdoa. Diulangnya berdoa Rosario. Sampai doa Rosario yang ketiga Ibunya tidak kunjung tenang, malah semakin gelisah. Kata Pastor itu, apa ada yang salah dengan cara aku berdoa. Apa Tuhan tidak berkenan dengan doaku.
Akhirnya Pastor itu merenung. Diam dalam keheningan malam, mendengarkan suara-suara di sekelilingnya. Kemudian di tengah malam, Pastor itu dengan pasrah kepada Tuhan, berdoa, “Tuhan terimakasih, karena Ibuku sakit, maka malam ini aku bisa bersama Ibu disini, menjaga Ibu, menemaninya.”
Sungguh suatu mujizat, sesudah berdoa demikian, Ibu Pastor itu tidak gelisah lagi. Tidur dengan nyenyak sampai pagi.
Karena itu, jika kita berdoa, jangan menuntut Tuhan untuk memberikan apa yang kita minta. Tetapi bersyukurlah, pasrah pada Kehendak-Nya.
“Pastor, bukankah ada tertulis di Injil mintalah maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
“Ya”, kata Pastor, ‘Tetapi kamu cuma melihat ayat yang di bawahnya, kamu tidak membaca ayat di atasnya. Semua itu akan diberikan kepadamu kalau kamu sudah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apakah itu sudah kamu lakukan?”.
Inti dari sebuah doa adalah bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Bersyukur atas segala karunianya. Dan pasrah pada kehendak-Nya. Jangan terlalu menuntut sesuatu kepada Tuhan, karena apa yang kita minta itu belum tentu yang terbaik buat kita. Tuhan tahu apa yang kita perlukan, dan Tuhan punya sebuah rencana yang amat baik untuk kita.

Ya, selama ini mungkin aku terlalu menuntut ingin ini, ingin itu, kurang mensyukuri apa yang ada padaku, apa yang aku terima, apa yang kujalani. Padahal jika melihat ke sekelilingku begitu banyak mereka yang lebih tidak beruntung dari aku. Ya, kadang-kadang kita memang harus melihat ke bawah, supaya kita bisa mensyukuri apa yang telah kita terima. Tapi kita tidak boleh terpaku melihat ke bawah, kita juga sesekali harus melihat ke atas, supaya kita tidak stuck disini, terpacu untuk berjuang supaya kita bisa selangkah lebih maju. Ya, tapi semuanya harus seimbang. Jangan sampai karena terlampau sering melihat ke atas dan ke bawah, kita jadi melupakan mereka yang di sekeliling kita, mereka yang mencintai kita. Mereka juga membutuhkan perhatian kita. Semua ada porsinya. Berusahalah sesuai kemampuan kita.

No comments:

Post a Comment