Thursday, November 17, 2011

Tentang LASKAR PELANGI

Tuesday, October 21, 2008

Kemarin temanku di Yogya sms. Katanya mpe sekarang tiket nonton Laskar Pelangi masih antre. Jadinya mpe sekarang dia belum nonton. Yah maklum. Satu2nya bioskop 21 di Yogya Cuma di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Orang2 Yogya dan Klaten, klo pengin nonton, mau ga mau ke sana. So….. tiket 21 di Yogya boleh dibilang mahal dibandingkan tiket di Bandung yang sekarang jadi murah coz saking banyaknya bioskop. Sebuah persaingan bisnis yg menguntungkan kita2.
‘Ya sudah, biar ga antre nonton ke Bandung aja!’ kataku.

Laskar Pelangi……
Memang heboh bgt. Sepertinya bakal menjadi film Indonesia terlaris tahun ini. Banyak sekali pelajaran yg bisa dipetik dari sana. Sampai2 ada sekolah yg menjadikan film ini tontonan wajib. Bikin acara nonton bersama bagi guru2nya. Yah, mungkin diharapkan Bapak-Ibu Guru bisa meneladani Ibu Muslimah, bisa lebih termotivasi dalam mengajar.

Aku menonton film ini sebelum Lebaran, minggu 28 September 2008. Sejak awal dengar novel ‘Laskar Pelangi’ bakal difilmkan, aku n teman2ku sesama penggemar ‘Laskar Pelangi’ sudah antusias bgt pengin nonton. ‘Nti nonton ya! Ingat launching tgl 25 September!’
Sebenarnya sudah pengin nonton sejak launching perdana. Tapi sejak hari Kamis 25 September mpe hari Sabtu, coba telp ke Braga 21 n BIP 21, kita dah kehabisan ticket terus. Dari jam 12 siang ticket s.d. pk. 19.00 sudah habis semua, kalau mau tinggal yg jam 21.00. Wah ga deh, nti pulangnya bakal kemaleman, kasihan yg besok dapat shift pagi.

Akhirnya dengan semangat 45, Minggu pagi 28 Sept’08 aku ma Saliwet niat mo antre ticket ke BIP. Tadinya pengin nonton di Braga, ticketnya lebih murah 5 ribu. Berhubung ada beberapa dari kita yg terus pengin belanja oleh2 untuk mudik di sekitar Jl. Merdeka, akhirnya diputuskan kita nonton ke BIP aja.

Berangkat pagi2 dari kost, kita ke Jonas dulu, antar Saliwet yg pengin cetak foto, ngejar happy hours cuma mpe jam 09.00. Dari Jonas ke Kartikasari Dago dulu beliin titipan Dewot. Habis itu kita langsung ke BIP. Naik ke lt.4 lihat jam, pk.10.15WIB. PD aja, kan BIP aja baru buka pk.10.00, pastinya belum antre.
Dan alangkah kagetnya waktu kita mpe pintu masuk Cineplex. Ada 3 antrean panjang. Ngantre ‘Laskar Pelangi’ semua.
Olala….. pada datang jam berapa sih. Rajin amat. Kita yg ngerasa dtg kepagian, tyt banyak yg dtg lebih pagi. Qirain…….
Jadi inget dulu waktu msh kul, ngantre beli ticket ‘AADC’. He he, terulang lg........
Akhirnya kita kut ngantre dp nti lebih panjang lg. Aku ma Saliwet memilih berbeda jalur, nti siapa yg duluan aja.
Dan kesabaran kita benar2 diuji. Locket katanya baru buka pk.10.30. Ditunggu mpe pk.11.00 kok antrean ga maju2 juga. Tyt….. sistem mengalami trouble. Saliwet yg hari itu lg ga puasa dah ngeluh laper, sedang aku sebenarnya berniat menemani Etil puasa coz sore mo buka bareng.

Sabar…… sabar!!!!! Antrean makin panjang, mencapai luar pintu. Untuk lebih menghemat tempat, oleh security di sana, antrean dibagi 2 lagi, menjadi 6 antrean.
Pk. 11.30, akhirnya locket dibuka. Sayang antrenya klo beli ticket ga banyak  sekalian, akhirnya telp Kuntil, sapa tau dia mau kut nonton jg. Tyt dia lg di Jkt. Ya sudah, beli buat kita2 aja. 
Mpe giliranku beli ticket, aku ambil jadwal pk.19.30. Ga sia2 antre lama, masih leluasa milih tempat duduk. Dapat deret no. 2 dari belakang. Lumayan…….

Akhirnya bisa bernafas lega. Dan coz kasihan ma Saliwet, akhirnya aku batalin puasa. Manfaatin voucher KFC 20ribu-ku akhirnya kita makan siang. Untung juga aku batalin puasa. Dlm perjalanan pulang habis ambil foto di Jonas, ban motorku bocor, benar2 habis. Harus ganti ban dalam lagi. Herannya, pasti deh tiap banku bocor, pasti deh di dekat situ ada tambal ban. Terimakasih Tuhan. Kau beri ujian sekaligus jawabannya. He he……

Perjuangan untuk dapetin ticket, ga sia2. Kita semua sehabis nonton Laskar Pelangi merasa puas. Soul dari novelnya ga hilang. Mira Lesmana n Riri Riza, dari dulu selalu ga main2 dalam menggarap sebuah film. Benar2 melalui proses observasi yg matang. Skenario, setting lokasi, casting pemain, costume, semua disiapkan dengan sungguh2. Cuma sayang, banyak kisah menarik dari novel tidak diceritakan. Yah, memang karena factor terbatasnya durasi jadi tidak memungkinkan. Ada beberapa cerita yg sedikit berbeda dari novel tapi tidak terlalu penting menurutku. Mungkin untuk penyederhanaan cerita coz memang kata2 di novel banyak yg teoritis dan konseptual bgt, takutnya akan sulit dimengerti. Ada tokoh tambahan yg di novel tidak ada, Pak Guru (klo ga salah Pak Badrun namanya) yg diperankan oleh Tora Sudiro. Di film diceritakan Pak Guru ini menyukai Ibu Muslimah.
Yah secara total, character pemain dapatlah, mendekati yg digambarkan di novel.

Memang klo membaca novel, akhirnya difilmkan, pasti akan bilang lebih bagus novelnya, coz lebih detail. Aku baca Harry Potter juga, tiap nonton filmnya pasti merasa tidak puas. ‘Lebih bagus bukunya.’ Yah, dengan membaca kita jadi lebih bebas berimajinasi, di film, kadang2 ada adegan ataupun character pemain yg tidak sesuai dgn imajinasi kita. Akhirnya sedikit kecewa.

Sayangnya, bagaimana kehidupan selanjutnya 10 bocah Laskar Pelangi 8 tahun kemudian tidak diceritakan semua. Trapani yang menjadi gila, Kucai yg sempat jadi actor kemudian menjadi pejabat, Mahar yg menjadi seorang budayawan dan penulis, Sahara yg kemudian menikah dgn A Kiong, dan Flo yg menikah dgn salah seorang anggota Societed yg merupakan pegawai bank.

Banyak sekali pelajaran yg bisa diambil dari Laskar Pelangi. Bagaimana perjuangan seorang Ibu Guru, Bpk. Kepala Sekolah dan 10 bocah, yg dalam keterbatasan mereka bisa tetap survive dan memiliki semangat juang yg tinggi. Menyimak kisah para Laskar Pelangi dan Ibu Muslimah, membuat kita jadi terharu. Rasanya jadi pengin ke daerah, membaktikan diri untuk daerah. Siapa tahu ada sesuatu yg bisa kulakukan di sana. Tapi apa aku punya cukup keberanian, kemauan, semangat dan kekuatan seperti Ibu Muslimah. Rasanya aku tidak akan bisa setegar Ibu Muslimah. Salut dengan Ibu Guru ini. Tidak memikirkan materi. Demi mewujudkan cita2 para bocah cilik, demi berbagi ilmu, demi sebuah pengabdian, Ibu ini rela melepaskan begitu banyak kesempatan untuk hidup lebih baik yang sebenarnya bisa saja diraihnya.

Salut juga dengan para bocah Laskar Pelangi ini. Dalam keterbatasan, pengetahuan mereka demikian luas melebihi anak2 lain yg memiliki fasilitas yg lebih lengkap. Dan pada akhirnya, jalan hidup tidak ada yg tahu. Kita tidak tahu akan dibawa ke mana kita nanti. Mungkin takdir. Tapi kita juga yg menentukan takdir kita. Kita tetap harus berjuang. Seperti beberapa bocah Laskar Pelangi yg karena kegigihan mereka akhirnya bisa meraih sukses. Dan kadang nasib orang tidak ada yg tahu. Rasanya sungguh tidak rela dengan Lintang, anak yg begitu cerdas, akhirnya harus rela melepaskan impian dan cita2 demi kelangsungan hidup keluarganya, menjadi tulang punggung keluarga. Pada akhir cerita, di film Lintang diceritakan akhirnya menjadi seorang kuli angkut barang, berbadan tinggi besar, pada pertemuannya dengan Ikal, Lintang memperlihatkan ke Ikal, anak perempuannya yg tengah bersekolah. Meskipun dia putus sekolah, dia tidak ingin anaknya bernasib sama dengannya. Dia pengin anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi, meneruskan cita2nya yg kandas di tengah jalan. Sedikit berbeda dengan di film, di novel, diceritakan Lintang akhirnya menjadi sopir truck, berbadan kecil kerempeng. Yah, sama2 profesi yg begitu menguras tenaga dengan penghasilan yg tidak sebanding dgn keringat yg mereka keluarkan.
So….. bersyukurlah kita yg mempunyai kesempatan dan fasilitas yg baik untuk menuntut ilmu. Pendidikan itu mahal harganya, dan tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan itu. Masih banyak mereka yg terpaksa putus sekolah karena terbentur oleh biaya. So…. jangan sia-siakan bagi kamu yg memiliki kesempatan yg terbuka lebar untuk belajar. Sebagai bekal kita untuk di masa yg akan datang.

Laskar Pelangi. Salah satu novel yg paling lama kubaca. Aku dapat novel ini saat ultahku kemarin, dari sohibku Ita. Akhirnya dia kut beli juga coz penasaran ma aku yg heboh ma Laskar Pelangi. Aku baca novel ini selama 7 bulan. He he…. malesnya…… Ga tau sekarang waktu rasanya terbatas bgt. Dan ada beberapa cerita yg rada bertele-tele jadi kadang merasa bosan, tidak ada keinginan untuk membuka halaman selanjutnya. Pada akhirnya aku ngotot cepat2 menyelesaikan baca novel ini coz film-nya segera tayang. Pengin mbandingin sama ga cerita di film dengan di novel. Tapi tetap aja, baru kelar baca 5 hari setelah nonton film ini. Si Nick jd pengin baca setelah tau film ini heboh. Dan akhirnya aku harus rela novel yg benar2 kujaga agar tidak lecek, jadi keriting, coz waktu liburan kemarin, main ke pantai, novel ta’taruh di dashboard belakang, tyt kepanasan. Buku + sampul plastiknya jadi keriting. Hi hi hi sayangnya……, akibat keteledoranku juga sih.

Laskar Pelangi……. Sip deh. Ditunggu film kelanjutannya. ‘Sang Pemimpi’ dan ‘Edensor’. Semoga bisa difilmkan, coz pasti akan menelan budget yg sangat besar secara setting cerita di Eropa. Dan the last tetralogi….. ‘Maryamah Karpouv’……. Kapan terbitnya ya? Si Etil dah nanyain terus. He he…… Sabar ya!

No comments:

Post a Comment