Thursday, June 26, 2008
Sewaktu SD aku pernah diajarkan sebuah lagu tentang Padi, kalau tidak salah judulnya ‘Serumpun Padi Tumbuh di Sawah’, aku suka lagu ini, sampai sekarang masih hafal, lyricnya seperti ini:
Serumpun padi tumbuh di sawah
hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur,
di pangkuan ibu pertiwi
Serumpun jiwa suci
hidupnya kian abadi
Serumpun padi mengandung janji
harapan ibu pertiwi
Nasi, makanan yang kita jumpai setiap hari, yang tau2 sudah siap tersaji di meja makan, yang banyakan orang Indonesia bilang, ‘Hari ini aku belum ketemu nasi!’, yang merasa belum makan kalau belum makan nasi. Jangan sepelekan nasi. Kadang2 begitu mudahnya kita membuang-buang nasi. Masih sisa banyak, lupa tidak dihangatkan lagi, akhirnya dibuang. Sayang ….. kan!!!!!!!!
Nasi……, butuh proses yang panjang hingga bisa terhidang di meja makan kita. Tahukah kamu, perjuangan Pak Tani dan Ibu Tani hingga bisa terhidang nasi di meja kita.
Sewaktu aku masih kecil, sudah terbiasa sekali melihat para petani sibuk di sawah, menggarap sawah, dimulai dari mengairi sawah, membajak sawah (cara tradisional dengan bantuan kerbau, cara modern dengan mesin ‘traktor’), menyemai benih, menanam bibit, memupuk, memanen, menjemur, akhirnya menggiling dan jadilah beras. Pemandangan seperti itu sudah biasa kulihat sejak kecil.
Yang aku merasa heran sampai sekarang, proses menanam bibit padi. Biasa dikerjakan oleh ibu2. Mereka mengatur padi dengan bantuan bambu panjang yang sudah dibelah menjadi 5 atau 6 sebagai penggaris supaya bibit yang ditanam bisa teratur segaris. Ibu2 ini mengatur bibit dengan berjalan mundur sambil membungkuk. Betapa kuatnya mereka membungkuk sampai ber-jam2 sambil berjalan mundur dan hasilnya tetap lurus. Mereka bekerja beramai-ramai sambil bercanda. Dengan begitu pekerjaan mereka akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Ya, di daerahku masih begitu banyak sawah, tapi sayang, sekarang ini banyak yang sudah disulap jadi perumahan, pertokoan dan warung2 makan.
Mungkin dulu pernah sedikit menyepelekan, memanen padi….. ah gampang…. Aku juga bisa, cuma suka ga ada waktu saja, aku kan harus sekolah. Kebetulan kakekku punya lahan sawah. Dulu digarapnya sendiri. Karena kondisinya yang semakin tua, akhirnya sawah itu diserahkan ke orang lain untuk menggarapnya, sistem bagi hasil.
Akhirnya waktu panen tiba. Kebetulan waktu itu aku sedang liburan sekolah, kalau ga salah liburan kenaikan kelas VI. Sambil berkelakar aku bilang, sepertinya seru ya, untuk ngisi liburan kita memanen padi sendiri. Dan ternyata ibuku antusias sekali dengan rencana ini. Ibu sore itu juga minta izin ke nenekku untuk memanen padi sendiri keesokan hari, berdua denganku.
Jadilah pagi itu aku dan ibu bersiap-siap berangkat ke sawah. Pakai kaos plus kemeja lengan panjang, celana pendek, caping untuk ibuku dan aku memakai topi. Tak lupa kami bawa bekal makanan dan minuman ala kadarnya. Dengan PD dan yakin kami berangkat ke sawah. Optimis pulang bisa bawa paling tidak 5 karung padi.
Akhirnya kami mulai beraksi, Ibu memanen dengan ani-ani atau disebut juga ketam, dapat minjam dari nenekku, alat yang biasa digunakan Ibu2 tani untuk memanen padi, kalau Pak tani mereka biasa menggunakan arit (sabit), bisa lebih cepat. Sedang aku karena cuma ada 1 ani2 dan sudah digunakan ibu, maka aku menggunakan cutter kecil. 1 jam pertama kami masih semangat bekerja, sambil tertawa-tawa. Seiring waktu, panas mulai menyengat, dan kaki mulai terasa perih dan gatal. Tangan juga rasanya sudah sakit sekali. Aku menyerah, akhirnya aku bilang ke Ibu, aku nyerah, dah ga kuat lagi, kakiku gatal sekali. Akhirnya aku memilih menunggu ibu sambil duduk2 di pematang sawah, mencari tempat yang teduh.
Ibuku keki sekali, dia marah karena terpaksa bekerja sendiri, ‘Gimana sih, katanya mau bantuin!’
‘Aku nyerah, ga kuat, kakiku gatal sekali, perih, tanganku juga sakit!’ aku ga juga beranjak membantu Ibu. “Sudah pulang saja Yuk!’ ajakku.
Tapi sepertinya ibuku terlalu gengsi untuk menyerah di tengah jalan. Apa kata mertua nanti. Sudah bilang bisa memanen padi, pulang bawa sekarung padi juga belum dapat. Yah, ibuku gengsinya tinggi, pada akhirnya menurun ke anaknya juga. ^_^
Sore hari akhirnya kita pulang. Hanya membawa 1 ½ karung padi hasil panenan kami, panenan ibuku tepatnya, karena sepertinya aku cuma menyumbang ¼ karung kalau ga mah kurang dari itu. Benar2 letih. Ibuku wajah dan tangannya benar2 merah terbakar sinar matahari. Sampai rumah, kaki dan tangan kami merah semua, perih + gatal. Sudah dibasuh dengan air sabun, gatalnya ga ilang2 juga. Sampai malam waktunya tidur, gatal belum juga hilang. Ayah menertawakan kami,’Emang dikira gampang memanen padi!’
He he, akhirnya cuma sekali itu kami memanen padi, keesokan hari memanen padi dilanjutkan oleh buruh2 tani upahan dengan sistem bagi hasil.
Kapok deh, cukup sekali. Ternyata ga gampang ya jadi petani itu. Harus tahan banting.
Padi setelah dipanen, itu masih butuh proses panjang untuk jadi nasi. Padi yang sudah dipanen dipisahkan bulir2nya dari batangnya terlebih dahulu. Cara yang paling sederhana digilas dengan kaki, kalau mau lebih cepat dengan dipukul-pukulkan ke sebatang kayu. Aku dulu suka sekali membantu menggilas padi memakai kaki. Alangkah senangnya saat hasil gilasanku ditakar oleh nenek. He aku tyt bisa membantu. Tapi habis itu harus rela kaki gatal2 dan kemerahan. Batang2 yang sudah bersih dari bulir2 padi dikumpulkan, biasanya untuk makan ternak kalau ga dijemur setelah kering nanti digunakan sebagai pengganti kayu bakar.
Bulir2 padi yang sudah terpisah, dijemur hingga kering. Dan itu memakan waktu berhari-hari sampai benar2 kering. Setelah padi kering, bisa disimpan, untuk kemudian digiling menjadi beras. Dulu kadang2 aku suka ikut ke tempat penggilingan padi. Aku suka sekali berada di sana. Aku suka melihat proses penggilingan dan mencium wangi aroma bekatulnya. Namanya anak kecil kali ya, apa pun menarik untuk diamati, jadi bermain sekaligus belajar, tanpa pernah menyadari kalau sebenarnya dari bermain itu bisa mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang berharga.
Padi pertama-tama dimasukkan ke mesin penggiling 1, untuk dipisahkan dari kulit luarnya. Kulit luar ini disebut sekam, biasanya digunakan untuk memasak sbg pengganti kayu bakar. Beras yang sudah terpisah dari kulit luarnya digiling lagi tahap ke-2. Hasil penggilingan belum benar2 bersih, menghasilkan limbah yang masih sedikit kasar, di Yogya biasa disebut dedak, digunakan sebagai campuran makanan ternak, seperti ayam dan itik. Tetanggaku biasanya mencampurkan dedak ini dengan nasi sisa dan sedikit air, baru diberikan ke ayam dan itik piaraannya.
Pada penggilingan tahap ke-3 baru dihasilkan beras yang benar2 bersih, beras seperti yang biasa kita lihat sehari-hari. Penggilingan ke-3 ini menghasilkan limbah yang lebih halus, disebut bekatul Ga tau kenapa aku suka sekali mencium aroma bekatul. Bekatul ini biasanya digunakan untuk campuran minuman ternak seperti kerbau dan sapi, biar lebih sehat katanya.
Waktu masih kecil aku suka mengamati tetanggaku memberi minum kerbau dan sapi piaraannya. Bekatul dicampurkan ke dalam seember air, kemudian diberikan ke sapi dan kerbau, sebagai konsumsi selingan dari rumput dan jerami sebagai makanan pokok mereka. Kandungan Vitamin B bekatul tinggi sekali. Sebenarnya bagus juga untuk kita konsumsi. Kadang2 ada yang memasak bekatul dijadikan makanan tradisional, tapi sekarang sepertinya sudah jarang dijumpai di pasar2 tradisional.
Beberapa tahun belakangan ini bekatul sedang dikembangkan oleh Dr. Liem, dianjurkan untuk kita konsumsi sehari-hari, dengan cara dicampurkan ke minuman, bisa dicampurkan ke dalam teh, kopi, atau susu dengan takaran tertentu sesuai kebutuhan. Sangat baik untuk kesehatan dan terbukti kalau kita rajin mengkonsumsinya kita bisa sembuh dari sakit yang kita derita. Aku pernah mencoba mengkonsumsi bekatul Dr. Liem, dapat dari teman, tapi aku tidak telaten, akhirnya cuma bisa bertahan mengkonsumsi 1 minggu, untuk campuran minum susu. Rasanya aneh, kataku, belum terbiasa kali ya. Temanku kutawari juga ga ada yang mau, akhirnya sampai sekarang masih kusimpan. Siapa tahu nanti sewaktu-waktu aku berubah pikiran.
Ternyata proses pengolahan padi menjadi beras begitu panjang dan melelahkan ya. Karena itu, hargailah jerih-payah Bapak tani dan Ibu tani yang tanpa kenal lelah berjuang mencukupi kebutuhan pangan kita. Kadang2 aku berpikir, kerja keras mereka, keringat mereka yang bercucuran apa sebanding ya dengan hasil yang mereka dapatkan. Padi dibeli dari para petani dengan harga murah, dan akhirnya setelah jadi beras oleh pedagang2 eceran dijual dengan harga tinggi. Coba, siapa yang lebih diuntungkan?
Yah, semoga suatu saat nanti kesejahteraan para petani bisa lebih terjamin. Berjuang terus ya Pak Tani dan Bu Tani. Kami semua bergantung padamu.
No comments:
Post a Comment