Tuesday, November 15, 2011

Lakukan Apa yang Pengin Kamu Lakukan Sebelum Semuanya Terlambat


Thursday, May 29, 2008

           Waktu kecil, karena ayah ibuku bekerja, setiap mereka pergi bekerja, aku dan adik-adikku dititipkan pada nenekku untuk diasuhnya. Bukan nenek kandungku. Lebih tepatnya adik nenekku, kami memanggilnya Mbok Yem. Saking seringnya aku dan adikku diasuh Mbok Yem, kami menjadi begitu dekat. Tiap kali dimarahi ibuku, aku pasti lari ke rumah Mbok Yem, ya dia selalu membelaku, meskipun aku salah. Belakangan aku jadi merasa kasihan dengan Ibuku yang terpaksa harus mengalah, meskipun aku yang salah.
Mbok Yem mengasuhku sejak aku bayi. Pagi-pagi sambil berangkat kerja, Ibu menitipkanku ke Mbok Yem, pulang kerja aku diambilnya. Begitu seterusnya sampai aku mulai masuk TK. Mbok Yem pintar membuat aneka gerabah. Dia begitu rajin. Aku ingat dari cerita2nya, dulu waktu aku bayi, aku digendong di punggungnya, sembari dia membentuk gerabah. Terayun-ayun di punggungnya, aku merasa nyaman dan akhirnya tertidur.
Setelah aku tahu yang namanya jajan, tiap aku pengin beli jajanan, dia pasti membelikanku, 1 kantong penuh, dari uang saku yang dititipkan ibuku. Aku juga tahu, ibuku kadang khawatir, jajananku tidak terkontrol, es, kembang gula, dan makanan dengan pewarna makanan mencolok, ibuku melarangnya. Tidak baik untukku.
Mbok Yem suka bercerita tentang zaman penjajahan Belanda, Jepang. Bagaimana mereka lari-lari dikejar tentara Jepang. Dikumpulkan dan dulu semua harus bisa menyanyi lagu Jepang. Aku sampai sekarang masih ingat lagu yang diajarkannya.
‘Ka ta o na ra be de ni san too. Yoo mo ga ko yei ke ro no a. Kai kai sa nyo a ri ka tao.’
Sampai kelas 6 SD, setelah pulang sekolah aku dan adik2ku pasti main kesana, makan siang di sana, sambil menunggu ibuku pulang kerja. Dan yang aku ingat sampai sekarang, Mbah Kemis, suami Mbok Yem, tiap pulang dari pasar, suka membeli nasi bungkus, yang selalu kutunggu-tunggu. Rasanya enak sekali, dimakan rame-rame. Dalam kesederhanaannya, dia begitu tulus mengasuhku. Ya, aku bisa merasakan itu.
Mbok Yem, yang selalu menungguiku tiap aku sakit, memijit badanku. Meski kadang suka memarahiku, tapi aku tahu dia sayang banget ke aku. Yang suka nangis pada moment2 bahagiaku. Yang suka nangis tiap ketemu aku dan adik-adikku, kok sekarang sudah gedhe2, sepertinya belum lama kami dalam gendongannya.
Setelah aku SMP, SMA, dan kuliah semakin banyak kegiatanku. Semakin jarang aku mengunjunginya. Mbok Yem yang sering ke rumahku. Tapi jarang sekali bisa bertemu denganku.
Setelah aku kerja di luar kota, tiap aku pulang, Mbok Yem suka menangis tiap melihatku, mungkin dia benar-benar merindukanku. Sering datang ke rumah pengin menemuiku. Tapi seringkali tidak berhasil menemuiku. Aku pergi dan baru malam aku pulang. Jam 10.00 malam, tidak mungkin aku datang ke rumahnya, Mbok Yem terbiasa tidur dari jam 8.00 malam. Dan akhirnya sampai aku sudah harus kembali ke Bandung, aku belum sempat menemuinya, karena terburu-buru mengejar kereta.
Entah kenapa tiap pulang ke Yogya, waktu terasa kurang sekali, banyak hal yang belum sempat kulakukan, banyak mereka yang ingin kutemui belum sempat kutemui, banyak makanan yang ingin kucicipi belum sempat kucicipi. Ya, waktuku memang terbatas sekali. Paling lama aku di Yogya Cuma 4 hari. Ibu dan adik2ku suka berkomentar, Retno kan pulang untuk teman2nya. He he, maaf, aku janji lain kali akan lebih meluangkan waktu untuk keluargaku. Sampai2 dulu aku pernah dimarahi ibu, budeku yang jauh2 datang pengin ketemu aku, akunya yang ditunggu ga pulang2. Pas aku mpe rumah, budeku sudah pulang. Ibuku ga mau tau, “Pokoknya besok kamu harus  ke rumah Bude. Dia kangen.”
Paskah 2 tahun kemarin, liburku paling lama, 5 hari aku di Yogya. Kuusahakan untuk datang ke rumah mbok Yem, menengoknya. Ya, aku punya lumayan waktu di sana. Mbok Yem memelukku. Dia bilang,”Lha mbok gini, kan bisa ketemu. Orang katanya pulang kok tiap dicari ga ada.”
Mbok Yem sempet bilang, “Kapan kamu nikah? Aku kan pengin lihat kamu nikah. Aku kan pengin menggendong anak kamu. Nanti aku keburu mati.”
“Ya Mbok, nanti kalau sudah tiba waktunya ya,” kataku.
Dan ternyata itu pertemuan terakhirku dengannya.
17 Agustus 2006. Ada hari kejepit satu, jadi kalau aku minta izin 1 hari, aku bisa pulang ke Yogya selama 3 hari. Lumayan. Tadinya aku pengin pulang, tapi kuurungkan. Kebetulan temanku semasa SMA yang bekerja di Jakarta main ke Bandung. Jadi kuhabiskan waktuku jalan-jalan di Bandung dengannya.
Hari itu aku ga tahu apa yang salah dengan diriku. Seperti ga fokus. Dari pagi sudah berapa kali aku menjatuhkan barang yang kupegang, berapa kali aku hampir jatuh tersandung sesuatu. Dan akhirnya aku tahu jawabannya. Pukul 09.00 WIB aku dapat sms dari adikku. “Mbak, Mbok Yem meninggal. Jatuh di kamar mandi.”
Aku kaget, tapi belum terlalu bisa mencerna. Seperti tidak nyata. Ya, aku tidak bisa pulang, ikut mengantar Mbok Yem. Mendoakan dari sini. Mungkin waktu itu aku belum terlalu merasa sedih karena ada temanku, jadi rada tersamar. Aku seharian jalan-jalan ma temanku, sedikit kurang bersemangat.
Setelah temanku kembali ke Jakarta, aku baru bisa menangis. Begitu banyak penyesalan. Seperti tidak nyata Mbok Yem sudah tidak ada lagi. Aku belum membalas apa-apa. Mbok Yem begitu baik. Maaf Mbok Yem. Aku pernah berjanji untuk membelikan Mbok Yem sesuatu saat Lebaran nanti. Ternyata waktu mendahuluiku. Aku tidak akan pernah memiliki kesempatan itu. Kenapa dulu aku begitu tidak peduli pada Mbok Yem. Tidak pernah memberikan sedikit perhatian, sedikit kebahagiaan untuknya. Tidak pernah menunjukkan kalau aku sayang dia. Bahkan hal terakhir yang diinginkannya, melihatku menikah, menggendong anakku, aku juga belum bisa memenuhinya.
Ya, kenapa kita baru menyadari kalau kita benar-benar menyayangi seseorang saat kita menyadari kita sudah kehilangan dia. Dan itu sudah amat sangat terlambat. Adikku yang bungsu, dia juga menangis, dia sebelumnya berniat mau menengok Mbok Yem, tapi mau makan pagi dulu. Tapi ternyata dia juga sudah terlambat.
Beberapa hari aku menangis jika teringat Mbok Yem. Teringat semua budi baiknya kepadaku yang sama sekali belum kubalas. Nanti kalau aku mau minta pijit lagi, minta pijit siapa.
Omku yang di Jakarta, dia mengirim sms kepadaku, Sebuah lagu untuk Mbok Yem. Ya, Om-ku juga kehilangan Mbok Yem. Sebelum berita meninggalnya Mbok Yem, Omku bermimpi didatangi Mbok Yem, dia pamitan, terus terbang ke angkasa. Ternyata itu sebuah firasat.
Beberapa hari setelah kematian Mbok Yem, adikku yang paling kecil bermimpi didatangi Mbok Yem, Mbok Yem tersenyum memeluknya. Adikku yang paling gedhe juga bermimpi didatangi Mbok Yem, Mbok Yem mengajaknya bicara, menunjukkan kakinya terluka bekas jatuh. Sedangkan aku, aku bermimpi melihat Mbok Yem, tanpa kata, tanpa senyum, dia menatapku hampa, tanpa ekspresi, sepertinya aku banyak salah kepadanya. Ya, aku memang tidak bisa ikut mengantar kepergiannya. Maafkan aku ya Mbok. Waktu, adikku meneleponku menceritakan mimpinya, dia tanya “Kamu nangis ya?”. He he … aku memang menangis. Kenapa Mbok Yem mau tersenyum dan bicara ma adik2ku, sedang ke aku tidak sama sekali.
Cukup lama, aku berada dalam penyesalan waktu itu. Kata ayahku, mimpi kan hanya bunga tidur, kamu terbawa perasaanmu saja. Mbok Yem tidak apa-apa kok.
Dan pada akhirnya aku baru bisa merasa lega, setelah 40 hari kematian Mbok Yem, dia datang ke mimpiku. Dia bilang perlu sejumlah uang. Aku saat itu sedang tidak punya uang, tinggal beberapa rupiah. Kubilang, aku tidak punya uang, cuma ini yang ada, pakai saja. Mbok Yem menangis, memelukku sambil berkata,”Iya aku tahu, kamu memang lagi ga punya uang. Kamu lebih perlu. Kamu pakai saja.”
Pagi itu aku bangun dengan perasaan lega. Serasa sudah terbebas dari beban berat. Mbok Yem ternyata tidak marah padaku.
Sejak itu tiap pulang ke Yogya, aku dan adikku selalu menyempatkan nyekar ke makam Mbok Yem. “Mbok, ini aku datang. Menengokmu.”
Di samping makamnya kita saling bercerita mengenang Mbok Yem. Mbok Yem dulu paling takut sama enthung (kepompong ulat daun pisang). Kita dulu sering iseng menakut-nakutinya dengan enthung. Dia pasti marah sekali dan berlari-lari mengejar kita membawa penthungan. Kita berlari-lari sambil tertawa-tawa senang, berhasil mengganggunya, dan Mbok Yem tidak pernah berhasil mengejar kita. Nakal sekali, iseng sama orangtua.
Di makam kita pada bercanda,”Mbok, kita ke sini bawain enthung.”
“Awas lho, nti didatangin pas tidur.”
Mbok Yem, semoga sekarang engkau sudah tenang di sisi-Nya. Tuhan yang akan membalas semua budi baikmu.
Ya, sejak itu, aku selalu takut terlambat lagi, didahului oleh waktu. Lakukan apa yang pengin kamu lakukan sebelum semuanya terlambat. Dan itu terulang lagi saat salah seorang nenekku yang paling tua meninggal. Nenek yang tiap kali aku dan adik2ku kesana akan merasa senang sekali, dan akan menangis begitu kita berpamitan. Ya, dia merasa kesepian. Lebaran tahun kemarin aku berniat mau mengunjunginya, sudah lama tidak ke sana. Dan ternyata Lebaran kemarin aku belum sempat ke sana, jadwalku begitu padat. Akhirnya, aku menyadari, aku kehilangan kesempatan lagi saat mendengar berita kematiannya tahun kemarin.
 Tiap Lebaran, begitu banyak acara dengan familiku, teman-temanku. Sampai2 teman SMA-ku yang pengin menghabiskan waktu di Yogya bersamaku sekalian reuni dengan teman SMA yang lain, aku cuma punya waktu sejenak dengannya, hingga reuni dengan teman SMA yang lain tidak jadi. Maaf ya, lain kali I promise, we’ll hold it. Much time for us.
Aku nggak mau kecolongan lagi. Setiap pulang meskipun sebentar kusempatkan mengunjungi mereka yang menyayangiku. Menyapa nenek dan kakek kandungku. Mengunjungi suami Mbok Yem. Aku ga mau menyesal lagi. Aku ga mau terlambat lagi. Karena aku tidak tahu kapan waktunya akan tiba. Setidaknya mereka tahu bahwa aku menyayangi mereka, peduli pada mereka. Ya, begitu juga beberapa saat yang lalu aku pernah merasa kesal dengan Ibuku, beberapa hari tidak menghubunginya, menanyakan kabarnya lewat adikku, takut Ibu masih marah padaku. Saat aku tahu, Ibu mau pergi ke Jawa Timur, ke Bromo dengan teman-temannya, aku sms Ibu. Aku ingin sudah berbaikan dengan Ibu sebelum keberangkatannya. Aku ga mau menyesal, ga mau terlambat lagi. Aku takut jika terjadi apa-apa dengan Ibu di saat aku belum berbaikan dengannya pasti akan sangat berat buatku. Yah, akhirnya pagi-pagi Ibu telepon, dia sudah ada di Puncak Bromo. Bagus sekali, katanya, tapi dingin banget.
Ya, lakukan apa yang pengin kamu lakukan, sebelum semuanya terlambat.

No comments:

Post a Comment