Wednesday, November 16, 2011

Ulasan tentang 'Hantu Aborsi'


Friday, September 12, 2008

Ni film sebenarnya kutonton sudah lama, sebulan yang lalu, sekarang sepertinya sudah jarang atau sudah ga ada lagi bioskop yg menayangkannya. Temanku ada yg heran, aku kok mau nonton film ini. He…. Habisnya penasaran, pengin lihat hantu anak kecilnya seserem apa. Akhirnya nonton dech. Bertiga nonton di Braga 21 ambil yg jam 17.00.
Biarpun temanku sepertinya ga tertarik untuk nonton film ini, dia pengin bgt diceritain bout film ini. Tapi berhubung kita ketemu cuma seminggu sekali itu pun dalam durasi terbatas, bisa ngobrol cuma sesekali di sela2 latihan, akhirnya cerita ga pernah bisa dimulai. Masih penasaran ya…. ? So…. Baca blog-ku aja ya, tapi secara global aja ya, aku males cerita detilnya.

Dan tyt antusiasme terhadap film ini kurang, so kita ga perlu antre beli tiket, biarpun datang sudah telat 15 menit, masih banyak bgt tempat kosong.
Menurutku film horror yg tidak seram tapi cenderung menyedihkan.
Cerita tentang sebuah keluarga muda, terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak mereka, anak perempuan kecil berambut panjang, cantik dengan mata bulat, sedikit cerewet, menyenangkan….. namanya Chacha. Chacha sudah bersekolah, tapi tidak jelas diceritakan, sepertinya masih TK, kalaupun SD sepertinya baru duduk di kelas I.

Keluarga itu baru saja menempati sebuah rumah baru. Rumah tua yang luas. Rumah itu memang auranya kurang bagus, bikin merinding, si Ibu seringkali mendapati Chacha ngobrol dan bercanda dengan seseorang. Seseorang yang tidak pernah dilihat sosoknya oleh si Ibu. Chacha memanggilnya kakak. Merasa ada yang tidak beres dengan rumahnya, akhirnya dipanggillah seorang paranormal, dan benar saja ada sesuatu dengan rumah itu. Chacha sempat kerasukan.

Suatu hari datang Ibu guru Chacha, katanya mau membuktikan kebenaran laporan tentang adanya kekerasan di rumah itu terhadap Chacha. Katanya laporan itu via telp dan fax. Dan si ibu guru mengambil kesimpulan ‘nothing happened with Chacha’.
Si Ibu Guru ini sedikit misterius. Pada akhirnya ayah-ibu Chacha menaruh curiga terhadap ibu Guru ini dan berusaha menyelidikinya dengan cara menelusuri alamatnya. Mereka mendapati si Ibu Guru mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kematiannya di depan mata mereka sendiri.

Ibu Chacha berhasil mengambil berkas2 yang dibawa Ibu Guru yang terlempar di bawah mobil, dan segera membawanya pergi. Berkas2 itu berupa hasil gambar seorang anak kecil, berlembar-lembar. Tapi mereka sama sekali belum menemukan titik terang. Apa maksud dari gambar2 itu. Masih begitu membingungkan.

Sampai akhirnya, coz ingin menyelamatkan Chacha, sang ayah sepakat dengan ibu untuk menjauhkan Chacha dari rumah, membawanya ke luar kota sebelum pk. 18.15, karena hantu anak kecil biasa muncul jam segitu. Ayah-ibu Chacha pengin memastikan, hantu itu sebenarnya cuma berniat mengganggu di rumah itu atau memang menginginkan Chacha. Dan hal yang tidak diinginkan terjadi. Dalam perjalanan, Chacha kerasukan. Karena takut dan cemas, di luar kota, di sebuah hutan, mobil yang dikendarai ayah Chacha mengalami kecelakaan dan saat si ayah sadar dari pingsannya, Chacha sudah raib entah ke mana.

Selama proses pencarian Chacha dengan dibantu pihak kepolisian, Ibu Chacha akhirnya mengerti maksud dari gambar2 anak kecil itu. Gambar sebuah rumah, kue ulang tahun, dan gambar sebuah keluarga : Mama, Papa, Chacha dan Cinta berikut sederet angka yang jika digabung, tgl hari itu, tgl ultah papa, ultah mama dan Chacha.
Barulah si Ibu memahami semua. Dia begitu shock, teringat aborsi yg pernah dilakukannya bertahun-tahun yg lalu, sewaktu mereka masih SMA. Dulu mereka pernah berangan-angan jika mempunyai seorang anak kecil akan mereka beri nama Cinta. Dan Cinta, barangkali anak yg tidak pernah punya kesempatan untuk menghirup udara bebas itu, yang telah mereka paksa keluar sebelum waktunya.
Gambar rumah itu, si Ibu ingat, gambar rumah tempat mereka dulu melakukan aborsi.
Dan akhirnya si ibu memutuskan pergi ke sana.

Ternyata, Cinta, si hantu kecil, memang anak perempuan yang dulu mereka aborsi. Dia haus kasih sayang. Pengin punya sebuah keluarga. Pengin ulangtahunnya dirayakan sekeluarga. Hari itu tyt hari ulangtahunnya. Hari di mana dia dipaksa lahir ke dunia.
Mempertanyakan kenapa dia tidak diberi kesempatan hidup. Dan betapa sedihnya si Ibu. Cinta pengin merasakan dipeluk mama. Cinta merasa kesepian di sana, pengin ditemani.

Cerita ini berakhir tragis….dengan kematian sang Ibu….. demi melindungi Chacha, si Ibu meninggal kejatuhan kayu. Yah, Cinta yg menjatuhkan kayu itu. Dia pengin ditemani Mamanya, dia tidak mau sendirian. Si ayah, menjadi gila, dirawat di RS jiwa. Tidak tahu memang jiwanya terguncang akibat kehilangan istrinya atau memang dia bisa melihat dunia lain, sebuah keluarga….. Mama, Cinta dan Papa. Mereka bercanda bersama.
Dan yang tersisa Chacha, dia korban dari ini semua. Tinggal dia sendiri. Menangis sendirian di atas pusara Mama dan Kak Cinta. Harus menapak hari depan sendirian, tanpa sebuah keluarga yang lengkap.

Yah, pelajaran berharga buat kita2. Jangan melakukan aborsi. Jangan sampai merenggut hak hidup dari makhluk tak berdosa. Meskipun kehadirannya tak diinginkan, dia juga memiliki hak untuk hidup, hak untuk tumbuh, hak untuk dicintai dan mencintai.
So….. buat mereka yang berniat mau melakukan aborsi…. dan buat cowok yang tidak mau bertanggungjawab …. memaksa ceweknya untuk melakukan aborsi….Film ini recommended bgt.
Paksalah dia nonton… biar mengurungkan niatnya.

Sebenarnya tidak menyeramkan film ini, tapi kondisi bioskop yang sepi, banyak bangku yang kosong, mana sebelah kiriku kosong, memaksaku untuk berkali-kali menengok ke kiri, takutnya tiba-tiba ada seorang anak kecil berambut panjang bergaun putih tiba2 ada di sana, menatapku. He he he…… ngaco……

Sehabis nonton ini, kita jadi sebentar2 menyanyikan lagu ‘Bunda’-nya Melly Goeslaw  yang merupakan OST film ini. Mana koorku beberapa kali tugas manten juga menyanyikan lagu ini.

BUNDA

Kubuka album biru, penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang, tentang riwayatmu

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang
Nada-nada yang indah s’lalu terurai darimu
Tangisan nakal dari bibirku
Tak’kan jadi deritamu
Tangan halus dan suci t’lah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan

Oh Bunda ada dan tiada dirimu kan s’lalu ada di dalam hatiku


Dan aku terhenyak ketika salah seorang temanku melarangku untuk tidak menyanyikan lagu ini. Aku berjuang keras untuk tidak menyanyikan lagu ini kalau dia ada. Ya, sangat menyakitkan buat dia.
Ketika temanku yg bareng2 nonton denganku juga menyanyikan lagu ini, biarpun dilarang dia tetap menyanyi, karena seperti magnet, masih terbawa film yang habis ditonton, tidak bisa menhan diri untuk tidak menyanyikan lagu ini.
Dia baru berhaenti menyanyi ketika kubilang,’Dia jadi ingat mamanya!’ Baru temanku mau mengerti dan berjuang keras menahan diri untuk tidak menyanyi. ‘Maaf, tidak tahu!’ katanya.
Yah, temanku merindukan mamanya yang sudah tiada, sekarang dia memiliki mama baru yang banyak ketidakcocokan dengannya. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk hidup terpisah dengan mama barunya.
Yah, seorang Ibu, karena dialah kita ada. Karena dialah kita beroleh kesempatan untuk melihat dunia ini. Bagaimanapun keadaannya, bersyukurlah jika kita masih memiliki seorang Ibu. Kasihilah dia. Jangan sampai kita menyakiti hatinya. Tunjukkanlah kalau kita meyayanginya selagi masih ada kesempatan. Karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita masih bisa memeluknya.

Ibu….. jadi kangen ma Ibu.
Terimakasih atas semua. Ibu yang dulu memaksaku untuk berbahasa Jawa halus. Yang tidak pernah mau menjawabku jika aku tidak berbahasa Jawa halus. Yang membuatku berjuang ekstra mencari kata2 krama halus jika ingin berkomunikasi dengannya. Yah, Ibu pengin menanamkan sopan santun, nilai2 agar aku bisa lebih hormat pada orang yang lebih tua. Meskipun dengan berbahasa krama halus, dulu seakan membuat jarak antara aku dengan orangtuaku karena secara tidak langsung memang memberi banyak batasan coz aku jadi tidak bisa sembarangan berbicara, tapi itu banyak gunanya, akhirnya aku bisa berbahasa Jawa halus. Terasa saat pelajaran bahasa daerah di sekolah, sedikit bisa mengatrol nilai. Dan dalam bersosialisasi jika ada orangtua yang mengajakku ngobrol krama halus, sedikit2 aku bisa menjawabnya. So….. ga malu2in bgt.
He he he….. tapi itu dulu, sekarang bahasaku sudah terkontaminasi oleh alam semesta, dan Ibu tetap akan menjawab biarpun aku memakai bahasa yang tidak dimengertinya. ‘Kowe ki omong apa to?’ He he he…..

Dasar, katanya ga akan cerita detail, tyt dah mpe halaman ke-3.
Itulah aku… klo dah pengin nulis susah di-stop. Dan males klo suruh ngedit lg.
Wis ah!!!!!!!
Semoga mengerti apa yg kutulis.



No comments:

Post a Comment